Rabu, 24 April 2013

Keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir

Danau Toba
Aku masih semangat menulis nih teman-teman. Biasanya aku mulai malas jika terus-terusan menulis. Tapi, entah mengapa, menulis cerita indah ketika di Medan membuatku semangat untuk terus menulis. Kali ini aku akan melanjutkan ceritaku saat menginjakkan kaki pertama kali di Danau Toba Perapat.

Setelah menempuh perjalanan malam selama kurang lebih 6 jam, akhirnya kami tiba di Perapat. Suhu dingin menyambut kedatangaan kami. Karena memang masihsubuh waktu itu. Matahari pun belum nampak. Setelah turun dari bus, kami menuju ke Danau Toba. Waw, indahnya Danau Toba. Benar-benar indah. Sangat luas. Selama ini, aku hanya taahu tenatang Danau Toba dari buku IPS waktu SD dulu dan  siaran di TV. Sekarag akau bisa menyaksikan langsung indahnya danau ini.
Foto pertama saat menginjakkan kaki di Danau Toba-Perapat
Foto bareng Aan

Menikmati indahnya Danau Toba

Danau Toba

Setelah merasa puas menikmati keindahan danau dan berfoto-foto, kami menuju dermaga. Ada yang memanfaatkan untuk mandi di danau. Ada juga yang asyik foto-foto, seperti aku tentunya. Ada juga yang memanfaatkan untuk tidur. Kata panitia, kita akan menyebrang ke Pulau Samosir. Di sana kita bisa melihat rumah adat Medan dan membeli cinderamata.

Setelah sarapan, kami pun menaiki perahu yang akan membawa kami ke pulau tersebut. Butuh waktu kurang lebih sejam untuk bisa sampai ke sana. Di sepanjang jalan, kami menikamati udara segar di Danau Toba. Menyaksikan luasnya danau ini. Setelah cukup lama, akhirnya kami bisa melihat tulisan “PULAU SAMOSIR” dari kejauhan. Dan akhirnya perahu kami  pun tiba di Pulau Samosir.
Foto di atas perahu

Kami memanfaatkan untuk foto bersama di depan tugu yang bertuliskan nama-nama marga yang ada di Medan. Setelah puas berfoto, kami pun menyebar dan mengelilingi tempat itu. Ada banyak cinderamata yang dijual di sana. Mulai dari gantungan kunci hingga baju. Tanpa lengkap rasanya jika pergi ke suatu tempat tanpa mebawa ole-ole untuk teman. Aku memutuskan untuk membeli gantungan kunci untuk anak redaksi dan temanku di Asrana Putri, serta baju untuk keluargaku.
Foto di depan tugu bertuliskan nama-nama marga yang ada di Medan

Bersama dengan Fadilah yang katanya jago nawar, aku berkeliling mencari cinderamata. Aku membeli syal warna merah dan syal ungu untuk ID (sahabatku). Aku juga membeli 10 ulos untuk aku bagikan kepada Ben 10 (Teman seperjuaanganku di Redaksi). Aku dan teman-teman peserta juga membeli 22 gelang persahabatan. Kami berharap gelang ini bisa menjadi kenangan kami. Sampai sekarang aku masih memakai gelang itu, meskipun telah aku permak sedikit.
Gelang Persahabatan

Belanja gantungan kunci

Belanja bareng  Nurie dan Tuni di depan toko
Belanja cinderamata

Setelah merasa puas berbelanja, kami pun dipanggil panitia untuk berkumpul di depan rumah adat. Saat melihat rumah adat itu, ternyata ada sedikit persamaan antara Medan dan Makassar. Rumah adat Medan hampir mirip dengan rumah adat Tana Toraja (Tator) di Makassar. Awalnya aku mengira berada di Tator, tapi ternyata aku masih di Medan rupanya.

Kita disuruh berkumpul karena kita akan menari Tari Tor-tor bersama dengan patung Si Gale-gale. Setelah musik dimainkan, para peserta dan panitia berjoget. Tapi, aku tidak ikut menari dengan mereka. Aku memang  pemalu orangnya. 
Menyaksikan teman-teman menari

Tapi, setelah lagu kedua usai, entah apa yang menggerakkan diriku, aku seakan terpanggil dan sangaat ingin menari bersama teman-teman lainnya. Aku seakan terhipnotis, aku tidak malu untuk bergabung dengan yang lainnya. Lagu “Anak Medan” menjadi lagu terakhir yang diputar saat itu. Semua menari, semua berjoget tanpa malu-malu. Aku pun ikut menari, meski tidak seperti semangat menari yang lainnya.
Aku ikut menari dengan mereka

Foto bersama Patung Si Gale-gale


Foto bersama Patung Si Gale-gale

Foto bersama peserta dan panitia di depan rumah adat Medan

Foto bareng Ketua Panitia Bang Akmal

Raut wajah penuh kegembiraan terpancar di wajah peserta dan  panitia, temasuk aku. Hari itu benar-benar indah. Tak ingin rasanya mengakhiri keceriaan di hari itu. Namun, kami harus kembali ke Kota Medan. Akhirnya kami pun kembali menuju dermaga dan menaiki perahu. Padahal kami masih ingin berada di sana. Aku berharap bisa kembali ke sana lagi suatu hari nanti. Amin.

