Prof.
Dr. Sapto Haryoko, M. Pd.
(Guru
Besar FT UNM dan Rektor STMIK AKBA Makassar)
“Dalam hidup selalu ada planning. Saya memiliki empat fase dalam hidup ini
yang selalu menjadi planning saya
dalam menjalani kehidupan. Fase mencari ilmu, memperbaiki ekonomi keluarga,
pengabdian kepada lembaga dan fase menikmati hidup”.
Inilah
yang menjadi prinsip pria kelahiran Yogyakarta, 27 Desember 1962. Bukan hanya
terkenal sebagai dosen di kampus orange,
pria yang mendapat gelar doktor pada usia yang termudah di usia 35 tahun ini
juga pernah menjadi dosen dan mengajar 26 jenis mata kuliah di beberapa kampus
di Indonesia.
Dialah
Sapto Haryoko. Dosen Fakultas Teknik sekaligus Guru Besar UNM ini, tercatat
sebagai dosen paling produktif di UNM. Berbagai karya telah tercatat di
pundaknya. Sekitar 30 karya ilmiah yang berhasil dia hasilkan sejak tahun
2007-2012. Ayah dari Aldila Gusta dan Berliana Rizki ini, juga sudah memiliki 5
buku atau bahan ajar. Bukan hanya itu, piagam penghargaan berhasil diraihnya
seperti Dosen Teladan Tingkat Fakultas UNM Tahun 1994 dan mendapat penghargaan
Satya Lencana Karya Satya selama 20 tahun sejak tahun 2009.
Pria
asal Yogyakarta ini juga merupakan konsultan di beberapa bidang kegiatan.
Konsultan Devisi Diklat Telkom Kandatel Ujung Pandang, Konsultan Ke-Deputi-an
Litbang Lembaga Adminstrasi Negara Jakarta, Konsultan Devisi Diklat BPPT
Jakarta, Konsultan Pengembangan Personalia Universitas Gunadharma Jakarta,
Konsultan Freelance DPR Pusat Komisi X (Komisi Bidang Pendidikan) Jakarta,
Konsultan “Second Junior Secondary Education Project” Departemen Pendidikan
Nasional, Konsultan Direktorat PLP Ditjen Mandikdasmen Departemen Pendidikan
Nasional Jakarta, dan Konsultan Freelance (on call) Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan, BPSMP & PPMP Jakarta.
Meski
Sapto lahir di Jawa, tapi dia memiliki niat yang begitu besar untuk memajukan
pendidikan di seluruh Indonesia termasuk di Makassar. “Karena nilai saya bagus,
saya mendapat kesempatan untuk mengabdikan diri di luar. Dan saya memilih
Makassar yang relatif dekat denganYogyakarta sebagai tempat berbagi ilmu. Saat
itu, UNM sangat membutuhkan tenaga pengajar. Makanya saya mengabdikan diri di
UNM sejak tahun 1987,” ungkapnya. Selain itu, dia berhasil menggugurkan pendapat
orang selama ini, yang beranggapan bahwa orang Jawa yang datang ke sini,
kecenderungannya untuk bertahan hanya sampai lima tahun lalu pulang. “Saya akhirnya
menggugurkan pandangan mereka, bahwa tidak semuanya seperti itu. Terbukti saya
bisa mengabdi sampai saat ini,” lanjutnya.
Di bulan Oktober, Sapto
yang merupakan anggota Tim Dewan Kode Etik Dosen UNM ini diminta langsung
oleh Dekan FMIPA, Hamzah Upu untuk menyampaikan visi-misi menjadi
seorang rektor di STMIK AKBA Makassar. “Saya ditelpon oleh Dekan MIPA untuk
menyampaikan visi misi. Saya dinilai memenuhi tiga kriteria dimana saya layak
jadi rektor di yayasan itu,” ungkap dosen yang selalu berpenampilan rapi ini.
Sebagai
salah satu guru besar yang berkompeten, punya pengalaman berskala internasional,
dan punya kemampuan di bidang IT, suami dari Dwi Handayani ini, dianggap pantas
memimpin kampus STMIK AKBA. Saat menyampaikan presentasi di Hotel Clarion, dua
hari berikutnya, Ketua Yayasan STMIK AKBA terkesan, dan memintanya untuk segera
dilantik. Akhirnya, Sapto meminta izin kepada rektor dan Dekan FT untuk bisa
dilantik menjadi rektor di kampus itu. Setelah dilantik, assesor sertifikasi
dosen UNM ini, mendapat panggilan oleh Dekan FT untuk menjadi Pembantu Dekan IV
FT UNM. Dan seminggu kemudian, Sapto dilantik lagi menjadi Pembantu Dekan
Bidang Kerjasama dan Kelembagaan.
