![]() |
| Foto di depan kamar |
Entah
berapa kali aku harus merasakan kehilangan. Entah berapa kali lagi aku harus
merasakan kekecewaan. Dan entah berapa kali lagi aku harus merasakan kesedihan.
Seperti kata sahabatku, setiap pertemuan memang selalu menggandeng perpisangan.
Tinggalkan luka yang mendalam bagi siapa saja yang mengalaminya. Termasuk aku
yang kini merasakannya.
Di
saat pikirannku telah dikacaukan oleh tugas akhir akademikku, kini aku makin
terpuruk mendengar keputusanmu. Cukup sudah dua tahun yang lalu saat sahabatku
Anha yang juga memutuskan untuk pergi dari tempat ini, membuatku kehilangan dan
meneteskan air mata. Kali ini, hatiku kembali membuat perih, saat sekamarku
Ayu, memutuskan untuk pergi juga dari tempat ini. Kau ingin pergi, kau ingin
meninggalkanku. Aku tahu, cepat atau lambat semua ini pasti terjadi. Kau telah
melanggar janji yang telah kita sepakati empat tahun yang lalu saat kita sama-sama
diterima di tempat ini.
***
Sabtu
malam, kita kembali berkumpul di tempat yang telah menjadi istana kita sejak
menginjakkan kaki di kota Makassar, Asrama putri Pinrang. Malam ini adalah
rapat terakhir di kepengurusanku. Itu artinya, sebagai sekretaris, ini menjadi
rapat terakhir yang aku pimpin. Selain itu, malam ini kita akan membacakan laporan
pertanggungjawaban (LPj) selama setahun menjabat di aspuri sekaligus memilih
ketua aspuri baru untuk memimpin aspuri kedepannya.
Senyum
ceria terpancar dari wajah para penghuni. Sudah lama kami tak berkumpul seperti
ini. Memang hanyaagenda rapatlah yang mampu menyatukan kami. Karena memang kami
telah menyepakati bersama, bahwa semua penghuni wajib datang dalam rapat
aspuri. itulah yang mejadikan rapat aspuri begitu sakral meski dikemas dalam
suasana santai namun terkadang cukup membuat penghuni merasa tegang.
Perasaanku
campur aduk, aku ingin tersenyum bersama kalian, tapi aku juga bersedih, karena
aku tahu aku akan mendengarkn kaar buruk malam ini, meskipun di antara kalian
masih belum tahu apa yang menjadi kabar buruk itu.
![]() |
| Moment2 terakhir |
![]() |
| Bertengkar di depan umum |
Di
tengah-tengah berlangsungnya rapat, kamu masih saja mengajakku bercanda, tapi
aku tidak menanggapinya. Kamu bahkan masih membantuku memegang papan yang kita
gunakan untuk menghitung suara pemilihan. Tapi, lagi-lagi aku tidak
menanggapimu. Aku marah padamu. Aku kecewa teramat dalam. Kau melanggar
janjimu. Kau pergi sebelum semuanya berakhir. Padahal kamu telah berjanji.
Seharusnya
malam ini mejadi malam yang paling bahagia buat kita, tapi ternyata sebaliknya.
Kau menyampaikan kepada para penghuni bahwa kamu ingin pergi dari tempat ini.
Kamu ingin meninggalkan kami. Meskipun kamu masih tetap berada di kota ini,
tapi kita akan sulit berkumpul seperti dulu lagi. Kini kamu akan benar-benar
pergi.
Malam
itu, setelah rapat selesai, para penghuni bersalam-salaman sekaligus salam
perpisahan padamu. Namun, aku tak sekalipun menjabat tanganmu dan mengucapkan
salam padamu. Malam itu, kita tutup rapat dengan berfoto dengan semua penghuni. Aku tidak menyangka ini menjadi foto terakhir kita di kepengurusan ini. Coba pikir, adakah seorang sahabat yang rela mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya yang hendak
meninggalkannya? Jawabannya tidak ada.
Aku
tidak bisa melihatmu. Malam itu, seharusnya aku bisa menghabiskan malam
terakhirku bersamamu sebelum pergi, tapi aku tidak melakukakannya. Aku memilih
menghindar dan numpang tidur di kamar lain. Aku bahkan tidak membantu
beres-beres saat teman-teman yang lain sibuk membantumu. Maafkan aku, tapi aku
tidak sanggup melihatmu. Aku takut, aku tidak mampu menahan tangisku. Aku
mencoba melakukan aktivitas lain untuk menghilangkan pikiranku tentang rencana
kepergiannmu. Aku berharap ini hanyalah mimpi, dan semoga aku bisa segera
bangun dari mimpi ini.
***
Pagi
ini, aku sengaja bangun terlambat. Sebenarnya aku sudah bangun sejak tadi, aku
hanya pura-pura tidur. Berharap aku tidak melihatmu pergi hari ini. Sudah pukul
11.30, berharap kamu sudah pergi, aku pun bangun dari tempat tidur dan segera
mandi. Namun, ternyata aku menjumpaimu masih ada di kamar. Aku pikir kamu telah
pergi dari tadi, ternyata tidak. Mobil yang akan membawa barang-barangmu
ternyata terlambat datang lantaran terjebak macet. Hingga menunda kepergiaanmu.
Setalah
mandi dan berpakaian, aku kembali menghindar darimu. Aku kembali menumpang di
kamar lain. Karena aku tidak sanggup melihatmu pergi. Aku sibuk mengutak atik
laptoku, menulis apa yang sebenarnya tidak begitu penting aku tulis, menelpon
seseorang, online, smsan, mengulur-ngulur waktu hingga kau bear-benar pergi.
“Jane,
Jane, kamu dimana? Tidak pamitan dulu sama Ayu? Ayu sudah mau pergi,” teriak
salah satu penghuni. Taka ada jawaban dariku. Bahkan temanku bolak-balik kamar
hanya untuk memanggilku keluar untuk pamitan dengan Ayu. Tapi, au lagi-plagi
sibuk dengan mengotak-atik handphoneku. Tiba-tiba, Ayu masuk ke kamar dan
menemuiku. Dia memanggil namaku dan mengulurkan tangannya sebagai salam
perpisahan. “Ya”, kataku sambil menjabat tangannya tanpa menatapnya.
Aku
tidak sanggup menatap wajahnya, aku ahakan tidak bangkit dari tidurku saat
menjabat tangannya. Maafkan aku saudariku. Bukannya aku tidak menghargaimu.
Tidakkah kau tahu, aku begitu kehilanganmu. Meski selama ini kita sering
bertengkar dan terlibat masalah. Hingga kita menjadi salah satu agenda dalam
rapat, tapi kita kembali disatukan dalam kebersamaan. Menjadi sekamar yang
paling kompak diantara penghuni kamar yang lainnya.
Kita
selalu menjadi pasangan yang paling seru dan paling ribut seantero aspuri. Bahkan kita sudah dijuluki sebagai “pasangan kekasih”. Sekarang tidak ada lagi pasangan Jane Jamlu Keren & Ayu Niestaright Manis. Tidak akan lagi acara jalan-jalan bareng ke Fly Over, tempat favorite kami makan ice cream sambil hunting cowok (sekalian). Tidak ada lagi kegiatan hunting dimana aku jadi fotografer dan dia jadi modelnya. Kangen suasana seperti itu lagi. terima kasih telah mengajarkanku menjadi gila foto selama ini. Tidak ada lagi teman setiaku begadang tiap malamnya. Tidak ada lagi teman tidurku yang kesiangan. Aku benar-benar kehilanganmu sobat.
![]() |
| Makan ice cream di Fly Over |
Kau
pernah berjanji kita akan terus bersama di tempat ini. Dan kita akan keluar
bersama saat kita mendapat gelar sarjana. Tapi, apa? Kau melanggarnya. Kau
mengingkarinya. Aku merasa dikecewakan oleh sahabatku sendiri. Terlau sakit dan
menyiksa batin. Aku ingin menangis, dadaku sesak. Bahkan saat menulis ini,
mataku berkaca-kaca. aku menahan tangisanku. Aku tidak ingin penghuni lain
melihatku bersedih apalagi menangis. Meskipun mereka sudah tahu pasti aku orang
pertama yang merasakan kesedihan meski aku mencoba menutupinya.
Maafkan
aku sahabat, beberapa hari ini mungkin aku tidak akan meresponmu lagi. Aku
mencoba melupakanmu sedikit demi sedikit. Aku pernah mengatakan padamu jauh
sebelum aku tahu bahwa kamu akan pergi, “Jika kamu pergi, jangan pernah temui
aku, jangan sms atau menelponku, jangan pernah memanggilku dan muncul di
hadapanku. Anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain,” ancamku.
Dan
karena kini kamu melanggarnya, maka semua perkataanku waktu itu, akan berlaku
hari ini. Aku akan mencoba melupakanmu, menghapus ingatanku tentangmu dan semua
kenangan yang pernah kita lewati bersama. Maafkan aku sobat, tapi kau telanjur
menyakiti hatiku. Ini begitu sakit, bahkan sulit untuk aku lupakan begitu saja.
Kau mengecewakannku. “I am sorry Niestaright”!
---JaneJamlu---
Sumber Foto : Hunting (bede) with Niestaright & Fly Over Lagi









