Senin, 18 April 2011

HATIKU MENANGIS

Saat orang tuamu mengatakan bahwa kau ingin pergi dari sini, hatiku begitu sakit. Aku berharap ini hanya mimpi dan tak akan menjadi nyata. Namun, saat kau juga mengatakan hal yang sama, hatiku semakin kacau. Ternyata kau benar-benar ingin pergi. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku langsung menghindarimu. Aku menjauh darimu dengan harapan bahwa aku bisa sedikit demi sedikit menerima kepergianmu dengan berusaha menjauh darimu.

Namun, saat itu aku mencoba mendekatimu. Namun, kau nampaknya marah kepadaku. Aku pun memutuskan untuk kembali menjauhimu dengan harapan aku bisa terbiasa tanpa dirimu. Sehingga ketika kau pergi nanti aku tidak begitu sakit. Meski sulit, namun harus ku jalani.

Saat aku menonton TV, kau keluar dari kamarmu. Saat itu kau menyebut namaku. Senangnya hati ini. itu pertama kalinya kau menyapaku semenjak permusuhan kita. Aku tahu itu adalah sebuah sinyal perdamaian yang kau tunjukkan. Namun, saat itu aku tidak membalas sapaanmu. Aku hanya cuek padamu. Dan aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Tiga minggu berlalu. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat ingin menyapamu, menghampirimu, dan ngobrol denganmu. Namun, tidak ada keberanian dalam benakku. Karena aku masih kecewa denganmu. Pasti setiap orang akan sulit menerima kepergian seseorang yang sudah begitu dekat dengan kita. Apalagi ketika orang itu telah mendapat tempat yang istimewa di hati kita. Memang sulit rasanya.

Siang itu, aku menulis sebuah status di facebook, karena saat itu perasaanku benar-benar tidak terkontrol. Ternyata statusku itu nampaknya menambah masalah baru di antara kita. Kau nampaknya marah dengan statusku itu. Kau pun menulis status yang menyinggung statusku. Perang status pun dimulai. Aku berpikir kayaknya tidak ada harapan lagi aku untuk berdamai denganmu.

Malam di saat semua penghuni berkumpul dan membicarakan masalah yang terjadi di rumah ini. satu persatu masalah dibahas dan terselesaikan. Mulai masalah kamar sampai masalah intern. Sudah lama aku menantikan untuk sekamar dengannya. Ternyata harapanku semua sia-sia. Aku ternyata memang tidak bisa sekamar dengannya. mungkin sampai aku selesai pun, aku tidak akan pernah bisa sekamar denganmu. Sampai tiba dimana masalahku untuk dibahas. Banyak yang heran dengan masalah yang kami hadapi. Kakak-kakak mencoba untuk menyelesaikan masalah kami. Kami berdua disuruh untuk menceritakan apa masalah yang sebenarnya terjadi. Aku tak sanggup untuk menceritakannya. Kemudian salah satu kakakku yang lumayan akrab denganku menceritakan semuanya. Masalah kami pun dibahas. Dan akhirnya masalah kami dapat terselesaikan. Meski hati dan pikirannya masih sangat membenciku. Namun, aku benar-benar ingin berdamai dengannya. Tapi, dia kayaknya tidak ingin lagi menjadi temanku. Meski kami sudah salaman dan saling memaafkan di depan semua penghuni. Malam itu benar-benar malam yang paling menjengkelkan dalam hidupku.

Keesokan harinya, aku mencoba untuk membuka profilmu di facebook. Dan begitu tegahnya kau menghapusku sebagai temanmu di jejaring sosial. Apakah sudah tidak ada haparan lagi untukku untuk menjadi temanku? Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku lagi untuk dekat denganmu? Apakah aku sudah terlalu hina di matamu? Semua pertanyaan-pertanyaan konyol muncul di pikiranku. Di dunia maya saja kau tidak mau menjadi temanku, apalagi di dunia nyata. Okelah kalau itu maumu. Aku akan berusaha untuk melupakanmu.

Pagi ini tepat di hari libur, aku melepas semua kekesalanku dan menghapus semua pikiran-pikiran yang selama ini membebaniku. Dan ku harap ombak yang besar bisa menghapus semuanya. Aku berusaha menenangkan pikiranku. Membuat suasana hatiku menjadi sebahagian mungkin. Meski menghapus ingatan tentang seseorang yang paling kita sayangi sangatlah sulit, tapi aku harus berusaha. Aku selalu berdoa agar Allah menghapus ingatanku tentang semua orang-orang yang pernah dekat denganku, termasuk dirimu. Aku terus berusaha, namun ombak yang sudah sangat besar tetap saja tak mampu. Aku rela sakit dihempas ombak, yang penting aku bisa melupakanmu. Aku rela ombak menenggelamkanku bersama semua keinginanku yang terlalu obsesi mengharapkan kau menjadi sahabatku. Aku rela mat, jika itu bisa membuat orang-orang yang ada di dekatku merasa senang dengan kepergianku. Karena aku tau, tidak ada satupun orang yang menyayangiku di dunia ini. bahkan keluargakupun tak ada yang menyukai sikapku. Aku merasa menjadi orang tidak berguna di dunia ini. unuk apalagi aku tetap bertahan di dunia ini jika hanya membuat orang-orang merasa tidak nyaman. Tuhan cabutlah nyawa hamba-Mu ini. Jangan buat aku hidup dengan banyak kesalahan. Dan jika aku dilahirkan kembali, aku ingin hidup dengan membawa kebahagiaan untuk orang-orang.

Kata orang penyesalan itu selalu datang terlambat. Benar adanya. Ternyata penyesalan itu benar-benar ada. Dan kini aku merasakannya. Sakit rasanya saat harapan kita yang sudah lama kita nantikan untuk terwujud hancur begitu saja hanya karena keegoisanku sendiri. Kini hatiku benar-benar menangis. Adakah yang mampu menghapus tangisan di hatiku?

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...