Bukan hanya mahasiswa
yang memiliki sang idola. Sapto pun
punya idola yang selalu menginpirasi hidupnya dan yang selalu ditulis dalam
setiap kata pengantar dalam bukunya. “Ada lima orang yang menjadi inspirasi
saya dalam hidup. Pertama, Prof. Dr. Koni R. Setiawan (mantan Rektor UNY) yang
selalu menjujung tinggi ketegasan, ketegaran, dan keikhlasan dalam mengajar
menjadi inspirasi dalam hidup saya. Kedua, Prof. Dr. Suyanto M.A (mantan Rektor
UNY, Dirjen Pendidikan Dasar), yang egaliter, tidak membangun batasan antara
dosen dengan mahasiswa. Ketiga, Prof. Dr. Sugiyono (mantan Dekan FT UNM) yang
mengajar saya untuk selalu membimbing dan
mendidik menulis. Keempat, Prof. Dr. Muklas Samani (Rektor Universitas
Negeri Surabaya) yang sangat akomodatif, tidak pernah menyalahkan orang lain,
selalu menghargai orang lain. Kelima, Prof. Dr. Selamet, yang selalu konsisten
dalam mengeluarkan pendapat, idealisme, tidak takut politik dan punya ketegasan.
Saya berusaha mengadopsi kelima karakter masing-masing idola saya,” ungkanya.
Sapto
Haryoko berharap, agar UNM tidak lagi dipandang sebagai kampus yang asal-asalan. Tapi, dianggap sebagai
universitas yang punya kewibawaan. Dimana kewibawaan itu terpancar dari
kewibawaan para guru besarnya. Jadilah dosen yang baik, berdasarkan kodrat dan
fungsinya. Jadilah tauladan yang baik bagi mahasiswa-mahasiswanya. Gunakan ilmu
padi, dimana semakin berilmu semakin merunduk. Buatlah mahasiswa jangan merasa
takut, tapi segan. Bukan segan kepada
orangnya tetapi segan kepada ilmunya.
Selain itu, Sapto, juga berharap agar
mahasiswa, jangan hanya hebat di kampus,
tetapi juga di luar kampus, go public. Dimana
suatu pengetahuan tidak perlu dipamer-pamerkan, tapi untuk disampaikan. Seorang
harus mampu memanfaatkan kemampuan untuk mengiklankan diri. menunjukkan kepada
orang lain bahwa kita bisa, kita adalah pakarnya. Bukan untuk
menyombongkan diri.
Kalau
kita berbuat baik kepada orang, maka orang pun akan berbuat baik kepada kita.
Ketika kita telah melakukan sesuatu yang berharga, maka akan selalu diingat
orang, dan merupakan amal jariyah. Terbukti, 26 tahun di Makassar, saya belum
pernah konflik dengan orang Makassar yang katanya kasar-kasar. Artinya, kembali
kepada orangnya. Jika kita bisa bergaul, bisa menghargai orang lain, bisa
berkomunikasi dengan baik, maka orang pun akan melakukan hal yang sama kepada
kita.
Data Diri
Nama :
Prof. Dr. Sapto Haryoko, M. Pd
Tempat Tanggal Lahir :
Yogyakarta, 27 September 1962
Pangkat :
Pembina Utama Muda/ IVb
Bidang Keahlian : Pendidikan Vokasi
Riwayat
Pendidikan:
SD : SD Lanjutan IKIP Yogyakarta (1974)
SMP : SMP Neg. PPSP IKIP Yogyakarta (1977)
STMP : STM Pembangunan Yogyakarta(1981)
S-1 : FPTK
IKIP Negeri Yogyakarta (1985)
S-2 : Pascasarjana IKIP Jakarta (1991)
S-3 : Program Doktor UN Jakarta (1999)
Pengalama Birokrasi :
Ketua/Rektor
STIMIK AKBA Makassar
Direktur Kerjasama dan Kelembagaan (Wakil Dekan IV)
FT-UNM
Piagam Penghargaan:
Dosen Teladan
Tingkat Fakultas UNM - 14 Juni 1994
Satya Lencana Karya Satya (20 Tahun) - 24 Juli 2009
Istri : Dwi
Handayani (Dosen Fakultas Hukum UMI)
Anak : Aldila
Gusta
Berliana Rizki
---Jane Jamlu---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar