Rabu, 24 April 2013

Malam Penutupan PJTL Almamater


Aku masih semangat melanjutkan tulisanku, hingga aku merasa puas. Tidak ada bosan-bosannya aku dengan kota itu. Di tulisanku kali ini, aku akan menceritakan mengenai malam penutupan dari rangkaian kegiatan PJTL Almamater ini.

Setelah seharian menghabiskan waktu jalan-jalan ke Merdeka Walk, Stasiun Kereta Api, dan makan siang di warung soto Medan, kami kembali ke Mess dan mulai mengerjakan tugas liputan. Saat tiba, di Mess, aku  dan kedua teman sekamarku segra masuk ke kamar. Aku menunda untuk mandi, karena aku naskah feature akan segera dikumpul. Aku pun mengambil “QiQy” (nama laptopku) dan segera menulis. Aku kembali memutar rekaman hasil wawancaraku dengan Nenenk Ida.

Aku hampir nangis lagi saat aku mendengarkan isi rekaman itu. Suara Nenek Ida benar-benar bergetar hingga menggetarkan hatiku. Kata demi kata mulai aku rangkai dalam tulisanku.  Sebenarnya, ini adalah kali pertama aku menulis feature. Selama di Profesi, aku lebih sering menulis berita dalam bentuk straight news (berita langsung). Awalnya aku ragu, namun aku tetap menulis dan bercerita sesaui dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan saat wawancara siang itu.

Setelah tulisanku selesai, aku bingung saat ingin menentukan judulnya. Aku memang selalu terkendala persoalan judul tulisan. Namun, aku iseng-iseng memberi judul tulisanku yaitu “Nek, Kau Buatku Menangis”. Aku memilih judul ini, karena ini sesuai dengan yang aku rasakan. Aku memang menangis. Aku menangis karena nenek itu. Lalu, aku mengumpulkan featureku ke panitia.

Malam pun tiba, kami kembali berkumpul di ruangan. Malam itu merupakan malam penutupan PJTL Almamater. Rasanya baru kemarin kita pembukaan, sekarang sudah waktunya penutupan. Tak ingin rasanya mengakhiri kebersamaan ini. Aku masih ingin kumpul dan bercerita dengan peserta dan panitia. Aku masih ingin ke stasiun kereta api. Aku masih ingin mengunjungi tempat-tempat indah di kota Medan.
Foto bareng di malam penutupan

Sebelum acara penutupan dimulai, panitia akan mengumumkan pemenang dari lomba penulisan feature. Kami sudah  tidak sabar untuk mendengar siaa yang akan menjadi pemenang lomba kali ini. Aku memang tidak yakin bakal menang, karena ini adalah pertama kalinya aku menulis feature. “Pemenang feature terbaik adalah Nurjanna Jamaluddin dengan judul tulisan Nek, Kau Buatku Menangis  dan Muhammad Imron,” ucap salah satu panitia.

Senang bercampur rasa tak percaya. Aku memenangkan lomba itu. Tulisanku adalah salah satu yang terbaik. Teman-temanku memberiku selamat. Aku bahagia sekali. Padahal aku merasa tulisanku tidak bagus. Aku berterima kasih pada Tuhan dan juga pada Nenek Ida. Karena dia, tulisanku bisa juara. Aku menerima hadiah berupa buku yang diserahkan langsung oleh Ketua Forum Alumni Terpong (Format) Muhammad Arifin, S.Pd., M.Pd. Judul bukunya “Setelah Damai di Helsinki”, buku kumpulan tulisan tentang Aceh dalam lima tahun terakhir yang dieditori oleh Linda Christanty (Penulis Feature, anggota Grakan Aceh Merdeka). Di dalamnya sudah ada tanda tangan kak Linda juga lo.
Buku Hadiah Lomba Feature Terbaik


Tanda tangan teman-teman PJTL ku

Setelah penerimaan hadiah, kami dan panitia diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan. Satu persatu nama kami dipanggil. Hingga akhirnya giliranku tiba. “Aku senang bisa ke Medan. Aku bisa menyebarangi dua pulau. Aku bisa mengenal orang-orang Medan. Mungkin bagi peserta ini serasa sehari saja,namun bagi panitia ini serasa setahun,” ucapku sambil tersenyum. Panitia dan peserta pun tertawa saat aku menyampaikan pesan dan kesanku. Meskipun tidak lucu sih.
Aku menyampaikan pesan dan  kesan selama mengikuti  pelatihan ini
Bukan pesan dan kesanku saja yang dinilai lucu, pesan dan kesan peserta lain pun membuat suasana malam itu semakin berwarna dan  tentunya ada juga yang mengocok perut kita. Namun, dia antara pesan dan kesan pesrta, aku paling suka pesan dan kesan yang kesan dari Fadilah Utami. Dia mengatakan bahwa dia bisa kenal sama orang yang tampangnya garang tapi kok bisa nangis. Ucapan Fadilah sontak membuat panitia dan peserta tertawa. Kenapa dia bisa tahu kalau aku nangis? Waduh, jadi malu deh. (Video Fadilah saat menyampaikan pesan dan kesannya)

Pada akhirnya semua orang tahu kalau aku menagis waktu di stasiun. Aku bahkan berpikir, apakah Bang Gondrong yang membocorkannya. Tapi, aku percaya kalau Bang Gondrong tidak mungkin melakukan itu. Dia sudah berjanji padaku. Dan aku percaya dia tidak mungkin melanggar janjinya. Ternyata bukan dia saja yang melihatku menagis waktu itu. Tanpa sepengetahuan kami, panitia dan peserta lain tahu kalau aku menagis saat wawancara waktu itu. Aku benar-benar malu. Tapi, biarlah, toh akhirnya aku bisa menang karena tulisanku itu.

Akhirnya, penutupan pun usai. Kami berkumpul dan berfoto bersama. Dan panitia membagikan kenang-kenangan kepada masing-masing LPM dan membagikan sertifikat kepada masing-masing peserta.
Kami pun kembali ke kamar masing-masing, dan bersiap-siap untuk perjalanan panjang. Seperti yang sudah dijanjikan oleh panitia, kita akan fieldtrip di Danau Toba Perapat dan Pulau Samosir Tomok. Sudah tidak sabar ingin menyaksikan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir.
Foro bersama ketua Forum Alumni Teropong (Format) 
Penyerahan serifikat dari Pimpinan Umum LPM Teropong Fadli Akbar Lubis
Sertifikatku
Sertifikat Seminar

Setelah membeeskan barang-barang kami pun berkumpul di depan Mess. Ini adalah malam terakhir di Mess. Aku tak akan melupajkan keceriaan yang sempat terukir selama lima hari di tempat itu. Sejuta kenangan indah bakal menghiasi benakku. Sebelum naik ke bus, salah satu panitia meminta topiku. Dia sangat suka dengan gayaku. Katanya, dia ngefans lo ke aku. Namun, aku tidak bisa memberikan topiku kepadanya. Soalnyaa, topi itu adalah topi pemberian salah satu fansku di Makassar. Maaf ya dek, aku tidak bisa meberikan topiku waktu itu. Aku juga tidak sempat mengambil topiku yang satunya, soalnya sudah  masuk di dalam koper.

Setelah semuanya berkumpul, kami pun menaiki bus. Aku duduk di samping Ayu Tifani. Kami sudah sangat dekat sejak kemarin. Di sepanjang perjalanan kami bercerita. Karena dia anak Medan, aku bertanya da menyuruhnya bercerita seputar Medan. Banyak yang dia ceritakan. Senagn bisa ngobrol dengannya. Karena sudah lelah, kami pun memutuskan untuk tidur dan menunggu sampai bus ini mengantar kami ke tempat tujuan.
Ini Ayu Tifani, teman dudukku di bus.


---JaneJamlu---


*Sumber Foto : Almamater -> Suasana PJTL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...