Senin, 22 April 2013

Cinta Bersemi di Stasiun Kereta



Judulku terkesan lebay ya. Mungkin jika temanku membaca ini pasti dia heran. Soalnya mereka tidak pernah tahu seperti apa kisah cinta seorang Jane Jamlu dan seperti apa cowok yang disukai oleh Jane Jamlu. Selama ini aku cuek banget dengan soal cinta-cintaan.Hehehe..


Pagi itu, Jumat 26 Mei 2012, aku dan teman-teman peserta serta panitia diajak ke lokasi peliputan. Kami disuruh membuat liputan dalam bentuk tulisan feature. Ada tiga lokasi peliputan yang disiapkan olehh panitia seperti Stasiun Kereta Api, Istana Maimun, dan Masjid Agung. Dan aku ditempatkan di Stasiun Kereta Api Medan. Aku tidak tahu apakah ini kebetulan atau panitia memang sengaja memilih tempat ini untukku.

Aku pernah cerita kepada salah satu panitia, bahwa aku tidak pernah naik kereta api dan aku sangat ingin menaiki dan berfoto di relnya. Hari, itu panitia benar-benar menempatkanku di lokasi Stasiun Kereta Api. Dengan menumpangi angkutan kota, kami menuju lokasi yang telah ditetapkan. Setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai juga di Merdeka Walk alias Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka tidak  jauh dari stasiun kereta, kita hanya menyebrang jalan saja.

Bersama Fadilah, Nurie, IpakAyu, MeiAmir, Haswin, dan Ridho, kami mulai melakukan tahap peliputan. Sebelum kami menuju stasiun, kami memanfaatkan waktu untuk berfoto-foto di Lapangan Merdeka. Namanya juga baru pertama kali ke Medan, ya kita manfaatin segala tempat untuk berfoto.
Foto di Merdeka Walk

Para personel "Thumband"


With  Ipak Ayu Nurcaya

Setelah merasa puas berfoto di Lapangan Merdeka, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Sudah tidak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki di stasiun. Ada sedikit masalah kecil saat sebelum masuk ke stasiun. Kami disuruh menunggu sejenak hingga beberapa menit. Daripada menunggu tidak jelas, mending manfaatin untuk jalan-jalan di sekitar stasiun.



Aku dan teman-teman akhirnya menuju suatu jembatan. Di atas jembatan itu, kami bisa melihat seperti apa isi di dalam stasiun. Kami tentunya manfaatin untuk foto-foto lagi. Waw, baru sebentar sudah banyak koleksi foto lagi nih. Seperti yang dikatakan panitia, kita harus membuat tulisan jenis feature, aku pun menemukan sosok yang bisa aku jadikan narasumber dalam tulisanku.

Saat melewati jembatan, aku tertarik dengan seorang nenek yang sedang menjulurkan tangannya kepada setiap orang yang lewat di jembatan itu. Aku memang tidak bisa menahan diri ketika melihat seorang nenek harus duduk apan-panasan sambil meminta-minta. Aku kasian pada nenek itu. Awalnya, aku hanya memberi beberapa uang, lalu aku meninggalkannya. Dari kejauhan aku selalu memperhatikan enenk itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mendekatinya dan  menjadikan narasumber utama dalam tulisanku nanti. (Featureku ada pada tulisanku yang berjudul Nek, Kau Buatku Menangis).

Aku mendekatinya. Aku menyapanya dan mengucapkan salam padanya. Untung saja nenek itu bisa berbahasa Indonesia, jadi kami bisa dengan mudah berkomunikasi. Dia menjawab salamku, dan pembicaraan kami pun dimulai. “Nama nenek siapa?” tanyaku mengawali pembicaraan. “Nenek Ida,” jawabnya lemas. Aku jongkok di depannya dambil mengarahkan ­handphoneku di dekatnya. Matahari sangat terik waktu itu, aku gerah dan kepanasan. Tapi, nenek Ida tak merasakan gelisah apapun. Aku malu dengan semangat nenek Ida. Di tengah terik matahari, dia masih bisa bertahan di ats jembatan yang begitu panas.


Ada banyak yang dia ceritakan padaku, mulai dari saat pertama dia ditipu oleh orang Batak hingga barang-barangnya habis dibawa kabur, dia juga bercerita saat dia ditinggal pergi oleh kakaknya sendiri. Ternyata, nenek Ida hidup sebatang kara di Kota Medan. Dia menggantungkan nasibnya dengan mengemis. Sangat malang nasib nenek ini. Nenek Ida mengingatkanku pada nenekku yang sudah lama meninggal. Aku jadi rindu sama nenekku.

Aku sangat sedih mendengar kisah nenek ini. Aku ingin menangis. Rasa sesak di dada tak mampu lagi ku tahan. Aku tak tahan lagi. Tiba-tiba, salah satu panitia cowok datang menghampiriku. Dia mengajakku masuk ke stasiun. “Udah dipanggil sama panitia, katanya kita sudah bisa masuk di stasiun,” kata pria berambut gondrong itu. “Tunggu sebentar lagi, aku ingin pamitan dengan Nenenk Ida dulu,” jawabku sambil tersenyum padanya.

