Minggu,
28 Mei 2012, pukul 19.00 Wib, Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tidak terasa
kami telah berada di Jakarta lagi. Awalnya
kami ingin melanjutkan perjalan ke Makassar malam itu. Tapi, karena keuangan salah
satu temanku menipis, akhirnya kami memutuskan tidak langsung pulang ke
Makassar dengan pesawat malam itu. Kami akan naik kapal laut menuju pelabuhan
Makassar.
Sebenarnya,
aku sudah ingin pulang ke Makassar malam itu karena besok aku ada pameran
multimedia sebagai ujian finalku. Namun, aku tidak mungkin meninggalkan mereka.
Mereka temanku, kami sama-sama datang, dan kami juga harus sama-sama pulang. Akhirnya
aku memutuskan untuk pulang bersama mereka menggunakan kapal laut.
Kak Arul menghubungi salah satu keluarganya yang tinggal di Jakarta. Akhirnya kami
menuju tempat keluarga kak Arul dengan menumpangi bus Damri. Kami tidak tahu jalan di Jakarta, kami sempat tersesat. Lalu,
kami kembali menggunakan taksi menuju rumah keluraga kak Arul. Alhamdulillah kami
tiba dengan selamat di tempat itu. Kami menginap semalam di tempat itu.
Dan
keesokan harinya, Senin 29 Mei 2012, om Kak Arul membelikan kami tiket
perjalanan pulang ke Makassar. Dengan mengendarai mobil yang disewakan oleh om
Kak Arul, kami menuju pelabuhan Tanjung Priuk. Kami pun menaiki kapal dan
mencari tempat untuk mengistirahatkan diri.
Setelah
beberapa jam menunggu, akhirnya kapal pun berangkat. Butuh waktu sehari untuk
sampai ke pelabuhan berikutnya. Berbagai kegiatan yang kami lakukan saat di
kapal. Bahkan salah satu temanku membeli domino untuk mengisi waktu luang. Kami pun mulai berbaur dengan penumpang kapal yang lainnya. Kami berbagi cerita dan
pengalaman. Kami pun mulai akrab satu sama lain.
Aku
baru sadar, ternyata aku sendirian cewek di antara kami berlima. Tapi, jangan
kawatir, mereka sudah menjadi keluarga. Aku justru senang bisa dijagain oleh
keempat cowok sekaligus. Hahahah. Saat kami tidur pun, aku tidur di
tengah-tengah mereka. Eitzt, jangan berpikir macam-macam dulu. Tetap ada
pembatas antara tempat tidurku dengan mereka. Ehehehe.
Setelah
menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya kami transit di pelabuhan Tanjung
Perak Surabaya. Karena kami belum pernah ke Surabaya, akhirnya kami memutuskan
untuk jalan-jalan sebentar. Kami hanya berjalan di sekitar pelabuhan dan
membeli persediaan makanan selama di perjalanan. Aku juga membeli pulsa, karena
aku ingin menelpon dosenku agar diberi keringan berupa ujian susulan untuk
ujian final. Berhubung aku belum bisa tiba hari Rabu besok.
Awalnya
aku ragu untuk menelpon. Soalnya, aku paling jengkel dengan dosenku yang satu
ini. Aku selalu mejadi bulan-belanannya di kelas. Soalnya aku mahasiswanya yang paling bandel. Aku sering kali membuatnya jengkel. Aku juga paling sering telat dan ribut kalau di kelas. Tapi, aku meberanikan
diri untuk menelponnya. Suaraku terbata-bata saat mengucakan kaliamat pembuka. Aku
mulai berbicara dengan beliau. Setelah percakapanku selesai, aku bingung dengan
ucapannya. Intinya, dia tidak menerima permintaan izinku dan tidak akan
meberiku ujian susulan.
Aku
sempat berpikir, andai aku pulang malam itu, aku mungkin bisa mengikuti pameran
multimedia di kampus. Tapi, aku berpikir, kalau nilaiku jelek, aku kan bisa
mengulang tahun depan atau mengambil semester pendek (SP). Tapi, aku lebih
memilih untuk meninggalkan kuliahku agar aku bisa menemani teman-temanku pulang
ke Makassar dengan kapal laut. Bagiku, ini lebih mulia tentunya.
