Aku
masih semangat melanjutkan tulisanku, hingga aku merasa puas. Tidak ada
bosan-bosannya aku dengan kota itu. Di tulisanku kali ini, aku akan
menceritakan mengenai malam penutupan dari rangkaian kegiatan PJTL Almamater ini.
Setelah
seharian menghabiskan waktu jalan-jalan ke Merdeka Walk, Stasiun Kereta Api, dan
makan siang di warung soto Medan, kami kembali ke Mess dan mulai mengerjakan
tugas liputan. Saat tiba, di Mess, aku
dan kedua teman sekamarku segra masuk ke kamar. Aku menunda untuk mandi,
karena aku naskah feature akan segera
dikumpul. Aku pun mengambil “QiQy” (nama laptopku) dan segera menulis. Aku
kembali memutar rekaman hasil wawancaraku dengan Nenenk Ida.
Aku
hampir nangis lagi saat aku mendengarkan isi rekaman itu. Suara Nenek Ida
benar-benar bergetar hingga menggetarkan hatiku. Kata demi kata mulai aku
rangkai dalam tulisanku. Sebenarnya, ini
adalah kali pertama aku menulis feature.
Selama di Profesi, aku lebih sering menulis berita dalam bentuk straight news (berita langsung). Awalnya
aku ragu, namun aku tetap menulis dan bercerita sesaui dengan apa yang aku
lihat dan aku rasakan saat wawancara siang itu.
Setelah
tulisanku selesai, aku bingung saat ingin menentukan judulnya. Aku memang
selalu terkendala persoalan judul tulisan. Namun, aku iseng-iseng memberi judul
tulisanku yaitu “Nek, Kau Buatku
Menangis”. Aku memilih judul ini, karena ini sesuai dengan yang aku
rasakan. Aku memang menangis. Aku menangis karena nenek itu. Lalu, aku
mengumpulkan featureku ke panitia.
Malam
pun tiba, kami kembali berkumpul di ruangan. Malam itu merupakan malam
penutupan PJTL Almamater. Rasanya baru kemarin kita pembukaan, sekarang sudah
waktunya penutupan. Tak ingin rasanya mengakhiri kebersamaan ini. Aku masih
ingin kumpul dan bercerita dengan peserta dan panitia. Aku masih ingin ke
stasiun kereta api. Aku masih ingin mengunjungi tempat-tempat indah di kota
Medan.
![]() |
| Foto bareng di malam penutupan |
Sebelum
acara penutupan dimulai, panitia akan mengumumkan pemenang dari lomba penulisan
feature. Kami sudah tidak sabar untuk mendengar siaa yang akan
menjadi pemenang lomba kali ini. Aku memang tidak yakin bakal menang, karena
ini adalah pertama kalinya aku menulis feature.
“Pemenang feature terbaik adalah
Nurjanna Jamaluddin dengan judul tulisan Nek,
Kau Buatku Menangis dan Muhammad
Imron,” ucap salah satu panitia.
Senang
bercampur rasa tak percaya. Aku memenangkan lomba itu. Tulisanku adalah salah
satu yang terbaik. Teman-temanku memberiku selamat. Aku bahagia sekali. Padahal
aku merasa tulisanku tidak bagus. Aku berterima kasih pada Tuhan dan juga pada Nenek
Ida. Karena dia, tulisanku bisa juara. Aku menerima hadiah berupa buku yang
diserahkan langsung oleh Ketua Forum Alumni Terpong (Format) Muhammad Arifin, S.Pd., M.Pd. Judul bukunya
“Setelah Damai di Helsinki”, buku kumpulan tulisan tentang Aceh dalam lima
tahun terakhir yang dieditori oleh Linda Christanty (Penulis Feature, anggota Grakan Aceh Merdeka). Di dalamnya sudah ada
tanda tangan kak Linda juga lo.
![]() |
| Buku Hadiah Lomba Feature Terbaik |
![]() |
| Tanda tangan teman-teman PJTL ku |
Setelah
penerimaan hadiah, kami dan panitia diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan
dan kesan selama mengikuti kegiatan. Satu persatu nama kami dipanggil. Hingga
akhirnya giliranku tiba. “Aku senang bisa ke Medan. Aku bisa menyebarangi dua
pulau. Aku bisa mengenal orang-orang Medan. Mungkin bagi peserta ini serasa
sehari saja,namun bagi panitia ini serasa setahun,” ucapku sambil tersenyum.
