Rabu, 24 April 2013

Cerita Singkat di Kota Jakarta-Surabaya


Minggu, 28 Mei 2012, pukul 19.00 Wib, Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tidak terasa kami telah  berada di Jakarta lagi. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalan ke Makassar malam itu. Tapi, karena keuangan salah satu temanku menipis, akhirnya kami memutuskan tidak langsung pulang ke Makassar dengan pesawat malam itu. Kami akan naik kapal laut menuju pelabuhan Makassar.

Sebenarnya, aku sudah ingin pulang ke Makassar malam itu karena besok aku ada pameran multimedia sebagai ujian finalku. Namun, aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka temanku, kami sama-sama datang, dan kami juga harus sama-sama pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama mereka menggunakan kapal laut.

Kak Arul menghubungi salah satu keluarganya yang tinggal di Jakarta. Akhirnya kami menuju tempat keluarga kak Arul dengan menumpangi bus Damri. Kami tidak tahu jalan di Jakarta, kami sempat tersesat. Lalu, kami kembali menggunakan taksi menuju rumah keluraga kak Arul. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di tempat itu. Kami menginap semalam di tempat itu.

Dan keesokan harinya, Senin 29 Mei 2012, om Kak Arul membelikan kami tiket perjalanan pulang ke Makassar. Dengan mengendarai mobil yang disewakan oleh om Kak Arul, kami menuju pelabuhan Tanjung Priuk. Kami pun menaiki kapal dan mencari tempat untuk mengistirahatkan diri.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya kapal pun berangkat. Butuh waktu sehari untuk sampai ke pelabuhan berikutnya. Berbagai kegiatan yang kami lakukan saat di kapal. Bahkan salah satu temanku membeli domino untuk mengisi waktu luang. Kami pun mulai berbaur dengan penumpang kapal yang lainnya. Kami berbagi cerita dan pengalaman. Kami pun mulai akrab satu sama lain.

Aku baru sadar, ternyata aku sendirian cewek di antara kami berlima. Tapi, jangan kawatir, mereka sudah menjadi keluarga. Aku justru senang bisa dijagain oleh keempat cowok sekaligus. Hahahah. Saat kami tidur pun, aku tidur di tengah-tengah mereka. Eitzt, jangan berpikir macam-macam dulu. Tetap ada pembatas antara tempat tidurku dengan mereka. Ehehehe.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya kami transit di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Karena kami belum pernah ke Surabaya, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Kami hanya berjalan di sekitar pelabuhan dan membeli persediaan makanan selama di perjalanan. Aku juga membeli pulsa, karena aku ingin menelpon dosenku agar diberi keringan berupa ujian susulan untuk ujian final. Berhubung aku belum bisa tiba hari Rabu besok.


Awalnya aku ragu untuk menelpon. Soalnya, aku paling jengkel dengan dosenku yang satu ini. Aku selalu mejadi bulan-belanannya di kelas. Soalnya aku mahasiswanya yang paling bandel. Aku sering kali membuatnya jengkel. Aku juga paling sering telat dan ribut kalau di kelas. Tapi, aku meberanikan diri untuk menelponnya. Suaraku terbata-bata saat mengucakan kaliamat pembuka. Aku mulai berbicara dengan beliau. Setelah percakapanku selesai, aku bingung dengan ucapannya. Intinya, dia tidak menerima permintaan izinku dan tidak akan meberiku ujian susulan.

Aku sempat berpikir, andai aku pulang malam itu, aku mungkin bisa mengikuti pameran multimedia di kampus. Tapi, aku berpikir, kalau nilaiku jelek, aku kan bisa mengulang tahun depan atau mengambil semester pendek (SP). Tapi, aku lebih memilih untuk meninggalkan kuliahku agar aku bisa menemani teman-temanku pulang ke Makassar dengan kapal laut. Bagiku, ini lebih mulia tentunya.

Setelah merasa puas berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, kami memutuskan untuk kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan salah satu penumpang kapal. Anak laki-laki dan kedua kakaknya itu ternyata telah berminggu-minggu terkatung-katung di pelabuhan ini. Mereka tidak punya uang lagi untuk membeli tiket pulang ke daerah mereka. Kami kasian melihat kedua kakaknya yang sedang hamil tua. Mereka butuh pertolongan kami. Tapi, kami juga bingung bagaimana cara kami membantu mereka. Ini bukan daerah kami. Keuangan kami pun menipis saat itu.

Akhirnya, kami dan anak-laki-laki itu pergi ke kantor polisi yang tidak jauh dari pelabuhan. Kami melaporkan kepada pihak polisi tentang keadaan mereka yang telah berminggu-minngu di pelabuhan ini. Setelah cukup lama bercerita dengan pihak kepolisiaan, akhirnya polisi mau membantu kami agar anak laki-laki dan kedua kakaknya itu bisa pulang ke kampung halaman mereka. Pihak kepolisian berjanji akan menghubungi dinas perhubungan agar mereka bisa diberikan tumpangan untuk kembali ke daerah mereka.

Kami pun kembali ke tempat itu dan mengangkat barang-barang mereka ke kantor polisi. Waw, barang-barang mereka lumayan banyak. Aku bahkan turun tangan membawakan barang-barang mereka. Tapi, tentunya kami ikhlas melakukan ini. Kami senang membantu. Inilah gunanya kami sebagai mahasiswa dan sebagai wartawan kampus. Tidak sia-sia kami melalukan perjalanan malam itu. Karena pada akhirnya kami bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan kami. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan kepada kami untuk menolong mereka. Bahagia rasanya bisa membantu mereka. Kami pun pamitan kepada mereka dan mereka sangat bahagia. Akhirnya mereka tidak terlantar lagi dan bisa kembali ke daerah mereka.

Kami pun memutuskan kembali ke kapal dan beristirahat. Teman kami Amir pasti sudah jenuh menunggu kami yang sudah sejak tadi pergi meninggalkan dia di kapal. Ya, kami memang selalu bergantian menjaga barang bawaan kami. Ketika ada yang pergi, harus ada satu orang yang menjaga barang. Jangan sampai ada yang mengambil barang-barang kami. Maaf ya Amir, sudah menunggu lama.

Malam itu, kami mendapat musibah. Dompet Kak Arul dicopet. Di dalam dompet itu ada sejumlah uang dan surat-surat berharga lainnya. Namun, kami hanya bisa mengikhlaskannya dan berharap akan mendapatkan gantinya kelak. Kak Arul pun mencoba mengikhlaskannya. Setelah kejadian itu, kami mulai berhati-hati. Kami trauma akan ada kejadian berikutnya.

Untuk melupakan kejadian itu, mereka kembali bermain domino hingga larut malam. Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka kerjakan selanjutnya. Aku sudah sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.

Saat aku bangun, aku pun segera ke kamar mandi. Soalnya aku ingin melihat matahari terbit. Aku dan salah satu temanku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kapal. Kami memanfaatkan untuk berfoto-foto dan mengabadikan momen selama berada di kapal. Ya, tentunya untuk menambah koleksi foto-foto kami. Eheheh.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya malam itu kami tiba juga di Pelabuhan Makassar. Perjalanan dari Jakarta ke Makassar menghabiskan waktu 3 hari 3 malam. Sungguh perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Ada hikmah di balik semua perjalanan ini. Tak sabar rasanya ingin bercerita dengan teman-teman di redaksi tentang pengalaman kami selama di Medan-Jakarta-Surabaya.

---Jane Jamlu---

*Sumber Foto : 

Hari Terakhir di Kota Medan


Rasanya baru sehari berada di kota Medan, sekarang sudah saatnya kembali ke Kota Daeng. Sejuta kenangan indah telah terukir indah dalam benakku. Aku tidak ingin buru-buru mengakhirinya. Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Hari ini aku akan berpisah dengan teman-teman jurnalis masa depan.

Minggu itu, para peserta telah siap pulang ke daerah mereka masing-masing. Nurie, Ayu Tifani, Bambang, Fadilah, Ipak Ayu, Rizdha balik ke LPM mereka masing-masing yakni di Medan sendiri. Al Mukarramah sudah siap untuk balik ke Aceh, M. Syahri, Mei, dan Rizka balik ke Palembang, Ridho dan April balik ke Padang, Imron ke Semarang, Edo ke Riau, Aan ke Lampung, Tuni ke Padang, Asykur ke Bali, Amir, Haswin, Kak Arul, Ichal dan juga aku balik ke Makassar.

Sebelum kami menuju bandara, kami diajak oleh panitia untuk jalan-jalan mengunjungi LPM Suara Universitas Sumatera Utara (USU). Dengan mengendarai angkutan kota, kami menuju sekretariat LPM Suara USU. Sungguh pengalaman berharga bisa mengunjungi kampus terbesar di Sumatera Utara itu.

Saat tiba di sana, kami disambut gembira oleh crew LPM Suara USU. Hari itu, sebagian crew LPM Suara USU sibuk di kepanitiaan. Mereka sedang mengadakan perekrutan anggota baru. Setelah berkenalan dengan teman-teman LPM Suara USU, kami diajak keliling kampus sekalian mengunjungi tempat diadakannya acara perekrutan tersebut.

Aku bertemu dengan Kartini Saluku dan Debora. Kami mengenal mereka, karena beberapa bulan lalu mereka pernah ke Makassar untuk mengikuti Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) 2012 yang  diadakan oleh LPM kami yakni LPPM Profesi UNM. Senang rasanya bisa bertemu dan bercerita dengan mereka lagi. 
Kartini memberiku kami ole-ole berupa kaos Medan. Kartini juga mengajakkku jalan-jalan mengunjungi standnya. Kebetulan hari itu ada pameran dan dia punya stand yang menyediakan berbagai jam tangan. Dia menyuruhku memilih satu jam tangan untuk aku bawa ulang. Awalnya aku menolak, tapi dia memaksaku. Satu set jam tangan couple dia berikan padaku. “Thanks ya Tini atas jam tangannya,” ucapku adanya. “Sama-sama,” jawabnya senyum.
Ole-ole dari  Kartini Saluku

Setelah menerima ole-ole dari Kartini, aku menuju salah satu stand bersama temanku Ichal. Kami tertarik membeli kaos Medan. Aku membeli satu kaos Medan dan dia membeli 2 kaos. Kami kembali ke tempat teman-teman berkumpul. Karena kami harus kembali ke kampus dan siap untuk balik ke daerah masing-masing.