Sebelum kami pulang ke Kota Medan, kami menyempatkan untuk makan siang. Aku tidak tahu mau makan apa. Awalnya aku takut makan di tempat itu, takut kalau makanannyaa tidak halal baagiku. Tapi, kata temanku, di sini juga disediakan makanan untuk orang muslim. Akhirnya aku memutuskan untuk makan meskipun masih ragu-ragu.

Tiba-tiba, dadaku sakit. Sakit sekali sampai aku hampir pingsan. Temanku tahu kalau aku sakit. Mereka berusaha mencarikanku obat penahan sakit. Mereka bingung, soalnya mereka tidak tahu apa penyakitku. Aku pun tidak tahu aku sebenarnya sakit apa. Penyakit ini memang sudah lama menggangguku. Akhirnya, aku hanya minum air putih, dan itu sedikit membuat sakitnya hilang.

Panitia sudah lama  mencari kami. Aku dan teman-temanku akhirnya kembali ke bus setelah keliling mencari cinderamata untuk si Ucok. Selang beberpa menit, bus kami pun berangkat kembali ke Kota Medan. Aku tak akakn melupakan tempat ini, meski aku kehilangan ingatan sekalipun. Aku berharap bisa ke tempat ini lagi. Semoga.

Saat dalam perjalanan pulang ke kota, tiba-tiba sakit dadaku kambuh. Sakit banget. Aku mual, rasanya aku ingin muntah. Aku segera ke toilet bus yang ada di ujung belakang. Aku memuntahkan semua makanan yang aku makan tadi. Dadaku makin sesak. Sakit sekali, rasanya aku ingin pingsan. Aku bolak-balik masuk toilet, dan lagi-lagi aku muntah. Tapi, aku muntah bukan karena mabuk darat.

Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di belakang. Aku tidak kembali ke tempat dudukku di depan. Aku takut jika aku mual lagi. Aku memutuskan duduk di dekat pintu bus. Berharap angin segar di luar sana membuatku nyaman. Aku pun mencoba menutu mata dan akhirnya terlelap. Sesekali aku terbangun saat sakitnya terasa lagi. Ak benar-benar tersiksa dalam perjalanan pulang. Berharap aku masih bisa bertahan sampai di kota.

Karena, aku memutuskan untuk duduk di belakang, Ayu Tifani teman dudukku kawatir. Ayu heran mengapa aku tidak kembali ke tempat dudukku. Dia dan teman-teman lainnya memutuskan untuk ke belakang mencariku. “Jane, kamu kenapa? Masih sakit dadanya,” tanya Ayu. “Iya, masih sakit, makanya aku tidak kembali ke depan,” jawabku lemas. Mereka menyuruhku kembali ke dean, tapi aku menolak. Aku lebih suka di duduk di belakang. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke depan. Sesekali mereka mengunjungiku dan memberikan minyak angin untuk penahan sakit. Ternyata mereka mengkhwatirkanku. Meskipun baru lima hari mengenal mereka, namun seperti ada ikatan batin di antara kami.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa tiba di kota. Aku bersyukur, aku masih bisa bertahan dengan keadaanku waktu itu. Sakitnya sudah tak terasa lagi. Setelah tiba di kampus UMSU, aku dan salah satu temanku diajak oleh salah  satu panitia untuk menginap di kostnya. Sedangkan teman yang lainnya nginap di kost panitia yang lain. Peserta yang berasal dari Medan, mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.

Aku dan Astuni menghabiskan malam bersama. Eits, jangan pikir yang macam-macam ya. Kami bercerita tentang LPM kami masing-masing. Banyak cerita yang aku dapatkan dari adik kecil itu. Suaranya yang khas sering kali mebuatku ketawa. Itulah yang mengingatkanku padanya. Aku bahkan memintanya menjadi alarmku. Awalnya dia menolak, namun akhirnya dia mau. Aku merekam suaranya berulang kali. Aku tidak bisa menahan tawaku. Aku terus tertawa.dan  akhirnya aku mendapatkan rekaman suaranya untuk aku jadikan alarm. “Kak Jane, bangun donk. Kak Jane, bangun-bangun-bangun. Kak Jane cepat donk bangunnya, udah siang nih,” ucap Tuni dalam rekamannya. Samapi sekarang suara relkaman Tuni aku jadikan sebagai alarmku. Dan ternyata benar-benar ampuh dalam membangunkanku dari tidurku. Thanks ya adik kecilku.

---JaneJamlu---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...