Minggu, 24 Maret 2013

Hang Out KMP UNM

Kerukunan Mahasiswa Pinrang Universitas Negeri Makassar (KMP UNM) menggelar acara tahunan yakni Hang Out 2012 KMP UNM. Kegiatan yang tiap tahunnya diadakan saat liburan akhir semester ganjil ini, selalu menjadi agenda paling penting bagi mahasiswa asal Pinrang ini.
Kegiatan ini akan digelar 23 Januari hingga 5 Februari mendatang yang akan berpusat di dua kecamatan di Kabupaten Pinrang yaitu Kecamatan Watang Sawitto dan Kecamatan Lembang.
Bertemaan  “ Teorotikus yang Berpraktek”, diharapkan bisa menjadi wujud dari pengembangan Tri darma perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat yakni masyarakat Pinrang. Hal tersebut diungkapkan langung oleh ketua panitia, Sutrisno Zulkifli. “Ini adalah wujud nyata kami terhadap masyarakat Pinrang. Saya berharap kegiatan ini juga bisa menjadi ajang silahturahmi bagi para mahasiswa Pinrang tentunya,” ujarnya.
Agenda acara yang akan digelar pada kegiatan ini beragam. Mulai dari sosialisasi dengan memperkenalkan UNM dan KMP UNM kepada pelajar SMA/MA/SMK se-Kabupaten Pinrang, Workshop Karya Tulis Ilmiah Remaja, Lomba Permainan Tradisional untuk masyarakat umum, Aplikasi Studi Mahasiswa yakni mahasiswa UNM bersedia mengajar di SMPN 3 Lembang  dan acara puncak Dies Natalis (Ulang Tahun) KMP UNM. (NJA)

Batas Kehidupan dengan Kematian Beda Tipis

Masih teringat jelas dalam benakku. Kejadian yang  akan sulit ku lupakan. Kejadian yang hampir membunuhku. Ya, hampir merenggut nyawaku. Sudah sembilan hari lamanya, tepatnya 16 Maret lalu dan kini aku baru sempat menuliskannya. Aku masih trauma dengan kejadian itu.  Aku sering bermimpi dan dihantui perasaan yang berusaha membuatku terkecik dalam tidurku.

Kejadian saat aku melakukan perjalan jauh menggunakan bus umum seorang diri (tanpa keluarga). Perjalanan dari  Kota Masamba (Luwu Utara) menuju Kota Pinrang. Perjalanan yang (biasanya) menempuh jarak 7 jam ini harus kami tempuh dengan waktu 12 jam lamanya. Kami (aku dan penumpang bus) mendapatkan musibah di tengah perjalanan. 

Bus tiba-tiba berhenti. Aku pikir bus berhenti untuk mengambil menumpang. Tapi,  ternyata bus berhenti karena ada sedikit masalah pada bus. Suara  ledakan kecil terdengarjelas di kupingku. Aku memang duduk paling depan saat itu, tepatnya di samping kiri pak supir. Ledakan kecil itu sontak membuat penumpang panik dan ketakutan. Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis dan ada juga yang langsung lompat seketika dari bus.

Suasana panik menyelimuti bus. Asap pun mengepul di dalam bus. Semua penumpang berlalri dengan perasaan  yang bercampur aduk. Aku yang pertama kali mendengar ledakan itu, tapi justru aku yang paling terakhir turun dari bus. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku berpikir akan mati. Aku berpikir bahwa hidupku akan berakhir dalam bus ini. Aku pun turun dengan pelan. Perasaanku campur aduk dan  sulit aku jelaskan. Jantungku berdegup kencang, paru-paruku sesak, kakiku gemetaran, hingga membuatku melangkah sangat pelan. 

Asap dalam mobil masih mengepul. Percikan api kecil sempat  terlihat tepat di samping tempat dudukku tadi.   Semua menajuh dari mobil. Begitupun aku. Pak supir mencoba menenangkan  penumpang. "Tenang, bus ini takkan meledak, cuma radiatornya saja yang bermasalah, mesin hanya perlu didinginkan" kata pak supir mencoba menenangkan kami. Meskipun demikian, para penumpang masih saja takut. Setelah dua jam lamanya, dan pak supir merasa mesinnya sudah bagus. Dan kami disuruh untuk kembali naik ke bus. tapi, mash banyak penumpang yang enggan untuk naik lantaran masih mengingat kejadian tersebut.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku memutuskan untuk pindah tempat duduk. Aku masih truma dnegan kejadian tersebut. Apalagi, ledakan itu terdengar jelas di telingaku. Saat itu, aku ikhlas menerima apa saja yang  akan terjadi padaku. Walau aku harus mati, semoga aku bisa mati degan tenang. Aku tahu, aku merasakan kebesaran Tuhan yang teramat dalam. Aku tahu Tuhan masih menginginkanku untuk hidup waktu itu. Dan akhirnya aku masih hidup hingga saat ini. I Miss You My God.