Ketika sampai di sekretariat Teropong, aku menyempatkan untuk membeli makanan khas kota Medan. Aku membeli Bika Ambon di depan kampus UMSU. Katanya, kue ini bisa bertahan hingga 3 hari. Makanya aku memutuskan untuk membeli 3pack Bika Ambon ole-ole untuk teman-teman di redaksi. Setelah berbelanja bersama Syahri, Mei dan Rizka, aku tertarik untuk berfoto di depan kampus UMSU. Aku pun meminta tolong kepada M.Syahri untuk memotoku di depan tulisan “Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)”. Awalnya susah untuk berfoto di depan tulisan itu. Tapi, aku memaksakan diri dan memanjat ke atas, dan akhirnya aku duduk tepat di depan tulisan itu.
Foto di depan kampus UMSU

Ada sesuatu yang lucu, saat aku memosting foto ini di facebook, anak-anak LPM Teropong heran sekaligus salut padaku. Soalnya, mereka yang notabenenya kuliah di kampus itu, belum pernah sekalipun berfoto di depan tulisan itu. Artinya, aku mengalahkan mereka. Heheheh..

Pukul 14.00 WIB, aku, Kak Arul, Ichal, Amir dan Haswin siap-siap menuju Bandara Polonia Medan. Panitia mengantar kami ke bandara menggunakan kereta, maksudku motor bebek. Setelah menempuh perjalanan beberpa menit, kami akhirnya sampai di bandara. Kami pun menyempatkan untuk berfoto-foto yang terakhir kalinya sebelum kami berangkat.

Foto bersama pulang ke Makassar
Ada kesedihan yang kami rasakan. Tak ingin rasanya berpisah secepat ini. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku. Aku berpamitan kepada Butet yang selama ini telah memberiku tumpangan saat pertama kali berada di Medan. Aku juga berpamitan dengan Ayu Renisya yang sudah begitu baik padaku.

Aku tak akan melupakan kebaikan kalian. Aku janji akan kembali ke tempat ini lagi. Dan ketika kalian ke Makassar nanti, aku akan memberikan pelayanan yang begitu istemewa buat kalian. Terima kasih saudariku. Terima kasih teman-teman. Horas Medan! Love you all!.
Foto di depan pesawat sebelum berangkat

Kami pun memasuki kabin pesawat dan memasang sabuk pengaman. Aku duduk di dekat jendela. Aku masih memperhatikan di sekeliling bandara. Aku ingin melihat kota Medan sebelum aku balik ke kota Daeng. Aku berjanji akan ke tempat ini lagi. Amin.


---JaneJamlu---

Keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir

Danau Toba
Aku masih semangat menulis nih teman-teman. Biasanya aku mulai malas jika terus-terusan menulis. Tapi, entah mengapa, menulis cerita indah ketika di Medan membuatku semangat untuk terus menulis. Kali ini aku akan melanjutkan ceritaku saat menginjakkan kaki pertama kali di Danau Toba Perapat.

Setelah menempuh perjalanan malam selama kurang lebih 6 jam, akhirnya kami tiba di Perapat. Suhu dingin menyambut kedatangaan kami. Karena memang masihsubuh waktu itu. Matahari pun belum nampak. Setelah turun dari bus, kami menuju ke Danau Toba. Waw, indahnya Danau Toba. Benar-benar indah. Sangat luas. Selama ini, aku hanya taahu tenatang Danau Toba dari buku IPS waktu SD dulu dan  siaran di TV. Sekarag akau bisa menyaksikan langsung indahnya danau ini.
Foto pertama saat menginjakkan kaki di Danau Toba-Perapat
Foto bareng Aan

Menikmati indahnya Danau Toba

Danau Toba

Setelah merasa puas menikmati keindahan danau dan berfoto-foto, kami menuju dermaga. Ada yang memanfaatkan untuk mandi di danau. Ada juga yang asyik foto-foto, seperti aku tentunya. Ada juga yang memanfaatkan untuk tidur. Kata panitia, kita akan menyebrang ke Pulau Samosir. Di sana kita bisa melihat rumah adat Medan dan membeli cinderamata.

Setelah sarapan, kami pun menaiki perahu yang akan membawa kami ke pulau tersebut. Butuh waktu kurang lebih sejam untuk bisa sampai ke sana. Di sepanjang jalan, kami menikamati udara segar di Danau Toba. Menyaksikan luasnya danau ini. Setelah cukup lama, akhirnya kami bisa melihat tulisan “PULAU SAMOSIR” dari kejauhan. Dan akhirnya perahu kami  pun tiba di Pulau Samosir.
Foto di atas perahu