Setelah
merasa puas berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, kami memutuskan untuk kembali
ke kapal. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan salah satu penumpang kapal. Anak
laki-laki dan kedua kakaknya itu ternyata telah berminggu-minggu terkatung-katung di
pelabuhan ini. Mereka tidak punya uang lagi untuk membeli tiket pulang ke
daerah mereka. Kami kasian melihat kedua kakaknya yang sedang hamil tua. Mereka butuh
pertolongan kami. Tapi, kami juga bingung bagaimana cara kami membantu mereka. Ini
bukan daerah kami. Keuangan kami pun menipis saat itu.
Akhirnya,
kami dan anak-laki-laki itu pergi ke
kantor polisi yang tidak jauh dari pelabuhan. Kami melaporkan kepada pihak
polisi tentang keadaan mereka yang telah berminggu-minngu di pelabuhan ini. Setelah
cukup lama bercerita dengan pihak kepolisiaan, akhirnya polisi mau membantu
kami agar anak laki-laki dan kedua kakaknya itu bisa pulang ke kampung halaman
mereka. Pihak kepolisian berjanji akan
menghubungi dinas perhubungan agar mereka bisa diberikan tumpangan untuk
kembali ke daerah mereka.
Kami
pun kembali ke tempat itu dan mengangkat barang-barang mereka ke kantor polisi.
Waw, barang-barang mereka lumayan banyak. Aku bahkan turun tangan membawakan
barang-barang mereka. Tapi, tentunya kami ikhlas melakukan ini. Kami senang
membantu. Inilah gunanya kami sebagai mahasiswa dan sebagai wartawan kampus. Tidak
sia-sia kami melalukan perjalanan malam itu. Karena pada akhirnya kami bisa
membantu orang yang membutuhkan pertolongan kami. Mungkin Tuhan sudah
menakdirkan kepada kami untuk menolong mereka. Bahagia rasanya bisa membantu
mereka. Kami pun pamitan kepada mereka dan mereka sangat bahagia. Akhirnya mereka
tidak terlantar lagi dan bisa kembali ke daerah mereka.
Kami
pun memutuskan kembali ke kapal dan beristirahat. Teman kami Amir pasti sudah
jenuh menunggu kami yang sudah sejak tadi pergi meninggalkan dia di kapal. Ya,
kami memang selalu bergantian menjaga barang bawaan kami. Ketika ada yang
pergi, harus ada satu orang yang menjaga barang. Jangan sampai ada yang
mengambil barang-barang kami. Maaf ya Amir, sudah menunggu lama.
Malam
itu, kami mendapat musibah. Dompet Kak Arul dicopet. Di dalam dompet itu ada
sejumlah uang dan surat-surat berharga lainnya. Namun, kami hanya bisa mengikhlaskannya
dan berharap akan mendapatkan gantinya kelak. Kak Arul pun mencoba
mengikhlaskannya. Setelah kejadian itu, kami mulai berhati-hati. Kami trauma
akan ada kejadian berikutnya.
Untuk
melupakan kejadian itu, mereka kembali bermain domino hingga larut malam. Aku bahkan
tidak tahu apa yang mereka kerjakan selanjutnya. Aku sudah sangat lelah dan memutuskan
untuk tidur.
Saat
aku bangun, aku pun segera ke kamar mandi. Soalnya aku ingin melihat matahari
terbit. Aku dan salah satu temanku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar
kapal. Kami memanfaatkan untuk berfoto-foto dan mengabadikan momen selama
berada di kapal. Ya, tentunya untuk menambah koleksi foto-foto kami. Eheheh.
Setelah
menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya malam itu kami tiba juga di Pelabuhan
Makassar. Perjalanan dari Jakarta ke Makassar menghabiskan waktu 3 hari 3
malam. Sungguh perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Ada hikmah di
balik semua perjalanan ini. Tak sabar rasanya ingin bercerita dengan
teman-teman di redaksi tentang pengalaman kami selama di Medan-Jakarta-Surabaya.
---Jane Jamlu---
*Sumber Foto :









































































