Jumat, 31 Mei 2013

Kenangan Senja

Hujan..
Hadir mengusik gundah lara
Menepis kenangan indah
Saat kita duduk bersama menikmati senja..

Bila kita tak lagi bersama
Akankah waku mempertemukan kita
Saat semuanya telah punah
Hanya tinggal kenangan senja...

Selasa, 21 Mei 2013

Siapa itu Jane Jamlu?



Nurjanna Jamaluddin, lahir di Pekkabata Pinrang pada tanggal 8 Desember 1990. Penulis adalah anak kedua dari lima bersaudara pasangan Jamaluddin Saturi dan Marhana Manni. Penulis mengawali pendidikan formal di TK Pertiwi pada tahun 1996. Dan melanjutkan sekolah di SD Negeri 46 Pinrang dan tamat pada tahun 2003. Kemudian pada tahun yang sama, penulis menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Duampanua Pinrang dan tamat pada  tahun 2006. 

Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Duampanua Pinrang dan tamat pada tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis diterima di Universitas Negeri Makassar di Fakultas Teknik melalui jalur undangan dan tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika. Selama menempuh perkuliahan penulis tercatat sebagai penerima beasiswa PPA. Selain itu penulis juga aktif mengikuti organisasi intra dan ekstra kampus. 

Penulis aktif dalam organisasi antara lain Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Makassar (LPPM) Profesi Universitas Negeri Makassar sebagai wartawan kampus, anggota Tim Robotron UNM, Kerukunan Mahasiswa Pinrang (KMP) UNM, Study Club Al-Huda, Ikatan Alumni SMA Negeri 1Duampanua, Kesatuan Pelajar MahasiswaPinrang (KPMP) Cabang Duampanua dan KPMP Pusat, Anggota di PACARITA (Persatuan Cendolers Makassar dan Sekitarnya), Owner di Jane Jamlu Holic (Fans Club), Anggota di Kelas Inspiratif Makassar, dan Penyala Makassar. Anggota di Kelas Esperanto Makassar. Selain itu juga bergabung di komunitas fotografi yaitu Infinity Fotography.

Selama menjadi mahasiswa Penulis juga aktif dalam mengikuti lomba-lomba karya tulis tingkat lokal dan nasional. Penulis pernah mendapat Juara Pertama Penulisan Feature Terbaik dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) Almamater se-Indonesia yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teropong Universitas Muhammadiyah Sumateta Utara Medan Mei 2012. Selain itu, penulis pernah menjadi Peserta Terbaik dalam ajang Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJMTD) yang diadakan oleh LPPM Profesi UNM tahun 2010.

Penulis yang lebih dikenal dengan nama pena Jane Jamlu ini punya segudang hobby. Selain suka jalan-jalan dia selalu mengabadikan momen itu dengan foto. Bisa dibilang penulis termasuk dalam  group aliansi Gila Foto alias "Gifo". Dan tak ketinggalan, penulis juga mendapatkan julukan Miss Upload oleh rekan-rekanya di redaksi. Setiap habis foto, cewek tomboi yang keren (bede) ini dengan secepat kilat langsung mengupload foto-fotonya. Miss Upload and Miss Update menjadi predikatnya saat ini.  

Jane Jamlu's Story & Nurjanna Jamaluddin's Story (Check This Out)

Senin, 20 Mei 2013

Sukses Berkarya Lewat Bisnis Online - Ulyah Saini



Perkembangan teknologi semakin pesat di kalangan masyarakat, maka internet menjadi kebutuhan sekunder bagi sebagian masyarakat bahkan menjalankan aktifitas bisnis melalui media online.  Melihat perkembangan itu, Ulyah Saini mencoba memanfaatkan media ini sebagai sarana mempromosikan bisnisnya.

Keinginannya untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya, perempuan kelahiran  Makassar ini, mencoba berbisnis melalui online. “Saya pilih berbisnis lewat online karena tidak butuh modal yang besar, hanya mengandalkan jasa internet saja kita menghasilkan uang. Apalagi saat ini dunia bisnis online lagi buming, makanya saya memanfaatkan peluang ini,” ungkapnya. Selain itu lanjut Uly, dirinya ingin mencari pekerjaan yang tidak mengganggu kuliahnya.

Di tahun 2010, bermodakan hanya Rp300 ribu, Uly mulai bisnisnya dengan membuat aksesoris dari bahan hamabeats. Dara kelahiran Ujungpandang, 3 Agustus 1991 ini mulai membuat cincin, kalung, gelang, gantungan kunci, gantungan handphone, dan lainnya. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika ini kemudian mempromosikan produknya lewat online yakni melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter dan blog pribadinya.

Tak disangka, bisnisnya mulai  berkembang, dan keuntungan yang terus bertambah, mahasiswa eksponen 09 ini mulai meninggalkan dunia aksesoris dan mulai merambah bisnis hijab dan pakaian muslim. “Saya melebarkan bisnis saya ke dunia hijab, sesuai dengan permintaan pasar, karena setiap saat selera fashion itu berubah-ubah,” ungkapnya.

Menurut mahasiswa yang punya cita-cita menjadi seorang dokter ini, produk yang ditawarkannya sesuai permintaan pasar. Selain itu, Uly juga menawarkan barang-barang yang relatif murah. Tak heran para pembelinya tersebar prestasi, seperti Juara II Lomba Mading se sulsel event “Perangi Global Warming Di Universitas Hasanuddin” dan Juara III  pidato Bahasa Inggris 2006 se-SMP Sulsel di Benteng Rotterdam. Mahasiswa yang juga punya hobby nonton film Naruto dan design fashion ini juga tercatat sebagai mahasiswa penerima beasiswa PPA dan juga aktif dalam berbagai organisasi seperti bergabung dalam Team Robotron Elektronika UNM dan Komunitas Hijabers Makassar. Selain itu, Ketua Umum Marching Band Saka Wira Kartika Makassar (2008) ini sering mendapat tawaran MC (Master of Ceremony) di berbagai acara formal luas baik di Makassar, Surabaya, Medan, Papua, Bali, Monokuari, Balik Papan, Pekan Baru, Padang, Bandung dan bahkan sampai ke luar negeri yakni di Malaysia.

Dunia bisnis memang tidak selamanya berjalan mulus. Ulyah mengaku pernah mengalami berbagai kendala ketika menjalankankan bisnisnya. Uly pernah ditipu pihak suplier. Barang yang sudah dipesan dan dibayar, tapi tidak sampai ke tangan. Selain itu, para custumer sering membuatnya jengkel lantaran sudah memesan dan barangnya sudah siap kirim tiba-tiba dibatalkan. “Barang-barang online harus kita habiskan, jika tidak maka tidak akan laku lagi, karena kita tahu setiap saat fashion itu berubah-ubah, sebelum ketinggalan zaman makanya harus segera terjual habis,” ujar Uly.

Selain menjalankan bisnis, anak pertama dari pasangan Saini Sennang dan Hj. Rasidah ini tergolong anak yang mandiri. Terbukti, di sela-sela kesibukan kuliahnya, dia meluangkan waktu untuk menjadi pemenyiar di salah satu  radio swasta di Makassar. 

Mahasiswa yang punya hobby foto ini juga mengaku, meski tidak mengetahui banyak dengan dunia fashion, tidak tahu menggambar dan desan, tetapi belajar otodidak tentang dunia fashion. “Walau saya tidak tahu desain, tetapi saya harus punya teste of fashion (selera) dan knowlegde of fashion (pengetahuan tentang fashion),” ungkapnya.

Dengan semangat yang luar biasa, empat tahun menjalankan bisnis ini, akhirnya  Uly yang juga punya hobby nonton film Naruto dan design fashion ini mampu menghasilkan keuntungan Rp3-5 Juta setiap bulannya.

Walaupun cita-citanya ingin punya butik sendiri belum kesampaian, namun dia tetap berharap impiannya bisa segera terwujud di kemudian hari. Uly berharap teman-temannya juga bisa seperti dia.

“Jangan hanya sekedar kuliah saja tetapi mampu memanfaatkan segala peluang yang ada di depan mata untuk mulai melakukan sesuatu yang berharga dan tentunya bisa menghasilkan uang yang bisa kamu nikmati,” pesan Uly.


Riwayat Pendidikan
1.      TK Islam Athirah Makassar 1995-1997
2.      Sekolah Dasar Negeri Mangkura II Makassar 1997-2003
3.      Sekolah Menengah Pertama Negeri II Makassar 2003-2006
4.      Sekolah Menengah Atas Kartika Wirabuana- I Makassar 2006-2009

Pengalaman Organisasi
1.      Pengurus OSIS SMP Negeri 2 Makassar
2.      Koordinator Acara OSIS SMA Kartika Wirabuana 1 Makassar
3.      Ketua Umum Marching Band Saka Wira Kartika Makassar
4.      Sekretaris Mading SMA Kartika Wirabuana 1 Makassar
5.      Anggota Team Robotron Elektronika UNM
6.      Anggota Komunitas Hijabers Makassar

Pengalaman Kerja
1.      Penyiar di PT Sonata Radio Makassar (2009 – 2010)
2.      Penyiar di PT Suara Angkasa Radio PLS FM (2012-Sekarang)
3.      MC (Master of Ceremony) di berbagai acara formal

Prestasi
1.      Juara II Lomba Mading se sulsel event “Perangi Global Warming Di Universitas Hasanuddin
2.      Juara III  pidato Bahasa Inggris 2006 se-SMP Sulsel di Benteng Rotterdam.
3.      Mahasiswa penerima beasiswa PPA.