Kami memanfaatkan untuk foto bersama di depan tugu yang bertuliskan nama-nama marga yang ada di Medan. Setelah puas berfoto, kami pun menyebar dan mengelilingi tempat itu. Ada banyak cinderamata yang dijual di sana. Mulai dari gantungan kunci hingga baju. Tanpa lengkap rasanya jika pergi ke suatu tempat tanpa mebawa ole-ole untuk teman. Aku memutuskan untuk membeli gantungan kunci untuk anak redaksi dan temanku di Asrana Putri, serta baju untuk keluargaku.
Foto di depan tugu bertuliskan nama-nama marga yang ada di Medan

Bersama dengan Fadilah yang katanya jago nawar, aku berkeliling mencari cinderamata. Aku membeli syal warna merah dan syal ungu untuk ID (sahabatku). Aku juga membeli 10 ulos untuk aku bagikan kepada Ben 10 (Teman seperjuaanganku di Redaksi). Aku dan teman-teman peserta juga membeli 22 gelang persahabatan. Kami berharap gelang ini bisa menjadi kenangan kami. Sampai sekarang aku masih memakai gelang itu, meskipun telah aku permak sedikit.
Gelang Persahabatan

Belanja gantungan kunci

Belanja bareng  Nurie dan Tuni di depan toko
Belanja cinderamata

Setelah merasa puas berbelanja, kami pun dipanggil panitia untuk berkumpul di depan rumah adat. Saat melihat rumah adat itu, ternyata ada sedikit persamaan antara Medan dan Makassar. Rumah adat Medan hampir mirip dengan rumah adat Tana Toraja (Tator) di Makassar. Awalnya aku mengira berada di Tator, tapi ternyata aku masih di Medan rupanya.

Kita disuruh berkumpul karena kita akan menari Tari Tor-tor bersama dengan patung Si Gale-gale. Setelah musik dimainkan, para peserta dan panitia berjoget. Tapi, aku tidak ikut menari dengan mereka. Aku memang  pemalu orangnya. 
Menyaksikan teman-teman menari

Tapi, setelah lagu kedua usai, entah apa yang menggerakkan diriku, aku seakan terpanggil dan sangaat ingin menari bersama teman-teman lainnya. Aku seakan terhipnotis, aku tidak malu untuk bergabung dengan yang lainnya. Lagu “Anak Medan” menjadi lagu terakhir yang diputar saat itu. Semua menari, semua berjoget tanpa malu-malu. Aku pun ikut menari, meski tidak seperti semangat menari yang lainnya.
Aku ikut menari dengan mereka

Foto bersama Patung Si Gale-gale


Foto bersama Patung Si Gale-gale

Foto bersama peserta dan panitia di depan rumah adat Medan

Foto bareng Ketua Panitia Bang Akmal

Raut wajah penuh kegembiraan terpancar di wajah peserta dan  panitia, temasuk aku. Hari itu benar-benar indah. Tak ingin rasanya mengakhiri keceriaan di hari itu. Namun, kami harus kembali ke Kota Medan. Akhirnya kami pun kembali menuju dermaga dan menaiki perahu. Padahal kami masih ingin berada di sana. Aku berharap bisa kembali ke sana lagi suatu hari nanti. Amin.

Sebelum kami pulang ke Kota Medan, kami menyempatkan untuk makan siang. Aku tidak tahu mau makan apa. Awalnya aku takut makan di tempat itu, takut kalau makanannyaa tidak halal baagiku. Tapi, kata temanku, di sini juga disediakan makanan untuk orang muslim. Akhirnya aku memutuskan untuk makan meskipun masih ragu-ragu.

Tiba-tiba, dadaku sakit. Sakit sekali sampai aku hampir pingsan. Temanku tahu kalau aku sakit. Mereka berusaha mencarikanku obat penahan sakit. Mereka bingung, soalnya mereka tidak tahu apa penyakitku. Aku pun tidak tahu aku sebenarnya sakit apa. Penyakit ini memang sudah lama menggangguku. Akhirnya, aku hanya minum air putih, dan itu sedikit membuat sakitnya hilang.

Panitia sudah lama  mencari kami. Aku dan teman-temanku akhirnya kembali ke bus setelah keliling mencari cinderamata untuk si Ucok. Selang beberpa menit, bus kami pun berangkat kembali ke Kota Medan. Aku tak akakn melupakan tempat ini, meski aku kehilangan ingatan sekalipun. Aku berharap bisa ke tempat ini lagi. Semoga.

Saat dalam perjalanan pulang ke kota, tiba-tiba sakit dadaku kambuh. Sakit banget. Aku mual, rasanya aku ingin muntah. Aku segera ke toilet bus yang ada di ujung belakang. Aku memuntahkan semua makanan yang aku makan tadi. Dadaku makin sesak. Sakit sekali, rasanya aku ingin pingsan. Aku bolak-balik masuk toilet, dan lagi-lagi aku muntah. Tapi, aku muntah bukan karena mabuk darat.

Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di belakang. Aku tidak kembali ke tempat dudukku di depan. Aku takut jika aku mual lagi. Aku memutuskan duduk di dekat pintu bus. Berharap angin segar di luar sana membuatku nyaman. Aku pun mencoba menutu mata dan akhirnya terlelap. Sesekali aku terbangun saat sakitnya terasa lagi. Ak benar-benar tersiksa dalam perjalanan pulang. Berharap aku masih bisa bertahan sampai di kota.

