![]() |
| Danau Toba |
Aku
masih semangat menulis nih teman-teman. Biasanya aku mulai malas jika
terus-terusan menulis. Tapi, entah mengapa, menulis cerita indah ketika di
Medan membuatku semangat untuk terus menulis. Kali ini aku akan melanjutkan
ceritaku saat menginjakkan kaki pertama kali di Danau Toba Perapat.
Setelah
menempuh perjalanan malam selama kurang lebih 6 jam, akhirnya kami tiba di
Perapat. Suhu dingin menyambut kedatangaan kami. Karena memang masihsubuh waktu
itu. Matahari pun belum nampak. Setelah turun dari bus, kami menuju ke Danau
Toba. Waw, indahnya Danau Toba. Benar-benar indah. Sangat luas. Selama ini, aku
hanya taahu tenatang Danau Toba dari buku IPS waktu SD dulu dan siaran di TV. Sekarag akau bisa menyaksikan
langsung indahnya danau ini.
![]() |
| Foto pertama saat menginjakkan kaki di Danau Toba-Perapat |
![]() |
| Foto bareng Aan |
![]() |
| Menikmati indahnya Danau Toba |
![]() |
| Danau Toba |
Setelah
merasa puas menikmati keindahan danau dan berfoto-foto, kami menuju dermaga.
Ada yang memanfaatkan untuk mandi di danau. Ada juga yang asyik foto-foto,
seperti aku tentunya. Ada juga yang memanfaatkan untuk tidur. Kata panitia,
kita akan menyebrang ke Pulau Samosir. Di sana kita bisa melihat rumah adat
Medan dan membeli cinderamata.
Setelah
sarapan, kami pun menaiki perahu yang akan membawa kami ke pulau tersebut. Butuh
waktu kurang lebih sejam untuk bisa sampai ke sana. Di sepanjang jalan, kami
menikamati udara segar di Danau Toba. Menyaksikan luasnya danau ini. Setelah
cukup lama, akhirnya kami bisa melihat tulisan “PULAU SAMOSIR” dari kejauhan.
Dan akhirnya perahu kami pun tiba di Pulau
Samosir.
![]() |
| Foto di atas perahu |
Kami
memanfaatkan untuk foto bersama di depan tugu yang bertuliskan nama-nama marga
yang ada di Medan. Setelah puas berfoto, kami pun menyebar dan mengelilingi
tempat itu. Ada banyak cinderamata yang dijual di sana. Mulai dari gantungan
kunci hingga baju. Tanpa lengkap rasanya jika pergi ke suatu tempat tanpa
mebawa ole-ole untuk teman. Aku memutuskan untuk membeli gantungan kunci untuk
anak redaksi dan temanku di Asrana Putri, serta baju untuk keluargaku.
![]() |
| Foto di depan tugu bertuliskan nama-nama marga yang ada di Medan |
Bersama
dengan Fadilah yang katanya jago nawar, aku berkeliling mencari cinderamata.
Aku membeli syal warna merah dan syal ungu untuk ID (sahabatku). Aku juga
membeli 10 ulos untuk aku bagikan kepada Ben
10 (Teman seperjuaanganku di Redaksi). Aku dan teman-teman peserta juga
membeli 22 gelang persahabatan. Kami berharap gelang ini bisa menjadi kenangan
kami. Sampai sekarang aku masih memakai gelang itu, meskipun telah aku permak
sedikit.
![]() |
| Gelang Persahabatan |
![]() |
| Belanja gantungan kunci |
![]() |
| Belanja bareng Nurie dan Tuni di depan toko |
![]() |
| Belanja cinderamata |
Setelah
merasa puas berbelanja, kami pun dipanggil panitia untuk berkumpul di depan
rumah adat. Saat melihat rumah adat itu, ternyata ada sedikit persamaan antara
Medan dan Makassar. Rumah adat Medan hampir mirip dengan rumah adat Tana Toraja
(Tator) di Makassar. Awalnya aku mengira berada di Tator, tapi ternyata aku masih di
Medan rupanya.
Kita
disuruh berkumpul karena kita akan menari Tari Tor-tor bersama dengan patung Si Gale-gale. Setelah musik dimainkan,
para peserta dan panitia berjoget. Tapi, aku tidak ikut menari dengan mereka.
Aku memang pemalu orangnya.
![]() |
| Menyaksikan teman-teman menari |
Tapi,
setelah lagu kedua usai, entah apa yang menggerakkan diriku, aku seakan
terpanggil dan sangaat ingin menari bersama teman-teman lainnya. Aku seakan
terhipnotis, aku tidak malu untuk bergabung dengan yang lainnya. Lagu “Anak
Medan” menjadi lagu terakhir yang diputar saat itu. Semua menari, semua
berjoget tanpa malu-malu. Aku pun ikut menari, meski tidak seperti semangat
menari yang lainnya.
![]() |
| Aku ikut menari dengan mereka |
![]() |
| Foto bersama Patung Si Gale-gale |
![]() |
| Foto bersama Patung Si Gale-gale |
![]() |
| Foto bersama peserta dan panitia di depan rumah adat Medan |
![]() |
| Foto bareng Ketua Panitia Bang Akmal |
Raut
wajah penuh kegembiraan terpancar di wajah peserta dan panitia, temasuk aku. Hari itu benar-benar
indah. Tak ingin rasanya mengakhiri keceriaan di hari itu. Namun, kami harus
kembali ke Kota Medan. Akhirnya kami pun kembali menuju dermaga dan menaiki
perahu. Padahal kami masih ingin berada di sana. Aku berharap bisa kembali ke
sana lagi suatu hari nanti. Amin.
Sebelum
kami pulang ke Kota Medan, kami menyempatkan untuk makan siang. Aku tidak tahu
mau makan apa. Awalnya aku takut makan di tempat itu, takut kalau makanannyaa
tidak halal baagiku. Tapi, kata temanku, di sini juga disediakan makanan untuk
orang muslim. Akhirnya aku memutuskan untuk makan meskipun masih ragu-ragu.
Tiba-tiba,
dadaku sakit. Sakit sekali sampai aku hampir pingsan. Temanku tahu kalau aku
sakit. Mereka berusaha mencarikanku obat penahan sakit. Mereka bingung, soalnya
mereka tidak tahu apa penyakitku. Aku pun tidak tahu aku sebenarnya sakit apa.
Penyakit ini memang sudah lama menggangguku. Akhirnya, aku hanya minum air
putih, dan itu sedikit membuat sakitnya hilang.
Panitia
sudah lama mencari kami. Aku dan
teman-temanku akhirnya kembali ke bus setelah keliling mencari cinderamata
untuk si Ucok. Selang beberpa menit,
bus kami pun berangkat kembali ke Kota Medan. Aku tak akakn melupakan tempat
ini, meski aku kehilangan ingatan sekalipun. Aku berharap bisa ke tempat ini
lagi. Semoga.
Saat
dalam perjalanan pulang ke kota, tiba-tiba sakit dadaku kambuh. Sakit banget.
Aku mual, rasanya aku ingin muntah. Aku segera ke toilet bus yang ada di ujung
belakang. Aku memuntahkan semua makanan yang aku makan tadi. Dadaku makin
sesak. Sakit sekali, rasanya aku ingin pingsan. Aku bolak-balik masuk toilet,
dan lagi-lagi aku muntah. Tapi, aku muntah bukan karena mabuk darat.
Akhirnya
aku memutuskan untuk duduk di belakang. Aku tidak kembali ke tempat dudukku di
depan. Aku takut jika aku mual lagi. Aku memutuskan duduk di dekat pintu bus.
Berharap angin segar di luar sana membuatku nyaman. Aku pun mencoba menutu mata
dan akhirnya terlelap. Sesekali aku terbangun saat sakitnya terasa lagi. Ak
benar-benar tersiksa dalam perjalanan pulang. Berharap aku masih bisa bertahan
sampai di kota.
Karena,
aku memutuskan untuk duduk di belakang, Ayu Tifani teman dudukku kawatir. Ayu
heran mengapa aku tidak kembali ke tempat dudukku. Dia dan teman-teman lainnya
memutuskan untuk ke belakang mencariku. “Jane, kamu kenapa? Masih sakit
dadanya,” tanya Ayu. “Iya, masih sakit, makanya aku tidak kembali ke depan,”
jawabku lemas. Mereka menyuruhku kembali ke dean, tapi aku menolak. Aku lebih
suka di duduk di belakang. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke depan.
Sesekali mereka mengunjungiku dan memberikan minyak angin untuk penahan sakit.
Ternyata mereka mengkhwatirkanku. Meskipun baru lima hari mengenal mereka,
namun seperti ada ikatan batin di antara kami.
Alhamdulillah,
akhirnya kami bisa tiba di kota. Aku bersyukur, aku masih bisa bertahan dengan
keadaanku waktu itu. Sakitnya sudah tak terasa lagi. Setelah tiba di kampus
UMSU, aku dan salah satu temanku diajak oleh salah satu panitia untuk menginap di kostnya. Sedangkan teman yang lainnya
nginap di kost panitia yang lain.
Peserta yang berasal dari Medan, mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.
Aku
dan Astuni menghabiskan malam bersama. Eits, jangan pikir yang macam-macam ya.
Kami bercerita tentang LPM kami masing-masing. Banyak cerita yang aku dapatkan
dari adik kecil itu. Suaranya yang khas sering kali mebuatku ketawa. Itulah
yang mengingatkanku padanya. Aku bahkan memintanya menjadi alarmku. Awalnya dia
menolak, namun akhirnya dia mau. Aku merekam suaranya berulang kali. Aku tidak
bisa menahan tawaku. Aku terus tertawa.dan
akhirnya aku mendapatkan rekaman suaranya untuk aku jadikan alarm. “Kak
Jane, bangun donk. Kak Jane, bangun-bangun-bangun. Kak Jane cepat donk
bangunnya, udah siang nih,” ucap Tuni dalam rekamannya. Samapi sekarang suara
relkaman Tuni aku jadikan sebagai alarmku. Dan ternyata benar-benar ampuh dalam
membangunkanku dari tidurku. Thanks ya adik kecilku.
---JaneJamlu---
*Sumber Foto : Almamater 2012 -> Danau Toba dan Pulau Samosir






















Tidak ada komentar:
Posting Komentar