 ---JaneJamlu---

Daengbo di Kota Daeng - Sabir (Pencetus Boneka Daengbo Pertama di Makassar)


BONEKA Danbo sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Boneka khas negeri matahari ini menjadi boneka yang populer di zaman serba modern ini. Selain di Jepang, di Makassar juga punya boneka yang lebih dikenal dengan nama Daengbo.

Boneka Daengbo khas Makassar ini pertama kali diperkenalkan oleh Sabir Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Makassar (FPsi UNM) dan ini satu-satunya di Makassar. Mungkin bagi sebagian sivitas akademika UNM, masih banyak yang belum mengenal sosok pria yang satu ini. namanya yang singkat dan sederhana menggambarkan pembawaan yang santun dan sederhana pula, seperti itulah yang tampak pada dirinya.

Mahasiswa kelahiran Takalar, 21 April 1989 ini punya segudang hobby yakni berorganisasi, membaca, menulis, dan lebih suka bermain musik biola. Anak dari pasangan Usman L dan Dunga Daeng ini juga memang tergolong anak yang sangat mandiri. Terbukti, di sela-sela kesibukan kuliahnya, dia masih meluangkan waktunya membuat usaha kecil-kecilan membuat boneka yang sekarang membuat dirinya dikenal oleh orang banyak. Berbicara soal prestasi, mahasiswa angkatan 2007 ini punya banyak pengalaman organisasi seperti  Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), mantan ketua Maperwa Fpsi dan pengagas beridirinya Komunitas Art Kota Daeng (Karaeng) di Fpsi.

Sabir Al Junaid saapan akrab teman-temannya mengawali karier membuat Boneka Daengbo karena keinginannya untuk membiayai hidup dan kuliahnya. “Saya tidak mungkin mengandalkan  uang dari orang tua saya dan beasiswa PPA yang saya dapatkan, untuk itulah saya mencari penghasilan tambahan untuk biaya hidup dan kuliah saya di Makassar,” ucap Sabir.

Saat itu pria asal takalar ini membuka suatu membuka facebook dan langsung melihat boneka yang menurutnya unik dan lucu. Dari salah satu foto profil yang dilihatnya, lantaran penasaran, Sabir kemudian mencari tahu apa nama boneka tersebut. Dan dia pun tertarik untuk membuatnya.

“Awalnya sulit untuk membuatnya karena harus menyesuaikan dengan ukurannya, namun lama-kelamaan ini sangat mudah dan saya bisa menyelesaikan 5-10 boneka per hari seorang diri,” ungkapnya tersenyum. Dengan menggunakan modal awal Tiga Ratus Ribu Rupiah untuk 1000 boneka Daengbo, Sabir memulai karirnya. Sabir memanfaatkan sisa-sisa balok kayu dari usaha meabel yang ada di belakang rumahnya. Dia mencoba satu persatu hingga mendapatkan ukuran yang pas. Semuanya dikerjakan seorang diri. Dan alhasil, dia mampu menyelesaikan boneka Daengbo tersebut.

Meskipun usaha boneka Daengbo baru berjalan sekitar 4 bulan lebih, tapi penghasilannya sudah sangat memuaskan. Banyak yang menyukai karyanya karena unik dan juga relatif murah dari boneka Danbo buatan Jepang. Hingga kini boneka buatannya sudah terjual sebanyak 200 buah lebih. Pemasarannya pun sudah sampai di luar Makassar yakni di Palopo dan Kendari dengan memanfaatkan jejaring sosial facebook dan bantuan teman-temannya. Bahkan ada pembeli yang sudah mengole-olekan boneka Daengbo buatan Sabir hingga ke Amerika.

Tapi, di tengah kelancaran usahanya, Sabir merasa kewalahan karena dia hanya mengerjakan usaha ini seorang diri. Sabir sangat membutuhkan orang yang bisa membantunya membuat boneka, namun hingga kini dia belum mendapatkan orang yang benar-benar bisa membantunya. “Saya sangat butuh orang yang kreatif dan bisa membantu saya membuat boneka Daengbo,” harapnya.

Mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan musik biolanya setelah menyelesaikan studinya ini, berpesan agar para enterprenuer/pengusaha muda yang ingin membuat usaha harus jeli melihat pasar, kreatif, memanfaatkan keadaan, tapi jangan sampai usaha tersebut mengganggu kuliah.

“Takunjunga bangung turuk, nakugincirik gulingku, ku alleanna tallanga na toalia, aku lebih baik mati ditelan ombak, daripada harus mundur ke belakang”.

Perkenalkan Budaya Lewat Ajang Putri Pariwisata - Yunita Haruna (Putri Pariwisata Sulawesi Selatan 2011)


“Menjadi diri sendiri dan tidak pernah menyerah”. Demikian motto hidup dari Yunita Haruna mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM). Gadis kelahiran Ujung Pandang, 5 Oktober 1990 ini juga punya cita-cita menjadi orang yang sukses. Dan kini dia berhasil membuktikan kesuksesannya dengan menjadi Pemenang Putri Pariwisata Sulawesi Selatan 2011.

Anak tunggal dari pasangan Drs.H.Haruna HL, M.Pd dan Hj.Yuniar SH ini tergolong anak yang mandiri. Di sela-sela kesibukan kuliahnya, dia masih meluangkan waktunya menjadi penyiar radio salah satu radio swasta di Makassar.  Berbicara soal prestasi, mahasiswa yang punya hobby modeling ini telah mengukir banyak prestasi. Di antaranya, pernah meraih Juara Harapan II Putri Indonesia Sulawesi Selatan 2010, Juara Top Model Remaja Fajar 2011 dan saat ini menyandang predikat sebagai Putri Pariwisata Sulawesi Selatan 2011.

Karena ketertarikan dan kecintaannya terhadap tempat-tempat wisata, mahasiswa berdarah Soppeng ini memutuskan untuk mengikuti ajang bergensi menjadi Putri Pariwisata. Dan Yunita berhasil memenangkan ajang tersebut. “Dalam diri saya ada kecintaan terhadap kepariwisataan, kebudayaan dan kearifan lokal Sul-Sel, maka saya mencoba ikut ajang Putri Pariwisata, dan alhamdulillah saya berhasil,” ungkap anak dari dosen Fakultas Teknik ini.

Menurut Yunita, potensi pariwisata kota Makassar sudah lengkap, hanya perlu pembenahan dengan sarana dan prasarana dan butuh sedikit sentuhan Sumber Daya Manusia (SDM). Yunita berharap dia bisa mengharumkan nama Sul-Sel dengan menjadi pemenang Putri Pariwisata Indonesia 2011 yang akan digelar 24 September di Convention Center Jakarta.

Yunita juga ingin memperkenalkan dialeg Makassar pada putri-putri dari daerah lain di Indonesia. Perempuan berparas cantik ini berpesan agar rekan-rekan mahasiswa untuk tidak melupakan bahasa daerah mereka. Selain itu, Yunita ingin menjadikan dialeg Makassar sebagai trend di luar Sulawesi Selatan.

Walaupun tidak terpilih sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2011, namun Yunita tetap bangga bisa menjadi Purti Pariwisata dari Sul-Sel dan berdiri di panggung kebanggaan malam itu dengan putri pariwisata dari beberapa daerah di Indonesia.


BIODATA
Nama              : Yunita Haruna
Lahir              : Ujung Pandang, 5 Oktober 1990
Pendidkan      : SD Kumala Bayangkari Makassar (1997)
                          SMP Kumala Bayangkari Makassar (2003)
                          SMA Cokroaminoto Tamalanrea Makassar (2006)
Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (2009)





---JaneJamlu---

PILIH JADI GURU DARIPADA JADI ATLET


Drs. Andi Mas Jaya AM, M.Pd. (Lektor Kepala FIK UNM)


Menjadi tenaga pendidik adalah cita-citanya sejak kecil. Meski lebih dikenal sebagai atlet yang mengusai hampir semua cabang olahraga darat, namun dia tidak ingin menjadi seorang atlet seperti teman-temannya kebanyakan. Keinginannya untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki tetap menjadi tujuan utama. Dialah Andi Mas Jaya AM, dosen Penjaskesrek  Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Makassar (UNM).

“Saya masuk di UNM artinya saya memang dilahirkan dan bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Saya tidak pernah membayangkan mejadi seorang atlet meski saya punya banyak prestasi di bidang olahraga,” ungkap pria asal Bone ini.

Andi menuturkan, semasa kecilnya dia hanya iseng-iseng olahraga dan akhirnya ayah dari enam anak ini dipanggil mengikuti pertandingan. Hasilnya, banyak prestasi yang berhasil dia bawa pulang. Sejak saat itulah, dosen kelahiran Bone, 21 April 1960 ini mulai berlatih dan menguasai banyak cabang olahraga seperti tenis meja, tenis lapangan, bakset, lompat galah, volly, lompat jangkit, dan olahraga darat lainnya. Berbekal semangat juang yang tinggi, Andi mengikuti semua cabang olahraga yang ada. Bekal itulah menjadi modal baginya memenangkan banyak pertandingan dan perlombaan. “Saya tidak haus bertanding, semua cabang saya ikuti, bukan hanya satu tetapi semuanya, selama saya masih bisa, saya akan mencoba,” terangnya.

Kesenangannya dengan dunia olahraga, membawa anak dari pasangan Andi Mangawiang dan Andi Sitti Sawiyah ini mencicipi berbagai perlombaan dan pertandingan, Baik di tingkat nasional maupun internasional. Tahun 1982 anak kedua dari enam bersaudara ini ke Jakarta ikut kejuaraan nasional. Selanjutnya dia mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON), Kejuaraan nasional di Surabaya, sekaligus pemilihan atlet di Surabaya untuk jangka panjang selama enam bulan. “Saya bersama keempat teman lainnya dipilih mewakili Sulsel untuk persiapan Sea Games di Singapura. Dan alhamdulillah  kami bisa membawa medali perunggu di cabang olahraga Hokky,” ungkapnya bangga.

Karena punya bakat yang luar biasa, para dosen dan mahasiswa di FIK UNM megakui kehebatannya menggunakan kedua tangannya (kanan dan kiri) ketika bermain tenis meja. Pelatih Kepala Cabang Atlet Se-Sulsel di Pusat Pelatihan Pelajar (PPLP) Sudiang ini membuktikan bisamenggunakan kedua tangannya dalam bermain tenis meja.

“Saya bisa mengganti kapan saya menggunakan tangan kanan ataupun tangan kiri. Ini cara saya mengecoh dan menciutkan mental lawan,” ungkapnya. Masih menurut dosen yang juga mengajar mata kuliah anatomi ini, dia bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan anugerah yang luar bisa ini.

Meski terlahir dengan bakat luar biasa, namun dirinya tetap berkeinginan menjadi seorang guru atau dosen. Menurutnya, prestasi hanya bersifat sementara. Pendidikan jauh lebih penting dari segalanya. “Saya pernah dipanggil menjadi atlet nasional di Jakarta, tapi saya lebih memilih tetap di sini (Makassar,red) untuk melanjutkan pendidikan,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di UNM tahun 1985, Pelatih Pekan Olahraga Daerah (Porda) Sinjai Cabang Basket ini kemudian diangkat menjadi guru olahraga di SMAN 1 Sinjai Selatan. “Dari awal saya ingin menetap di sini (Makassar, red). Saya yakin prestasi saya akan lebih bagus kalau saya di Makassar. Saya sudah lama di daerah, pendidikan di daerah sangat minim, makanya saya ke Makassar untuk menambah ilmu,” ungkapnya.

Karena tekadnya ini, akhirnya tahun 2000 Andi memutuskan untuk kuliah di Pascasarjana UNM dan selesai di tahun 2002. Setelah mendapat gelar Magister Pendidikan, Andi langsung ditawari menjadi dosen oleh Anwar Pasau Dekan FIK UNM saat itu.

Andi Mas Jaya mengharapkan agar mahasiswa bisa mengikuti jejaknya bukan hanya berprestasi di lapangan dan juga di bangku pendidikan.


Pendidikan :   SDN 66 Sijelling (1966-1973)
                        SMPN 1 Watampone Kabupaten Bone (1973-1976)
                        SPG Jurusan IPA (1976-1980)
                        Jurusan Penjaskesrek (1980-1985)
                        S2 Pendidikan Jasmani dan Olahraga (2000-2002)

Jabatan :        Guru Olahraga di SMAN 1 Sinjai Selatan (1986-2002)
                        Lektor Kepala FIK UNM (2002-Sekarang)
                        Pelatih PORDA Sinjai Cabang Basket
                        Pelatih Kepala Cabang Atlet Se-Sulsel di Pusat Pelatihan Pelajar
(PPLP) Sudiang (2009-Sekarang)

Prestasi :         Juara I Tennis Meja di Enrekang (1979)
                        Juara I Basket Perguruan Tinggi Se-Sulsel (1980)
                        Juara II Volly (1981)
                        Juara III Sea Games di Singapura (1983)
                        Juara III Kejurnas Hokky di Suarabaya
                        Juara III PON X Cabang Hokky di Jakarta
                        Juara II Lompat Tinggi Perguruan Tinggi Se-Indonesia Timur
                        Juara III Lompat Jauh PORDA V di Bone
                        Juara I Lompat Tinggi Galah di PORDA Parepare (1989)
                        Juara I Lompat Jangkit di PORDA Parepare (1989)
                        Juara I Tennis Meja antar Korpi Kabupaten di Sinjai
                        Juara I Kejurnas Hokky Se-Indonesia.
                                              