Karena, aku memutuskan untuk duduk di belakang, Ayu Tifani teman dudukku kawatir. Ayu heran mengapa aku tidak kembali ke tempat dudukku. Dia dan teman-teman lainnya memutuskan untuk ke belakang mencariku. “Jane, kamu kenapa? Masih sakit dadanya,” tanya Ayu. “Iya, masih sakit, makanya aku tidak kembali ke depan,” jawabku lemas. Mereka menyuruhku kembali ke dean, tapi aku menolak. Aku lebih suka di duduk di belakang. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke depan. Sesekali mereka mengunjungiku dan memberikan minyak angin untuk penahan sakit. Ternyata mereka mengkhwatirkanku. Meskipun baru lima hari mengenal mereka, namun seperti ada ikatan batin di antara kami.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa tiba di kota. Aku bersyukur, aku masih bisa bertahan dengan keadaanku waktu itu. Sakitnya sudah tak terasa lagi. Setelah tiba di kampus UMSU, aku dan salah satu temanku diajak oleh salah  satu panitia untuk menginap di kostnya. Sedangkan teman yang lainnya nginap di kost panitia yang lain. Peserta yang berasal dari Medan, mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.

Aku dan Astuni menghabiskan malam bersama. Eits, jangan pikir yang macam-macam ya. Kami bercerita tentang LPM kami masing-masing. Banyak cerita yang aku dapatkan dari adik kecil itu. Suaranya yang khas sering kali mebuatku ketawa. Itulah yang mengingatkanku padanya. Aku bahkan memintanya menjadi alarmku. Awalnya dia menolak, namun akhirnya dia mau. Aku merekam suaranya berulang kali. Aku tidak bisa menahan tawaku. Aku terus tertawa.dan  akhirnya aku mendapatkan rekaman suaranya untuk aku jadikan alarm. “Kak Jane, bangun donk. Kak Jane, bangun-bangun-bangun. Kak Jane cepat donk bangunnya, udah siang nih,” ucap Tuni dalam rekamannya. Samapi sekarang suara relkaman Tuni aku jadikan sebagai alarmku. Dan ternyata benar-benar ampuh dalam membangunkanku dari tidurku. Thanks ya adik kecilku.

---JaneJamlu---


Malam Penutupan PJTL Almamater


Aku masih semangat melanjutkan tulisanku, hingga aku merasa puas. Tidak ada bosan-bosannya aku dengan kota itu. Di tulisanku kali ini, aku akan menceritakan mengenai malam penutupan dari rangkaian kegiatan PJTL Almamater ini.

Setelah seharian menghabiskan waktu jalan-jalan ke Merdeka Walk, Stasiun Kereta Api, dan makan siang di warung soto Medan, kami kembali ke Mess dan mulai mengerjakan tugas liputan. Saat tiba, di Mess, aku  dan kedua teman sekamarku segra masuk ke kamar. Aku menunda untuk mandi, karena aku naskah feature akan segera dikumpul. Aku pun mengambil “QiQy” (nama laptopku) dan segera menulis. Aku kembali memutar rekaman hasil wawancaraku dengan Nenenk Ida.

Aku hampir nangis lagi saat aku mendengarkan isi rekaman itu. Suara Nenek Ida benar-benar bergetar hingga menggetarkan hatiku. Kata demi kata mulai aku rangkai dalam tulisanku.  Sebenarnya, ini adalah kali pertama aku menulis feature. Selama di Profesi, aku lebih sering menulis berita dalam bentuk straight news (berita langsung). Awalnya aku ragu, namun aku tetap menulis dan bercerita sesaui dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan saat wawancara siang itu.

Setelah tulisanku selesai, aku bingung saat ingin menentukan judulnya. Aku memang selalu terkendala persoalan judul tulisan. Namun, aku iseng-iseng memberi judul tulisanku yaitu “Nek, Kau Buatku Menangis”. Aku memilih judul ini, karena ini sesuai dengan yang aku rasakan. Aku memang menangis. Aku menangis karena nenek itu. Lalu, aku mengumpulkan featureku ke panitia.

Malam pun tiba, kami kembali berkumpul di ruangan. Malam itu merupakan malam penutupan PJTL Almamater. Rasanya baru kemarin kita pembukaan, sekarang sudah waktunya penutupan. Tak ingin rasanya mengakhiri kebersamaan ini. Aku masih ingin kumpul dan bercerita dengan peserta dan panitia. Aku masih ingin ke stasiun kereta api. Aku masih ingin mengunjungi tempat-tempat indah di kota Medan.
Foto bareng di malam penutupan

Sebelum acara penutupan dimulai, panitia akan mengumumkan pemenang dari lomba penulisan feature. Kami sudah  tidak sabar untuk mendengar siaa yang akan menjadi pemenang lomba kali ini. Aku memang tidak yakin bakal menang, karena ini adalah pertama kalinya aku menulis feature. “Pemenang feature terbaik adalah Nurjanna Jamaluddin dengan judul tulisan Nek, Kau Buatku Menangis  dan Muhammad Imron,” ucap salah satu panitia.

Senang bercampur rasa tak percaya. Aku memenangkan lomba itu. Tulisanku adalah salah satu yang terbaik. Teman-temanku memberiku selamat. Aku bahagia sekali. Padahal aku merasa tulisanku tidak bagus. Aku berterima kasih pada Tuhan dan juga pada Nenek Ida. Karena dia, tulisanku bisa juara. Aku menerima hadiah berupa buku yang diserahkan langsung oleh Ketua Forum Alumni Terpong (Format) Muhammad Arifin, S.Pd., M.Pd. Judul bukunya “Setelah Damai di Helsinki”, buku kumpulan tulisan tentang Aceh dalam lima tahun terakhir yang dieditori oleh Linda Christanty (Penulis Feature, anggota Grakan Aceh Merdeka). Di dalamnya sudah ada tanda tangan kak Linda juga lo.
Buku Hadiah Lomba Feature Terbaik


Tanda tangan teman-teman PJTL ku

Setelah penerimaan hadiah, kami dan panitia diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan. Satu persatu nama kami dipanggil. Hingga akhirnya giliranku tiba. “Aku senang bisa ke Medan. Aku bisa menyebarangi dua pulau. Aku bisa mengenal orang-orang Medan. Mungkin bagi peserta ini serasa sehari saja,namun bagi panitia ini serasa setahun,” ucapku sambil tersenyum. Panitia dan peserta pun tertawa saat aku menyampaikan pesan dan kesanku. Meskipun tidak lucu sih.
Aku menyampaikan pesan dan  kesan selama mengikuti  pelatihan ini
Bukan pesan dan kesanku saja yang dinilai lucu, pesan dan kesan peserta lain pun membuat suasana malam itu semakin berwarna dan  tentunya ada juga yang mengocok perut kita. Namun, dia antara pesan dan kesan pesrta, aku paling suka pesan dan kesan yang kesan dari Fadilah Utami. Dia mengatakan bahwa dia bisa kenal sama orang yang tampangnya garang tapi kok bisa nangis. Ucapan Fadilah sontak membuat panitia dan peserta tertawa. Kenapa dia bisa tahu kalau aku nangis? Waduh, jadi malu deh. (Video Fadilah saat menyampaikan pesan dan kesannya)

Pada akhirnya semua orang tahu kalau aku menagis waktu di stasiun. Aku bahkan berpikir, apakah Bang Gondrong yang membocorkannya. Tapi, aku percaya kalau Bang Gondrong tidak mungkin melakukan itu. Dia sudah berjanji padaku. Dan aku percaya dia tidak mungkin melanggar janjinya. Ternyata bukan dia saja yang melihatku menagis waktu itu. Tanpa sepengetahuan kami, panitia dan peserta lain tahu kalau aku menagis saat wawancara waktu itu. Aku benar-benar malu. Tapi, biarlah, toh akhirnya aku bisa menang karena tulisanku itu.

Akhirnya, penutupan pun usai. Kami berkumpul dan berfoto bersama. Dan panitia membagikan kenang-kenangan kepada masing-masing LPM dan membagikan sertifikat kepada masing-masing peserta.
Kami pun kembali ke kamar masing-masing, dan bersiap-siap untuk perjalanan panjang. Seperti yang sudah dijanjikan oleh panitia, kita akan fieldtrip di Danau Toba Perapat dan Pulau Samosir Tomok. Sudah tidak sabar ingin menyaksikan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir.
Foro bersama ketua Forum Alumni Teropong (Format) 
Penyerahan serifikat dari Pimpinan Umum LPM Teropong Fadli Akbar Lubis
Sertifikatku
Sertifikat Seminar

Setelah membeeskan barang-barang kami pun berkumpul di depan Mess. Ini adalah malam terakhir di Mess. Aku tak akan melupajkan keceriaan yang sempat terukir selama lima hari di tempat itu. Sejuta kenangan indah bakal menghiasi benakku. Sebelum naik ke bus, salah satu panitia meminta topiku. Dia sangat suka dengan gayaku. Katanya, dia ngefans lo ke aku. Namun, aku tidak bisa memberikan topiku kepadanya. Soalnyaa, topi itu adalah topi pemberian salah satu fansku di Makassar. Maaf ya dek, aku tidak bisa meberikan topiku waktu itu. Aku juga tidak sempat mengambil topiku yang satunya, soalnya sudah  masuk di dalam koper.

Setelah semuanya berkumpul, kami pun menaiki bus. Aku duduk di samping Ayu Tifani. Kami sudah sangat dekat sejak kemarin. Di sepanjang perjalanan kami bercerita. Karena dia anak Medan, aku bertanya da menyuruhnya bercerita seputar Medan. Banyak yang dia ceritakan. Senagn bisa ngobrol dengannya. Karena sudah lelah, kami pun memutuskan untuk tidur dan menunggu sampai bus ini mengantar kami ke tempat tujuan.
Ini Ayu Tifani, teman dudukku di bus.


---JaneJamlu---


*Sumber Foto : Almamater -> Suasana PJTL

Senin, 22 April 2013

Cinta Bersemi di Stasiun Kereta



Judulku terkesan lebay ya. Mungkin jika temanku membaca ini pasti dia heran. Soalnya mereka tidak pernah tahu seperti apa kisah cinta seorang Jane Jamlu dan seperti apa cowok yang disukai oleh Jane Jamlu. Selama ini aku cuek banget dengan soal cinta-cintaan.Hehehe..