------Jane Jamlu-----



Nenek, Kau Buatku Menangis


Wawancara dengan Nenek Ida salah satu pengemis di Stasiun Kereta Api Medan Sumatera Utara 

Wajahnya tak lagi sebening dulu. Garis-garis kerutan membalut tubuhnya yang kering. Tulang-tulangnya yang keropos termakan usia. Rambutnya yang putih kian bertambah. Kian hari kian tak terawat. Teriknya matahari seakan membakar tubuhnya yang tua rentah yang sedang duduk sambil menjulurkan tangannya di atas  jembatan stasiun kereta api kota seribu marga tersebut.

Ribuan kendaraan melintas di depan stasiun kereta api kota Medan. Lalu lintas pun kembali padat. Bangunan-bangunan megah menjulang tinggi bak pencakar langit di sekeliling stasiun. Penumpang mulai memadati stasiun. Kereta-kereta api mulai berjejeran. Di tengah keramaian itu, pandanganku tertujuh pada sosok nenek yang sedang duduk di jembatan dekat stasiun tersebut.

Kendaraan yang lalu lalang melewati jembatan, tak membuat sang nenek merasa takut. Dengan sejuta tanda tanya besar di kepalaku. Aku melangkah mendekati sang nenek. Dia tersenyum padaku. Matanya yang sudah termakan usia, masih mampu menatap wajahku yang juga tersenyum padanya. “Nenek, namanya siapa?,” sapaku lembut. “Idah,” jawabnya lemah.

Tetesan keringat mulai membasahi bajunya yang tipis tak berwarna. Kakinya yang terluka dan terbakar oleh panasnya aspal jembatan tak membuatnya terganggu. Saat itu aku memintanya tuk bercerita. Sang nenek pun mencurahkan isi hatinya yang hidup sebatang kara di kota itu.

Di pinggiran jembatan aku mendengarkan curahan hati sang nenek. Panasnya matahari membuatku gerah tapi tidak untuk sang nenek. Waktu itu, jam masih menunjukkan pukul 11.00 Wib. Dalam ceritanya, nenek mengatakan bahwa dia sudah lama menjalani hidupnya menjadi seorang pengemis. Keadaanlah yang membuat sang nenek melakukan perbuatan yang hina di mata Tuhan ini. “Nenek malu terus menerus mengemis, tapi nenek lapar, nenek ingin makan nak, hanya ini yang bisa nenek lakukan,” ucapnya sambil menangis.

Ketika matahari sudah setinggi badan orang dewasa, sang nenek udah beranjak menuju jembatan dekat stasiun ini. Dengan menempuh waktu kurang lebih 20 menit dari daerah Sunggal, sang nenek memulai aktivitasnya. Nenek yang berdarah Medan ini sudah mengemis sejak dia ditinggal saudaranya ke negeri Jiran sekitar 18 tahun lalu. Nenek mengaku kesal dengan orang Batak yang telah memberi tumpangan yang justru malah menjadi musuh dalam selimut. Barang-barang dan harta berharga lain yang menjadi milik sang nenek dibawa kabur oleh orang Batak tersebut. Sejak itulah, derita demi derita menjadi sarapan harian nenek yang hidup sebatang kara.

Tapi, nenek tetap berjuang di sisa-sisa waktunya yang menurutnya tidak akan lama lagi. Mengemislah yang membuatnya bertahan hingga saat ini. Sang nenek terus menjulurkan tangannya yang lemah sampai maut yang menghentikannya. Ketika sedang ramai, nenek bisa mendapatkan uang yang lumayan untuk makannya beberapa hari. Tapi, kadang kala sang nenek pun tak mendapatkan sepeserpun. Sang nenek tetap bersabar menanti siapa saja yang berbaik hati untuk mengasihaninya. “Nenek sabar nak, nenek ga pernah ngeluh,” ucapnya.

Sering kali sang nenek ditegur oleh polisi setempat. Namun, teguran itu seakan angin lalu baginya. Untungnya, polisi pun mengerti dengan keadaannya. Sang polisi pun selalu mengingatkan sang nenek untuk menghentikan kegiatan nenek yang mengemis. Tapi, namanya orang tua yang sudah tua rentah, pasti sulit untuk mendengarkan kita.

Dalam penderitaan yang mengisi hidupnya, sang nenek berdoa agar sang Ilahi mencabut nyawanya. “Apa, apa, apa salah nenek? Apa nenek salah jika mengemis? Mengapa nenek harus tersiksa? Malaikat maut, Ambillah nyawa saya,” ucap sang nenek sambil menatap langit. Sang nenek memiliki harapan besar, ketika dia meninggal nanti, dia berharap ada yang bisa menemukan jazadnya dan menguburkannya dengan layak sesuai syariat Islam.

Mendengar suaranya yang bergetar, hatiku terasa sesak. Mataku berkaca-kaca. Ku coba untuk menahannya. Aku langsung teringat dengan nenekku yang sudah lama meninggal. Aku merindukannya. Di saat aku menjabat tangannya yang kasar, ku ucap salam perpisahan padanya. “Jaga diri nenek ya, maafkan saya jika sudah mengganggu nenek,” ucapku sambil melepas kacamata minusku. Aku pun meninggalkan sang nenek dan menuju ke tempat temanku berkumpul. Di perjalanan, air mata yang sejak tadi ku tahan, akhirnya mengalir tak terhentikan. Padahal aku sosok yang kuat. Namun, aku tidak malu untuk menangis. Karena aku tahu ini pantas untuk aku tangisi.

Mendengar cerita nenek, aku sempat kesal dengan pemerintah saat ini. Mereka tak memperhatikan rakyatnya yang miskin dan menderita. Seharusnya mereka memperhatikan kehidupan orang pinggiran yang sama sekali tak tersentuh oleh tangan-tangan sang pemegang kekuasaaan. Sungguh malang negeri ini. sungguh malang nasib sang nenek. Nek, kau memmbuatku menangis. Semoga kita bisa bisa bertemu lagi.




---Juara Feature Terbaik di Pelatihan Jurnalistik Nasional Almamter Teropong Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan----

---Jane Jamlu---

Minggu, 03 Maret 2013

Dapat Teman Baru

Hari ini hai Minggu. Semua orang juga tahu. Hari ini aku telat bangun lagi. Ya, ini memang kebiasaan burukku. Karena semalam aku begadang lagi. Aku baru tidur setelah online hingga adzan subuh berkumandang. Meskipun sebelumnya aku membaca buku sebagai penghantar tidurku. Ya, aku memang selalu telat bangun di hari libur. Aku menyebut hari Minggu sebagai hari tidur sedunia. Heheh..

Waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita. Aku bergegas mebersihkan tempat tidurku dan segera mandi. Soalnya hari ini aku punya janji dengan seseorang. Dia seniorku yang sudah aku anggap kakak angkatku. Sebenarnya banyak agenda hari ini, Aku juga dipanggil untuk acara makan kapurung dengan teman-teman penulis Makassar. Tapi, aku lebih memilih untuk pergi dengan seniorku ini. Karena memang dia orang pertama yang membuat janji denganku.

Setelah merasa cukup rapi, aku pun bergegas menuju redaksi. Berharap akan ada kendaraan yang akan aku pakai untuk jalan dengan seniorku ini. Dan ternyata memang ada. Aku dan dia berangkat menuju suatu cafe tempat ami janjian dengan teman-temannya. Kami sempat kesasar dan tdak tahu tempat kami akan menemui teman seniorku ini. beberapa menit berputar-putar, akhirnya kam menemukan tempat itu juga. Cafe Fly Over tempat yang kami tujuh. Letaknya di samping Fly Over di sebelah Pascasajana UMI. Tempatnya asyik dan menyenangkan.

"Hay kak, lama banget datangnya," sapa salah satu pengunjung di cafe itu. "Maaf, kami tadi kesasar jadinya lama," jabwab seniorku. Kami pun muai berkumpul dan mulai ngobrol. Awalnya aku hanya diam dan tak tahu arah pembicaraan mereka. Ya, aku kan hanya diajak sama seniorku tadi. Ternyata mereka berlima (Kak Revo, Akbar, Faridah, Fitri, Dan Ria) adalah anak Jirokz Sulsel (fans club). Dan seniorku juga adalah salah satu dari mereka. 