---JaneJamlu---

Semangat Usaha Wanita Perkasa - Jamilah Halik (Cleaning Service Rektorat Lantai III)


Perjalanan hidupnya dia lalui dengan segudang profesi. Sejak lulus dari bangku SMA dia mulai bekerja di salah satu perusahaan meubel selama 13 tahun. Kemudian, mencoba bekerja sebagai cleaning service selama 4 tahun di salah satu rumah sakit terbesar di Makassar, bekerja di tempat pembuatan roti dan kecap, percetakan hingga akhirnya mendapat tawaran menjadi cleaning service di UNM sepuluh tahun lalu.

Tepat pukul 15.00 sore itu, di lantai tiga Gedung Rektorat UNM, penulis menemui seorang pegawai yang bekerja di tempat itu. Wanita itu bernama Jamilah Halik. Dia adalah salah satu cleaning service yang bekerja di tempat itu. Dari beberapa cleaning service yang bekerja di tempat itu, Mila sapaan akrab teman-temannya adalah cleaning service yang paling lama bekerja di rektorat. Sekitar 10 tahun silam anak dari pasangan Halik dan Bunga ini telah merasakan suka duka bekerja sebagai tukang bersih-bersih di gedung tersebut. Ia bisa dibilang sebagai wanita perkasa, lantaran pengalaman dan dedikasi kerja yang memuaskan.
Wanita kelahiran 27 Juni 1968 itu, sudah mencicipi banyak pengalaman kerja. Semenjak lulus dari bangku SMA, Mila bekerja sebagai buruh di perusahan meubel selama 13 tahun. Setahun setelahnya Mila pun mencoba pekerjaan lain yakni menjadi cleaning service di salah satu rumah sakit terbesar di Makassar. Pekerjaan itu dijalaninya selama 4 tahun. Selama bekerja di rumah sakit, Mila bahkan sering kali diminta untuk membantu dokter dalam proses persalinan.

Selain itu, Mila pun pernah bekerja di tempat pembuatan roti, lombok dan kecap. Mila juga pernah merasakan bekerja di salah satu percetakan. Semua dijalaninya dan dijadikannya sebagai pengalaman berharga baginya. Hingga akhirnya Mila mendapat tawaran untuk bekerja di UNM. “Saya senang bisa menjalani pekerjaan ini, dan  saya menikmatinya,” katanya dengan senyum khasnya.

Pukul 07.00 dengan menaiki angkutan kota “pete-pete”, Mila mulai menuju tempat kerjanya. Jarak dari rumahnya tidak terlalu jauh. Mila sering kali menjadi orang  yang paling pertama tiba di rektorat. Bahkan satpam yang bekerja di tempat itu sering kali dia telpon saat pintu rektorat belum terbuka. Mila juga sering kali menjadi orang terakhir yang pulang kerja. Apalagi jika ada kegiatan di rektorat hingga membuatnya harus pulang terlambat.

Mila memang sosok wanita yang tangguh. Dia begitu kuat. Dengan usianya yang hampir menginjak 45 tahun ini, dia masih mampu mengerjakan segudang pekerjaan. Tidak salah jika teman-temannya sering mengatakan bahwa Mila patut mendapatkan penghargaan.

Diantara semua pekerjaan yang pernah dia rasakan, bekerja di UNM lah yang paling dia senangi. Meski gaji yang di bawah rata-rata dan tidak sebanyak gaji yang didapatkan sebelumnya, tapi anak pertama dari empat bersaudara ini  tetap bersyukur bisa bekerja di UNM. Tentunya dia sangat mencintai pekerjaannnya yang sekarang ini. “Saya udah betah kerja di sini, saya sudah menyatu dengan suasana UNM, dan saya mencintai pekerjaaan saya yang sekarang ini,” ungkapnya.

Meski sudah sepuluh tahun bekerja di UNM, wanita berdarah Sinjai ini mengakui pernah merasakan rindu terhadap pekerjaannya saat bekerja di perusahaan meubel. “Saya rindu mengayam rotan, saya rindu membuat kursi lagi,” ungkapnya sambil menggerakkan-gerakkan tangannya seakan-akan  dia sedang mengayam sesuatu.