Panitia dan peserta pun tertawa saat aku menyampaikan pesan dan kesanku.
Meskipun tidak lucu sih.
![]() |
| Aku menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti pelatihan ini |
Bukan
pesan dan kesanku saja yang dinilai lucu, pesan dan kesan peserta lain pun
membuat suasana malam itu semakin berwarna dan
tentunya ada juga yang mengocok perut kita. Namun, dia antara pesan dan
kesan pesrta, aku paling suka pesan dan kesan yang kesan dari Fadilah Utami. Dia
mengatakan bahwa dia bisa kenal sama orang yang tampangnya garang tapi kok bisa
nangis. Ucapan Fadilah sontak membuat panitia dan peserta tertawa. Kenapa dia
bisa tahu kalau aku nangis? Waduh, jadi malu deh. (Video Fadilah saat menyampaikan pesan dan kesannya)
Pada
akhirnya semua orang tahu kalau aku menagis waktu di stasiun. Aku bahkan
berpikir, apakah Bang Gondrong yang
membocorkannya. Tapi, aku percaya kalau Bang
Gondrong tidak mungkin melakukan itu. Dia sudah berjanji padaku. Dan aku
percaya dia tidak mungkin melanggar janjinya. Ternyata bukan dia saja yang
melihatku menagis waktu itu. Tanpa sepengetahuan kami, panitia dan peserta lain
tahu kalau aku menagis saat wawancara waktu itu. Aku benar-benar malu. Tapi,
biarlah, toh akhirnya aku bisa menang karena tulisanku itu.
Akhirnya,
penutupan pun usai. Kami berkumpul dan berfoto bersama. Dan panitia membagikan
kenang-kenangan kepada masing-masing LPM dan membagikan sertifikat kepada
masing-masing peserta.
Kami
pun kembali ke kamar masing-masing, dan bersiap-siap untuk perjalanan panjang. Seperti
yang sudah dijanjikan oleh panitia, kita akan fieldtrip di Danau Toba Perapat dan Pulau Samosir Tomok. Sudah
tidak sabar ingin menyaksikan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir.
![]() |
| Foro bersama ketua Forum Alumni Teropong (Format) |
![]() |
| Penyerahan serifikat dari Pimpinan Umum LPM Teropong Fadli Akbar Lubis |
![]() |
| Sertifikatku |
![]() |
| Sertifikat Seminar |
Setelah
membeeskan barang-barang kami pun berkumpul di depan Mess. Ini adalah malam
terakhir di Mess. Aku tak akan melupajkan keceriaan yang sempat terukir selama
lima hari di tempat itu. Sejuta kenangan indah bakal menghiasi benakku. Sebelum
naik ke bus, salah satu panitia meminta topiku. Dia sangat suka dengan gayaku.
Katanya, dia ngefans lo ke aku.
Namun, aku tidak bisa memberikan topiku kepadanya. Soalnyaa, topi itu adalah
topi pemberian salah satu fansku di
Makassar. Maaf ya dek, aku tidak bisa meberikan topiku waktu itu. Aku juga
tidak sempat mengambil topiku yang satunya, soalnya sudah masuk di dalam koper.
Setelah
semuanya berkumpul, kami pun menaiki bus. Aku duduk di samping Ayu Tifani. Kami
sudah sangat dekat sejak kemarin. Di sepanjang perjalanan kami bercerita.
Karena dia anak Medan, aku bertanya da menyuruhnya bercerita seputar Medan.
Banyak yang dia ceritakan. Senagn bisa ngobrol dengannya. Karena sudah lelah,
kami pun memutuskan untuk tidur dan menunggu sampai bus ini mengantar kami ke
tempat tujuan.
![]() |
| Ini Ayu Tifani, teman dudukku di bus. |
---JaneJamlu---
*Sumber Foto : Almamater -> Suasana PJTL












Tidak ada komentar:
Posting Komentar