Rabu, 24 April 2013

Cerita Singkat di Kota Jakarta-Surabaya


Minggu, 28 Mei 2012, pukul 19.00 Wib, Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tidak terasa kami telah  berada di Jakarta lagi. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalan ke Makassar malam itu. Tapi, karena keuangan salah satu temanku menipis, akhirnya kami memutuskan tidak langsung pulang ke Makassar dengan pesawat malam itu. Kami akan naik kapal laut menuju pelabuhan Makassar.

Sebenarnya, aku sudah ingin pulang ke Makassar malam itu karena besok aku ada pameran multimedia sebagai ujian finalku. Namun, aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka temanku, kami sama-sama datang, dan kami juga harus sama-sama pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama mereka menggunakan kapal laut.

Kak Arul menghubungi salah satu keluarganya yang tinggal di Jakarta. Akhirnya kami menuju tempat keluarga kak Arul dengan menumpangi bus Damri. Kami tidak tahu jalan di Jakarta, kami sempat tersesat. Lalu, kami kembali menggunakan taksi menuju rumah keluraga kak Arul. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di tempat itu. Kami menginap semalam di tempat itu.

Dan keesokan harinya, Senin 29 Mei 2012, om Kak Arul membelikan kami tiket perjalanan pulang ke Makassar. Dengan mengendarai mobil yang disewakan oleh om Kak Arul, kami menuju pelabuhan Tanjung Priuk. Kami pun menaiki kapal dan mencari tempat untuk mengistirahatkan diri.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya kapal pun berangkat. Butuh waktu sehari untuk sampai ke pelabuhan berikutnya. Berbagai kegiatan yang kami lakukan saat di kapal. Bahkan salah satu temanku membeli domino untuk mengisi waktu luang. Kami pun mulai berbaur dengan penumpang kapal yang lainnya. Kami berbagi cerita dan pengalaman. Kami pun mulai akrab satu sama lain.

Aku baru sadar, ternyata aku sendirian cewek di antara kami berlima. Tapi, jangan kawatir, mereka sudah menjadi keluarga. Aku justru senang bisa dijagain oleh keempat cowok sekaligus. Hahahah. Saat kami tidur pun, aku tidur di tengah-tengah mereka. Eitzt, jangan berpikir macam-macam dulu. Tetap ada pembatas antara tempat tidurku dengan mereka. Ehehehe.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya kami transit di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Karena kami belum pernah ke Surabaya, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Kami hanya berjalan di sekitar pelabuhan dan membeli persediaan makanan selama di perjalanan. Aku juga membeli pulsa, karena aku ingin menelpon dosenku agar diberi keringan berupa ujian susulan untuk ujian final. Berhubung aku belum bisa tiba hari Rabu besok.


Awalnya aku ragu untuk menelpon. Soalnya, aku paling jengkel dengan dosenku yang satu ini. Aku selalu mejadi bulan-belanannya di kelas. Soalnya aku mahasiswanya yang paling bandel. Aku sering kali membuatnya jengkel. Aku juga paling sering telat dan ribut kalau di kelas. Tapi, aku meberanikan diri untuk menelponnya. Suaraku terbata-bata saat mengucakan kaliamat pembuka. Aku mulai berbicara dengan beliau. Setelah percakapanku selesai, aku bingung dengan ucapannya. Intinya, dia tidak menerima permintaan izinku dan tidak akan meberiku ujian susulan.

Aku sempat berpikir, andai aku pulang malam itu, aku mungkin bisa mengikuti pameran multimedia di kampus. Tapi, aku berpikir, kalau nilaiku jelek, aku kan bisa mengulang tahun depan atau mengambil semester pendek (SP). Tapi, aku lebih memilih untuk meninggalkan kuliahku agar aku bisa menemani teman-temanku pulang ke Makassar dengan kapal laut. Bagiku, ini lebih mulia tentunya.

Setelah merasa puas berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, kami memutuskan untuk kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan salah satu penumpang kapal. Anak laki-laki dan kedua kakaknya itu ternyata telah berminggu-minggu terkatung-katung di pelabuhan ini. Mereka tidak punya uang lagi untuk membeli tiket pulang ke daerah mereka. Kami kasian melihat kedua kakaknya yang sedang hamil tua. Mereka butuh pertolongan kami. Tapi, kami juga bingung bagaimana cara kami membantu mereka. Ini bukan daerah kami. Keuangan kami pun menipis saat itu.

Akhirnya, kami dan anak-laki-laki itu pergi ke kantor polisi yang tidak jauh dari pelabuhan. Kami melaporkan kepada pihak polisi tentang keadaan mereka yang telah berminggu-minngu di pelabuhan ini. Setelah cukup lama bercerita dengan pihak kepolisiaan, akhirnya polisi mau membantu kami agar anak laki-laki dan kedua kakaknya itu bisa pulang ke kampung halaman mereka. Pihak kepolisian berjanji akan menghubungi dinas perhubungan agar mereka bisa diberikan tumpangan untuk kembali ke daerah mereka.

Kami pun kembali ke tempat itu dan mengangkat barang-barang mereka ke kantor polisi. Waw, barang-barang mereka lumayan banyak. Aku bahkan turun tangan membawakan barang-barang mereka. Tapi, tentunya kami ikhlas melakukan ini. Kami senang membantu. Inilah gunanya kami sebagai mahasiswa dan sebagai wartawan kampus. Tidak sia-sia kami melalukan perjalanan malam itu. Karena pada akhirnya kami bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan kami. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan kepada kami untuk menolong mereka. Bahagia rasanya bisa membantu mereka. Kami pun pamitan kepada mereka dan mereka sangat bahagia. Akhirnya mereka tidak terlantar lagi dan bisa kembali ke daerah mereka.

Kami pun memutuskan kembali ke kapal dan beristirahat. Teman kami Amir pasti sudah jenuh menunggu kami yang sudah sejak tadi pergi meninggalkan dia di kapal. Ya, kami memang selalu bergantian menjaga barang bawaan kami. Ketika ada yang pergi, harus ada satu orang yang menjaga barang. Jangan sampai ada yang mengambil barang-barang kami. Maaf ya Amir, sudah menunggu lama.

Malam itu, kami mendapat musibah. Dompet Kak Arul dicopet. Di dalam dompet itu ada sejumlah uang dan surat-surat berharga lainnya. Namun, kami hanya bisa mengikhlaskannya dan berharap akan mendapatkan gantinya kelak. Kak Arul pun mencoba mengikhlaskannya. Setelah kejadian itu, kami mulai berhati-hati. Kami trauma akan ada kejadian berikutnya.

Untuk melupakan kejadian itu, mereka kembali bermain domino hingga larut malam. Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka kerjakan selanjutnya. Aku sudah sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.

Saat aku bangun, aku pun segera ke kamar mandi. Soalnya aku ingin melihat matahari terbit. Aku dan salah satu temanku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kapal. Kami memanfaatkan untuk berfoto-foto dan mengabadikan momen selama berada di kapal. Ya, tentunya untuk menambah koleksi foto-foto kami. Eheheh.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya malam itu kami tiba juga di Pelabuhan Makassar. Perjalanan dari Jakarta ke Makassar menghabiskan waktu 3 hari 3 malam. Sungguh perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Ada hikmah di balik semua perjalanan ini. Tak sabar rasanya ingin bercerita dengan teman-teman di redaksi tentang pengalaman kami selama di Medan-Jakarta-Surabaya.

---Jane Jamlu---

*Sumber Foto : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...