Pagi itu, Jumat 26 Mei 2012, aku dan teman-teman peserta serta panitia diajak ke lokasi peliputan. Kami disuruh membuat liputan dalam bentuk tulisan feature. Ada tiga lokasi peliputan yang disiapkan olehh panitia seperti Stasiun Kereta Api, Istana Maimun, dan Masjid Agung. Dan aku ditempatkan di Stasiun Kereta Api Medan. Aku tidak tahu apakah ini kebetulan atau panitia memang sengaja memilih tempat ini untukku.

Aku pernah cerita kepada salah satu panitia, bahwa aku tidak pernah naik kereta api dan aku sangat ingin menaiki dan berfoto di relnya. Hari, itu panitia benar-benar menempatkanku di lokasi Stasiun Kereta Api. Dengan menumpangi angkutan kota, kami menuju lokasi yang telah ditetapkan. Setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai juga di Merdeka Walk alias Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka tidak  jauh dari stasiun kereta, kita hanya menyebrang jalan saja.

Bersama Fadilah, Nurie, IpakAyu, MeiAmir, Haswin, dan Ridho, kami mulai melakukan tahap peliputan. Sebelum kami menuju stasiun, kami memanfaatkan waktu untuk berfoto-foto di Lapangan Merdeka. Namanya juga baru pertama kali ke Medan, ya kita manfaatin segala tempat untuk berfoto.
Foto di Merdeka Walk

Para personel "Thumband"


With  Ipak Ayu Nurcaya

Setelah merasa puas berfoto di Lapangan Merdeka, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Sudah tidak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki di stasiun. Ada sedikit masalah kecil saat sebelum masuk ke stasiun. Kami disuruh menunggu sejenak hingga beberapa menit. Daripada menunggu tidak jelas, mending manfaatin untuk jalan-jalan di sekitar stasiun.



Aku dan teman-teman akhirnya menuju suatu jembatan. Di atas jembatan itu, kami bisa melihat seperti apa isi di dalam stasiun. Kami tentunya manfaatin untuk foto-foto lagi. Waw, baru sebentar sudah banyak koleksi foto lagi nih. Seperti yang dikatakan panitia, kita harus membuat tulisan jenis feature, aku pun menemukan sosok yang bisa aku jadikan narasumber dalam tulisanku.

Saat melewati jembatan, aku tertarik dengan seorang nenek yang sedang menjulurkan tangannya kepada setiap orang yang lewat di jembatan itu. Aku memang tidak bisa menahan diri ketika melihat seorang nenek harus duduk apan-panasan sambil meminta-minta. Aku kasian pada nenek itu. Awalnya, aku hanya memberi beberapa uang, lalu aku meninggalkannya. Dari kejauhan aku selalu memperhatikan enenk itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mendekatinya dan  menjadikan narasumber utama dalam tulisanku nanti. (Featureku ada pada tulisanku yang berjudul Nek, Kau Buatku Menangis).

Aku mendekatinya. Aku menyapanya dan mengucapkan salam padanya. Untung saja nenek itu bisa berbahasa Indonesia, jadi kami bisa dengan mudah berkomunikasi. Dia menjawab salamku, dan pembicaraan kami pun dimulai. “Nama nenek siapa?” tanyaku mengawali pembicaraan. “Nenek Ida,” jawabnya lemas. Aku jongkok di depannya dambil mengarahkan ­handphoneku di dekatnya. Matahari sangat terik waktu itu, aku gerah dan kepanasan. Tapi, nenek Ida tak merasakan gelisah apapun. Aku malu dengan semangat nenek Ida. Di tengah terik matahari, dia masih bisa bertahan di ats jembatan yang begitu panas.


Ada banyak yang dia ceritakan padaku, mulai dari saat pertama dia ditipu oleh orang Batak hingga barang-barangnya habis dibawa kabur, dia juga bercerita saat dia ditinggal pergi oleh kakaknya sendiri. Ternyata, nenek Ida hidup sebatang kara di Kota Medan. Dia menggantungkan nasibnya dengan mengemis. Sangat malang nasib nenek ini. Nenek Ida mengingatkanku pada nenekku yang sudah lama meninggal. Aku jadi rindu sama nenekku.

Aku sangat sedih mendengar kisah nenek ini. Aku ingin menangis. Rasa sesak di dada tak mampu lagi ku tahan. Aku tak tahan lagi. Tiba-tiba, salah satu panitia cowok datang menghampiriku. Dia mengajakku masuk ke stasiun. “Udah dipanggil sama panitia, katanya kita sudah bisa masuk di stasiun,” kata pria berambut gondrong itu. “Tunggu sebentar lagi, aku ingin pamitan dengan Nenenk Ida dulu,” jawabku sambil tersenyum padanya.

Aku pun buru-buru mengakhiri pembicaraanku. Saat aku mulai berdiri dan pamitan dengannya, aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahan lagi. Aku berusaha menahan sakit di dadaku sejak tadi. Aku menyalami tangannya dan kembali memberikan sedikit uang padanya. Dia menolak, namun aku memaksa. Aku bahkan ingin memberikan jaketku padanya, karena aku tahu dia pasti kepanasan. Namun, aku tak melakukannya.