Mila sangat ingin mengayam lagi. Mila pernah punya keinginan untuk membuka usaha, namun karena kurangnya modal dan waktu hingga akhirnya dia  mengurungkan niatnya itu. Baginya pekerjaan yang dia jalani saat ini mungkin menjadi pekerjaan terakhirnya. Mila pun berharap suatu saat nanti dia juga bisa menjadi pegawai negeri seperti rekan-rekannya yang lain. “Semoga saya bisa secepatnya jadi pegawai negeri, supaya saya bisa membiayai semua keperluan keluarga saya,” harapnya.

---JaneJamlu---

Rencanakan Masa Mudamu - Prof. Dr. Sapto Haryoko, M. Pd.


Prof. Dr. Sapto Haryoko, M. Pd.
(Guru Besar FT UNM dan Rektor STMIK AKBA Makassar)


Dalam hidup selalu ada planning. Saya memiliki empat fase dalam hidup ini yang selalu menjadi planning saya dalam menjalani kehidupan. Fase mencari ilmu, memperbaiki ekonomi keluarga, pengabdian kepada lembaga dan fase menikmati hidup”.

Inilah yang menjadi prinsip pria kelahiran Yogyakarta, 27 Desember 1962. Bukan hanya terkenal sebagai dosen di kampus orange, pria yang mendapat gelar doktor pada usia yang termudah di usia 35 tahun ini juga pernah menjadi dosen dan mengajar 26 jenis mata kuliah di beberapa kampus di Indonesia. 

Dialah Sapto Haryoko. Dosen Fakultas Teknik sekaligus Guru Besar UNM ini, tercatat sebagai dosen paling produktif di UNM. Berbagai karya telah tercatat di pundaknya. Sekitar 30 karya ilmiah yang berhasil dia hasilkan sejak tahun 2007-2012. Ayah dari Aldila Gusta dan Berliana Rizki ini, juga sudah memiliki 5 buku atau bahan ajar. Bukan hanya itu, piagam penghargaan berhasil diraihnya seperti Dosen Teladan Tingkat Fakultas UNM Tahun 1994 dan mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Satya selama 20 tahun sejak tahun 2009.

Pria asal Yogyakarta ini juga merupakan konsultan di beberapa bidang kegiatan. Konsultan Devisi Diklat Telkom Kandatel Ujung Pandang, Konsultan Ke-Deputi-an Litbang Lembaga Adminstrasi Negara Jakarta, Konsultan Devisi Diklat BPPT Jakarta, Konsultan Pengembangan Personalia Universitas Gunadharma Jakarta, Konsultan Freelance DPR Pusat Komisi X (Komisi Bidang Pendidikan) Jakarta, Konsultan “Second Junior Secondary Education Project” Departemen Pendidikan Nasional, Konsultan Direktorat PLP Ditjen Mandikdasmen Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, dan Konsultan Freelance (on call) Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan,  BPSMP & PPMP  Jakarta.

Meski Sapto lahir di Jawa, tapi dia memiliki niat yang begitu besar untuk memajukan pendidikan di seluruh Indonesia termasuk di Makassar. “Karena nilai saya bagus, saya mendapat kesempatan untuk mengabdikan diri di luar. Dan saya memilih Makassar yang relatif dekat denganYogyakarta sebagai tempat berbagi ilmu. Saat itu, UNM sangat membutuhkan tenaga pengajar. Makanya saya mengabdikan diri di UNM sejak tahun 1987,” ungkapnya. Selain itu, dia berhasil menggugurkan pendapat orang selama ini, yang beranggapan bahwa orang Jawa yang datang ke sini, kecenderungannya untuk bertahan hanya sampai lima tahun lalu pulang. “Saya akhirnya menggugurkan pandangan mereka, bahwa tidak semuanya seperti itu. Terbukti saya bisa mengabdi sampai saat ini,” lanjutnya.

Di bulan Oktober, Sapto yang merupakan anggota Tim Dewan Kode Etik Dosen UNM ini diminta  langsung  oleh Dekan FMIPA, Hamzah Upu untuk menyampaikan visi-misi menjadi seorang rektor di STMIK AKBA Makassar. “Saya ditelpon oleh Dekan MIPA untuk menyampaikan visi misi. Saya dinilai memenuhi tiga kriteria dimana saya layak jadi rektor di yayasan itu,” ungkap dosen yang selalu berpenampilan rapi ini.

Sebagai salah satu guru besar yang berkompeten, punya pengalaman berskala internasional, dan punya kemampuan di bidang IT, suami dari Dwi Handayani ini, dianggap pantas memimpin kampus STMIK AKBA. Saat menyampaikan presentasi di Hotel Clarion, dua hari berikutnya, Ketua Yayasan STMIK AKBA terkesan, dan memintanya untuk segera dilantik. Akhirnya, Sapto meminta izin kepada rektor dan Dekan FT untuk bisa dilantik menjadi rektor di kampus itu. Setelah dilantik, assesor sertifikasi dosen UNM ini, mendapat panggilan oleh Dekan FT untuk menjadi Pembantu Dekan IV FT UNM. Dan seminggu kemudian, Sapto dilantik lagi menjadi Pembantu Dekan Bidang Kerjasama dan Kelembagaan.

Bukan hanya mahasiswa yang memiliki sang  idola. Sapto pun punya idola yang selalu menginpirasi hidupnya dan yang selalu ditulis dalam setiap kata pengantar dalam bukunya. “Ada lima orang yang menjadi inspirasi saya dalam hidup. Pertama, Prof. Dr. Koni R. Setiawan (mantan Rektor UNY) yang selalu menjujung tinggi ketegasan, ketegaran, dan keikhlasan dalam mengajar menjadi inspirasi dalam hidup saya. Kedua, Prof. Dr. Suyanto M.A (mantan Rektor UNY, Dirjen Pendidikan Dasar), yang egaliter, tidak membangun batasan antara dosen dengan mahasiswa. Ketiga, Prof. Dr. Sugiyono (mantan Dekan FT UNM) yang mengajar saya untuk selalu membimbing dan  mendidik menulis. Keempat, Prof. Dr. Muklas Samani (Rektor Universitas Negeri Surabaya) yang sangat akomodatif, tidak pernah menyalahkan orang lain, selalu menghargai orang lain. Kelima, Prof. Dr. Selamet, yang selalu konsisten dalam mengeluarkan pendapat, idealisme, tidak takut politik dan punya ketegasan. Saya berusaha mengadopsi kelima karakter masing-masing idola saya,” ungkanya.
Sapto Haryoko berharap, agar UNM tidak lagi dipandang sebagai kampus yang asal-asalan. Tapi, dianggap sebagai universitas yang punya kewibawaan. Dimana kewibawaan itu terpancar dari kewibawaan para guru besarnya. Jadilah dosen yang baik, berdasarkan kodrat dan fungsinya. Jadilah tauladan yang baik bagi mahasiswa-mahasiswanya. Gunakan ilmu padi, dimana semakin berilmu semakin merunduk. Buatlah mahasiswa jangan merasa takut,  tapi segan. Bukan segan kepada orangnya tetapi segan kepada ilmunya. 

Selain itu, Sapto, juga berharap agar mahasiswa, jangan hanya hebat di  kampus, tetapi juga di luar kampus, go public. Dimana suatu pengetahuan tidak perlu dipamer-pamerkan, tapi untuk disampaikan. Seorang harus mampu memanfaatkan kemampuan untuk mengiklankan diri. menunjukkan kepada orang lain bahwa kita bisa, kita adalah pakarnya. Bukan untuk menyombongkan  diri.

Kalau kita berbuat baik kepada orang, maka orang pun akan berbuat baik kepada kita. Ketika kita telah melakukan sesuatu yang berharga, maka akan selalu diingat orang, dan merupakan amal jariyah. Terbukti, 26 tahun di Makassar, saya belum pernah konflik dengan orang Makassar yang katanya kasar-kasar. Artinya, kembali kepada orangnya. Jika kita bisa bergaul, bisa menghargai orang lain, bisa berkomunikasi dengan baik, maka orang pun akan melakukan hal yang sama kepada kita.


Data Diri
Nama                                                   : Prof. Dr. Sapto Haryoko, M. Pd
Tempat Tanggal Lahir                         : Yogyakarta, 27 September 1962
Pangkat                                               : Pembina Utama Muda/ IVb
Bidang Keahlian                                 : Pendidikan Vokasi

Riwayat Pendidikan:
SD       : SD Lanjutan IKIP Yogyakarta  (1974)
SMP    : SMP Neg. PPSP IKIP Yogyakarta (1977)
STMP  : STM Pembangunan Yogyakarta(1981)
S-1       : FPTK  IKIP Negeri Yogyakarta (1985)
S-2       : Pascasarjana IKIP Jakarta (1991)
S-3       : Program Doktor UN Jakarta (1999)


Pengalama Birokrasi :
Ketua/Rektor STIMIK AKBA Makassar
Direktur Kerjasama dan Kelembagaan (Wakil Dekan IV) FT-UNM

Piagam Penghargaan:
Dosen Teladan  Tingkat Fakultas UNM - 14 Juni 1994
Satya Lencana Karya Satya (20 Tahun)  - 24 Juli 2009

Istri     : Dwi Handayani (Dosen Fakultas Hukum UMI)
Anak   : Aldila Gusta
              Berliana Rizki


 ---Jane Jamlu---

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...