Aku baru tahu ternyata mereka membicarakan mengenai Jirokz Sulsel. Ya, mereka asyik membicarakan sesuatu yang bukan menjadi kepentinganku. Karena aku memang tidak fanatic dengan salah satu band. Aku suka lagu-lagunya saja. Aku suga suka lagu Jirokz. Seelah beberapa lama mereka bicara, arah pembicaraan pun berubah. 

Kak Revo yang merupakan ketua dari fans club itu mulai tertarik dengan pembicaraan denganku. Suasana menjadi sedikit lebih santai. Kami mulai makin akrab satu sama lain. Yang tadinya aku hanya datang untuk menemani seniorku tadi, mulai sedikit berbicara daa pertemuan itu. Dan akhirnya kami bertujuh bisa salaing mengenal satu sama lain. Ya, meskipun aku tidak bergabung dengan fans club mereka. Tapi, aku senang bisa mengenal mereka. Mereka asyik diajaka ngobrol. Mereka juga gokil. Thanks ya untuk hari ini. Akhirnya dapat teman baru lagi.

_Jane Jamlu_

Sabtu, 02 Maret 2013

Berusaha Melupakanmu

Masa kau tidak mengerti
bahwa aku ingin menyamaikan sesuatu
Kau pergi tanpa aku
Dan aku tidak tahu tentang apa yang kau lakukan
dan kapan dirimu akan kembali.

Mengapa kau juga menyuruhku untuk pergi
pergi meninggalkan kenangan ini
meninggalkan persahabatan ini
meninggalkan semua kisah kita.

Baiklah, aku akan pergi seperti perintahmu
Aku akan segera melupakanmu
mengahpus memori tentangmu
Itu karena, aku tidak punya pilihan lain.

Maafkanlah Aku

Telah berulang kali aku meminta
Telah sekian kali aku memohon
Padamu oh sahabatku
Maafkanlah diriku ini...

Entah apa yang harus aku lakukan
Untukmu kawan
Untukmu kawan

Maafkanlah aku
Maafkanlah diriku yang selalu
Melukai hatimu...

Ku ingin kembali
bersamamu
bersamamu
bersamamu..

Ku ingin kau selalu
di dekatku
Menemaniku
hingga ajalku menjemput...

Jumat, 01 Maret 2013

Sanggupkah Aku bertahan?

Lima puluh satu hari sejak percakapan malam itu. Sudah cukup lama rupanya. Rasanya begitu meresahkan. Kata mojjo bagi sebagian orang mungkin masih sanga asing. tapi, dia sudah mengerti benar satu kata yang aku katakan padanya. Ini adalah kali kedua aku mojjo dengannya. 

Pertama, waktu menjelang pergantian usiaku. Saat itu, aku mengatakan kecewa padanya karena dia tidak begitu suka dengan ole-ole yang aku kasih ke dia waktu temanku ke Medan beberapa waktu lalu. "Mengapa harus warna ungu," komentarnya di salah saru status di facebook. Aku bilang padanya bahwa aku kecewa karena dia tdak menyukai pemberianku. 

Dia mencoa menghubungiku lewat sms dan telepon bahkan lewat jejaring sosial. Tapi, aku tidak meresponnya. Aku justru mengabaikannya. Dia begitu putus asa. Aku juga merasa kasian padanya. Tapi, aku punya rencana di baik itu semua. Hingga akhirnya aku mengirim pesan di inbox fb nya dan mulai menapanya. Dia ampak senang sekai. Aku pun merasakan itu. Kangen rasanya becanda dengan dia lagi. Aku berhara ini yang pertama dan terakhir aku mengerjainya.

Kedua, saat percakapa malam itu tepatnya 11 Januari 2013. Aku menelponnya dan membicarakan sesuatu yang aneh dan sulit dia pahami. Aku menyuruhnya pergi dari hidupku. Aku tidak ingin dia begitu dekat. Aku takut sulit untuk melupaknnya kelak. karena aku pernah mengalami hal seperti ini. Di saat aku begitu dengan dengan sahabatku, dia jutru pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin ini terulang lagi. Sebelum aku terlalu dekat, aku memintanya untuk pergi.