Aku berusaha menahannya sesak di dadaku. Hingga akhirnya, air mataku tak terbendung lagi. Aku menangis. Aku benar-benar menangis. Nenek Ida melihatku menangis. Dia pun ikut menangis bersamaku. Air mataku beneran mengalir. Aku bahkan menangis di depan panitia cowok itu. Ini adalah pertama kalinya aku menangis di depan seorang cowok. Dia melihatku menangis. Aku malu sekali. Ingin rasanya aku buru-buru balik ke Makassar.

Lalu, aku meminta kepada cowok itu untuk berjanji padaku. Aku menyuruhnya berjanji untuk tidak mengatakan kepada panitia dan pesertalain kalau aku menangis. Dan dia berjanji padaku. Aku juga tidak tahu, apakah dia bisa menjaga rahasia ini. Aku belum begitu mengenalnya. Aku baru melihatnya pagi itu di Lapangan Merdeka. Tapi, aku berharap semoga dia benar-benar bisa dipercaya.

Akhirnya aku pun meninggalkan nenek itu dan meuju ke tempat peserta berkumpul. Pipiku masih basah, hingga aku memperlambat jalanku. Dan mengusap sisa air mataku, samapi benar-benar kering. Aku masih belum bisa menyembunyikan rasa maluku pada cowok gondrong itu.Sangat malu rasanya menagis di depan cowok yang tidak aku kenal. Dan ini adalah pertama kalinya.

Teman-temanku ternyata dari tadi mencariku. Mereka kira aku nyasar. Aku mencoba beraktivitas lagi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha menyembunyikan tangisanku tadi. Kami akhirnya menghabiskan waktu berfoto-foto di dalam stasiun. Ada yang sibuk liputan, ada juga yang hanya foto-foto seperti aku. Karena, liputanku sudah selesai, jadi aku bisa santai. Karena penasaran, aku mengunjungi setiap gerbong yang ada. Aku manfaatin untuk foto-foto sepuasnya. Akhirnya, impianku untuk berfoto di rel kereta api kesampaian juga. Namun, sayangnya aku belum bisa benar-benar melakukan perjalanan dengan kereta api. Hikz..Hikz..







With Pacar hari Jumatku




Aku masih teringat kejadian itu, soalnya aku terus melihat cowok itu berkeliaran di depanku. Aku masih kawatir, apakah dia bisa menjaga rahasisa atau tidak. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku merasa sesuatu yang aneh. Aku juga tidak tahu rasa apa itu, rasa coklat atau strowberry ya? Hehhe..

Saat itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya. Aku bahkan meminta temanku untuk memoto kami berdua. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan (modus). Jadi malu deh. Hehehe. aku juga menuruh cowok itu memoto aku dengan teman-temanku yang lain. Dia seakan jadi fotografer pribadi sementara kami. Heheh.


Setelah beberapa lama, akhirnya kami kembali ke Lapangan Merdeka. Semua peserta berkumpul di sana. Karena hari itu hari Jumat, maka peserta dan panitia cowok menunaikan ibadah shalat Jumat. Dan yang lainnya menunggu di lapangan. Kami memutuskan untuk membeli es krim sembari menunggu yang lainnya datang. Lagi-lagi kami memanfaatkannya untuk foto-foto.


With Kiki dan Ayu Renisya (Trio Tomboy)
Makan Es Krim

Setelah mereka selesai shalat, kami kemudian diajak makan  siang di salah satu warung. Menu makanan kita kali ini adalah “Soto Medan”. Aku jadi ingat dengan “Coto Makassar”. Saat di tempat makan, aku kembali memikirkan kejadian waktu di stasiun kereta. Kok jadi kepikiran dia terus ya. Hahaha
Fto bareng di depan warung Soto Medan


Awalnya aku hanya biasa-biasa saja. Tapi, lama-kelamaan aku mulai sedikit memikirkannya. “Jane, ada apa denganmu? Sadarlah!,” kataku dalam hati sambil menggelengkan kepala. Aku mencoba mencari tahu tentang dia. Soalnya dia telah berani-beraninya mengganggu pikiranku. Aku bertanya kepada panitia, dan katanya dia crew mudah di Teropong. Pantas, dia jarang sekali kelihatan di kepanitiaan. Dia baru kelihatan waktu tahap peliputan.

Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta? Jika memang ini cinta, maka dia adalah cinta pertamaku. Soalnya, aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah pacaran selama ini. Bagiku pacaran itu tidak perlu dan tidak penting. Soalnya aku hanya ingin pacaran dengan suami nanti. Ya, pacaran setelah nikah gitu. Hehehe..

Cinta memang tidak harus memiliki, biarkan aku jatuh cinta pada “Bang Gondrong”. Aku tidak berharap bisa memilikinya dan bersamanya. Aku pun masih bingung apakah ini cinta atau perasaan kagum saja. Yang pasti, Jatuh cinta itu indah. Jangan kau takut jatuh cinta! 

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...