Aku pun buru-buru mengakhiri pembicaraanku. Saat aku mulai berdiri dan pamitan dengannya, aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahan lagi. Aku berusaha menahan sakit di dadaku sejak tadi. Aku menyalami tangannya dan kembali memberikan sedikit uang padanya. Dia menolak, namun aku memaksa. Aku bahkan ingin memberikan jaketku padanya, karena aku tahu dia pasti kepanasan. Namun, aku tak melakukannya.

Aku berusaha menahannya sesak di dadaku. Hingga akhirnya, air mataku tak terbendung lagi. Aku menangis. Aku benar-benar menangis. Nenek Ida melihatku menangis. Dia pun ikut menangis bersamaku. Air mataku beneran mengalir. Aku bahkan menangis di depan panitia cowok itu. Ini adalah pertama kalinya aku menangis di depan seorang cowok. Dia melihatku menangis. Aku malu sekali. Ingin rasanya aku buru-buru balik ke Makassar.

Lalu, aku meminta kepada cowok itu untuk berjanji padaku. Aku menyuruhnya berjanji untuk tidak mengatakan kepada panitia dan pesertalain kalau aku menangis. Dan dia berjanji padaku. Aku juga tidak tahu, apakah dia bisa menjaga rahasia ini. Aku belum begitu mengenalnya. Aku baru melihatnya pagi itu di Lapangan Merdeka. Tapi, aku berharap semoga dia benar-benar bisa dipercaya.

Akhirnya aku pun meninggalkan nenek itu dan meuju ke tempat peserta berkumpul. Pipiku masih basah, hingga aku memperlambat jalanku. Dan mengusap sisa air mataku, samapi benar-benar kering. Aku masih belum bisa menyembunyikan rasa maluku pada cowok gondrong itu.Sangat malu rasanya menagis di depan cowok yang tidak aku kenal. Dan ini adalah pertama kalinya.

Teman-temanku ternyata dari tadi mencariku. Mereka kira aku nyasar. Aku mencoba beraktivitas lagi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha menyembunyikan tangisanku tadi. Kami akhirnya menghabiskan waktu berfoto-foto di dalam stasiun. Ada yang sibuk liputan, ada juga yang hanya foto-foto seperti aku. Karena, liputanku sudah selesai, jadi aku bisa santai. Karena penasaran, aku mengunjungi setiap gerbong yang ada. Aku manfaatin untuk foto-foto sepuasnya. Akhirnya, impianku untuk berfoto di rel kereta api kesampaian juga. Namun, sayangnya aku belum bisa benar-benar melakukan perjalanan dengan kereta api. Hikz..Hikz..







With Pacar hari Jumatku




Aku masih teringat kejadian itu, soalnya aku terus melihat cowok itu berkeliaran di depanku. Aku masih kawatir, apakah dia bisa menjaga rahasisa atau tidak. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku merasa sesuatu yang aneh. Aku juga tidak tahu rasa apa itu, rasa coklat atau strowberry ya? Hehhe..

Saat itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya. Aku bahkan meminta temanku untuk memoto kami berdua. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan (modus). Jadi malu deh. Hehehe. aku juga menuruh cowok itu memoto aku dengan teman-temanku yang lain. Dia seakan jadi fotografer pribadi sementara kami. Heheh.


Setelah beberapa lama, akhirnya kami kembali ke Lapangan Merdeka. Semua peserta berkumpul di sana. Karena hari itu hari Jumat, maka peserta dan panitia cowok menunaikan ibadah shalat Jumat. Dan yang lainnya menunggu di lapangan. Kami memutuskan untuk membeli es krim sembari menunggu yang lainnya datang. Lagi-lagi kami memanfaatkannya untuk foto-foto.


With Kiki dan Ayu Renisya (Trio Tomboy)
Makan Es Krim

Setelah mereka selesai shalat, kami kemudian diajak makan  siang di salah satu warung. Menu makanan kita kali ini adalah “Soto Medan”. Aku jadi ingat dengan “Coto Makassar”. Saat di tempat makan, aku kembali memikirkan kejadian waktu di stasiun kereta. Kok jadi kepikiran dia terus ya. Hahaha
Fto bareng di depan warung Soto Medan


Awalnya aku hanya biasa-biasa saja. Tapi, lama-kelamaan aku mulai sedikit memikirkannya. “Jane, ada apa denganmu? Sadarlah!,” kataku dalam hati sambil menggelengkan kepala. Aku mencoba mencari tahu tentang dia. Soalnya dia telah berani-beraninya mengganggu pikiranku. Aku bertanya kepada panitia, dan katanya dia crew mudah di Teropong. Pantas, dia jarang sekali kelihatan di kepanitiaan. Dia baru kelihatan waktu tahap peliputan.

Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta? Jika memang ini cinta, maka dia adalah cinta pertamaku. Soalnya, aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah pacaran selama ini. Bagiku pacaran itu tidak perlu dan tidak penting. Soalnya aku hanya ingin pacaran dengan suami nanti. Ya, pacaran setelah nikah gitu. Hehehe..

Cinta memang tidak harus memiliki, biarkan aku jatuh cinta pada “Bang Gondrong”. Aku tidak berharap bisa memilikinya dan bersamanya. Aku pun masih bingung apakah ini cinta atau perasaan kagum saja. Yang pasti, Jatuh cinta itu indah. Jangan kau takut jatuh cinta! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...