Awalnya egit berat menyuruhnya pergi, tapi aku memaksanya dan mengatakan hal konyol yang pernah aku lakukan dan katakan selama ini.  Ini adaah cara satu-satunya agar dia bisa melepasku. Dia tidak percaya dengan perkataanku waktu itu. Namun aku menyakinkannya. Dan akhirnya, dia benar-benar pergi. Entah sampai kapan. Tapi, mungkin untuk watktu yang lama. Atau mungkin selamanya.

Benar-benar serasa ada yang hilang dari raaku saat kepergiaannya. Aku kehilangan teman ngobrol. Aku kehilangan teman yang unik. Aku kehilangan sosok yang selalu menenangkanku di kala aku sakit. Memang sulit melupakan sesuatu yang dulunya dekat dengan kita. Tapi, ini sudah menjadi keputusanku. Aku yakin, aku bisa berteman dengannya lagi suatu saat nanti. Itupun kalau dia mau memafkanku.

Kini aku hanya bisa bercerita dengan teman sekaligus sepupuku yang usil itu. Awalnya aku tidak mamu menceritaan ini padanya, tai dia ngotot ingin tahu. Dengan terpaksa aku bercerita padanya tentang sahabatku ini. Dia sangat menyayangkan kenaa hubungan kami harus berakhir seperti ini. "Mr.A" berjanji padaku akan mencoba mendamaikan kami lagi seperti dulu. Terserah dia mau berbuat apa. Yang jelas, saat ini aku belum bisa menyapa sahabatku itu. Aku butuh waktu. Biarkan waktu menjawabnya. 

Meski aku merasakan kesepian yang teramat dalam. Aku harus mampu menahannya. Aku masih bisa melihatnya, aku masih bisa dekat dengannya, aku masih bisa merasakan dia ada di sini, meski dengan cara yang aku pun tak mengerti.

Pil Penenang dalam Sakitku

Sejak rasa sakit itu tertanam di dadaku beberapa buan ini, sulit bagiku untuk bisa menahannya. Aku tersiksa. Begitu menyakitkan. Tiap malam, di saat teman-temanku mulai nyenyak dalam tidur mereka, aku masih tetap dalam keadaannku yang mencoba menghilangkan rasa yang sungguh membuatku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku hanya bisa menahannya. Dan itu memakan waktu lama. Aku kesakitan. Sulit bernapas. Aku berusaha menarik napas panjang untuk menenangkan  diri. Tapi, rasanya sakit. Dadaku sesak. Rasa terbakar di paru-paru. Rasa sesak dan kehabisan napas. Sungguh meelahkan bagiku. Terus menahan hingga pagi datang. Hanya itu yang bisa ku lakukan setiap dai datang mengusik tidurku.

Aku tidak tahu penyakit apa ini. Aku juga tidak ingin mengetahuinya. Karena itu hanya akan menambah beban pikiranku saja. Aku juga tidak suka degan suasana rumah sakit. Makanya aku mengurungkan niat untuk memeriksakannya.

Aku teringat dengan pesan temanku yang selama ini selalu menenangkanku di kala aku sakit. "Jangan lupa banyak minum air putih Jane. Istirahat yang cukup, jangan begadang terus," pesannya padaku. Dia memang selalu mengkhawatirkanku. Aku juga bingung dengan sikapnya yang begitu peduli denganku. Padahal aku baru mengenalnya beberapa bulan lalu. Tapi, justru dia begitu dekat denganku. Seakan kami sudah lama kenal. Aku merindukannya.

Ya, memang hanya dia yang selalu ada di setiap sakit di dadaku kambuh. Aku hanya mengirim pesan singkat padanya. Dan dengan sekejab, dia akan menelponku dan membuatku tenang hingga aku terlelap. Perhatiannya membuatku merasa nyaman. Namun, tidak untuk saat ni. Sejak percakapaku malam itu, aku tak pernah lagi curhat padana. Komunikasi kita seakan terputus. Aku tak lagi dekat dengannya. 

Ini memang salahku sepenuhnya. Aku menyuruhnya pergi dan menjauh dariku. Aku tidak mberniat mengsirnya. Entah mengapa, aku hanya ingin dia tidak begitu dekat denganku. Aku tajut dia akan sulit melepaskanku nantinya. Begitupun aku.Aku hanya tidak ingin diabegitu mengkhawatirkanku. Aku benar-benar merindukannya.

_My Best Friend_



MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...