Perjalanan hidupnya dia
lalui dengan segudang profesi. Sejak lulus dari bangku SMA dia mulai bekerja di
salah satu perusahaan meubel selama 13 tahun. Kemudian, mencoba bekerja
sebagai cleaning service selama 4
tahun di salah satu rumah sakit terbesar di Makassar, bekerja di tempat
pembuatan roti dan kecap, percetakan hingga akhirnya mendapat tawaran menjadi cleaning
service di UNM sepuluh tahun lalu.
Tepat pukul 15.00 sore itu, di lantai tiga Gedung
Rektorat UNM, penulis menemui seorang pegawai yang bekerja di tempat itu.
Wanita itu bernama Jamilah Halik. Dia adalah salah satu cleaning service yang bekerja di tempat itu. Dari beberapa cleaning service yang bekerja di tempat
itu, Mila sapaan akrab teman-temannya adalah cleaning service yang paling lama bekerja di rektorat. Sekitar 10
tahun silam anak dari pasangan Halik dan Bunga ini telah merasakan suka duka
bekerja sebagai tukang bersih-bersih di gedung tersebut. Ia bisa dibilang
sebagai wanita perkasa, lantaran pengalaman dan dedikasi kerja yang memuaskan.
Wanita kelahiran 27
Juni 1968 itu, sudah mencicipi banyak pengalaman kerja. Semenjak lulus dari
bangku SMA, Mila bekerja sebagai buruh di perusahan meubel selama 13 tahun.
Setahun setelahnya Mila pun mencoba pekerjaan lain yakni menjadi cleaning service di salah satu rumah
sakit terbesar di Makassar. Pekerjaan itu dijalaninya selama 4 tahun. Selama
bekerja di rumah sakit, Mila bahkan sering kali diminta untuk membantu dokter
dalam proses persalinan.
Selain itu, Mila pun pernah
bekerja di tempat pembuatan roti, lombok dan kecap. Mila juga pernah merasakan
bekerja di salah satu percetakan. Semua dijalaninya dan dijadikannya sebagai
pengalaman berharga baginya. Hingga akhirnya Mila mendapat tawaran untuk
bekerja di UNM. “Saya senang bisa menjalani pekerjaan ini, dan saya menikmatinya,” katanya dengan senyum
khasnya.
Pukul 07.00 dengan
menaiki angkutan kota “pete-pete”, Mila mulai menuju tempat kerjanya. Jarak dari
rumahnya tidak terlalu jauh. Mila sering kali menjadi orang yang paling pertama tiba di rektorat. Bahkan
satpam yang bekerja di tempat itu sering kali dia telpon saat pintu rektorat
belum terbuka. Mila juga sering kali menjadi orang terakhir yang pulang kerja.
Apalagi jika ada kegiatan di rektorat hingga membuatnya harus pulang terlambat.
Mila memang sosok
wanita yang tangguh. Dia begitu kuat. Dengan usianya yang hampir menginjak 45
tahun ini, dia masih mampu mengerjakan segudang pekerjaan. Tidak salah jika
teman-temannya sering mengatakan bahwa Mila patut mendapatkan penghargaan.
Diantara semua
pekerjaan yang pernah dia rasakan, bekerja di UNM lah yang paling dia senangi.
Meski gaji yang di bawah rata-rata dan tidak sebanyak gaji yang didapatkan sebelumnya,
tapi anak pertama dari empat bersaudara ini
tetap bersyukur bisa bekerja di UNM. Tentunya dia sangat mencintai
pekerjaannnya yang sekarang ini. “Saya udah betah kerja di sini, saya sudah
menyatu dengan suasana UNM, dan saya mencintai pekerjaaan saya yang sekarang
ini,” ungkapnya.
Meski sudah sepuluh
tahun bekerja di UNM, wanita berdarah Sinjai ini mengakui pernah merasakan
rindu terhadap pekerjaannya saat bekerja di perusahaan meubel. “Saya rindu
mengayam rotan, saya rindu membuat kursi lagi,” ungkapnya sambil
menggerakkan-gerakkan tangannya seakan-akan
dia sedang mengayam sesuatu.
Mila sangat ingin
mengayam lagi. Mila pernah punya keinginan untuk membuka usaha, namun karena
kurangnya modal dan waktu hingga akhirnya dia
mengurungkan niatnya itu. Baginya pekerjaan yang dia jalani saat ini
mungkin menjadi pekerjaan terakhirnya. Mila pun berharap suatu saat nanti dia
juga bisa menjadi pegawai negeri seperti rekan-rekannya yang lain. “Semoga saya
bisa secepatnya jadi pegawai negeri, supaya saya bisa membiayai semua keperluan
keluarga saya,” harapnya.
---JaneJamlu---
---JaneJamlu---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar