Judulku
terkesan lebay ya. Mungkin jika temanku membaca ini pasti dia heran. Soalnya
mereka tidak pernah tahu seperti apa kisah cinta seorang Jane Jamlu dan seperti
apa cowok yang disukai oleh Jane Jamlu. Selama ini aku cuek banget dengan soal
cinta-cintaan.Hehehe..
Pagi
itu, Jumat 26 Mei 2012, aku dan teman-teman peserta serta panitia diajak ke
lokasi peliputan. Kami disuruh membuat liputan dalam bentuk tulisan feature. Ada tiga lokasi peliputan yang
disiapkan olehh panitia seperti Stasiun Kereta Api, Istana Maimun, dan Masjid
Agung. Dan aku ditempatkan di Stasiun Kereta Api Medan. Aku tidak tahu apakah
ini kebetulan atau panitia memang sengaja memilih tempat ini untukku.
Aku
pernah cerita kepada salah satu panitia, bahwa aku tidak pernah naik kereta api
dan aku sangat ingin menaiki dan berfoto di relnya. Hari, itu panitia
benar-benar menempatkanku di lokasi Stasiun Kereta Api. Dengan menumpangi
angkutan kota, kami menuju lokasi yang telah ditetapkan. Setelah beberapa
menit, akhirnya kami sampai juga di Merdeka
Walk alias Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka tidak jauh dari stasiun kereta, kita hanya
menyebrang jalan saja.
Bersama Fadilah, Nurie, IpakAyu, Mei, Amir, Haswin, dan Ridho, kami mulai melakukan
tahap peliputan. Sebelum kami menuju
stasiun, kami memanfaatkan waktu untuk berfoto-foto di Lapangan Merdeka.
Namanya juga baru pertama kali ke Medan, ya kita manfaatin segala tempat untuk
berfoto.
![]() |
| Foto di Merdeka Walk |
![]() |
![]() |
| Para personel "Thumband" |
![]() |
| With Ipak Ayu Nurcaya |
Setelah
merasa puas berfoto di Lapangan Merdeka, kami melanjutkan perjalanan menuju
stasiun. Sudah tidak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki di stasiun. Ada
sedikit masalah kecil saat sebelum masuk ke stasiun. Kami disuruh menunggu
sejenak hingga beberapa menit. Daripada menunggu tidak jelas, mending manfaatin
untuk jalan-jalan di sekitar stasiun.
Aku
dan teman-teman akhirnya menuju suatu jembatan. Di atas jembatan itu, kami bisa
melihat seperti apa isi di dalam stasiun. Kami tentunya manfaatin untuk
foto-foto lagi. Waw, baru sebentar sudah banyak koleksi foto lagi nih. Seperti
yang dikatakan panitia, kita harus membuat tulisan jenis feature, aku pun menemukan sosok yang bisa aku jadikan narasumber
dalam tulisanku.
Saat
melewati jembatan, aku tertarik dengan seorang nenek yang sedang menjulurkan
tangannya kepada setiap orang yang lewat di jembatan itu. Aku memang tidak bisa
menahan diri ketika melihat seorang nenek harus duduk apan-panasan sambil
meminta-minta. Aku kasian pada nenek itu. Awalnya, aku hanya memberi beberapa
uang, lalu aku meninggalkannya. Dari kejauhan aku selalu memperhatikan enenk
itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mendekatinya dan menjadikan narasumber utama dalam tulisanku
nanti. (Featureku ada pada tulisanku yang berjudul Nek, Kau Buatku Menangis).
Aku
mendekatinya. Aku menyapanya dan mengucapkan salam padanya. Untung saja nenek
itu bisa berbahasa Indonesia, jadi kami bisa dengan mudah berkomunikasi. Dia
menjawab salamku, dan pembicaraan kami pun dimulai. “Nama nenek siapa?” tanyaku
mengawali pembicaraan. “Nenek Ida,” jawabnya lemas. Aku jongkok di depannya
dambil mengarahkan handphoneku di
dekatnya. Matahari sangat terik waktu itu, aku gerah dan kepanasan. Tapi, nenek
Ida tak merasakan gelisah apapun. Aku malu dengan semangat nenek Ida. Di tengah
terik matahari, dia masih bisa bertahan di ats jembatan yang begitu panas.
Ada
banyak yang dia ceritakan padaku, mulai dari saat pertama dia ditipu oleh orang
Batak hingga barang-barangnya habis dibawa kabur, dia juga bercerita saat dia
ditinggal pergi oleh kakaknya sendiri. Ternyata, nenek Ida hidup sebatang kara
di Kota Medan. Dia menggantungkan nasibnya dengan mengemis. Sangat malang nasib
nenek ini. Nenek Ida mengingatkanku pada nenekku yang sudah lama meninggal. Aku
jadi rindu sama nenekku.
Aku
sangat sedih mendengar kisah nenek ini. Aku ingin menangis. Rasa sesak di dada
tak mampu lagi ku tahan. Aku tak tahan lagi. Tiba-tiba, salah satu panitia
cowok datang menghampiriku. Dia mengajakku masuk ke stasiun. “Udah dipanggil
sama panitia, katanya kita sudah bisa masuk di stasiun,” kata pria berambut
gondrong itu. “Tunggu sebentar lagi, aku ingin pamitan dengan Nenenk Ida dulu,”
jawabku sambil tersenyum padanya.
Aku
pun buru-buru mengakhiri pembicaraanku. Saat aku mulai berdiri dan pamitan
dengannya, aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahan lagi. Aku berusaha
menahan sakit di dadaku sejak tadi. Aku menyalami tangannya dan kembali
memberikan sedikit uang padanya. Dia menolak, namun aku memaksa. Aku bahkan
ingin memberikan jaketku padanya, karena aku tahu dia pasti kepanasan. Namun,
aku tak melakukannya.
Aku
berusaha menahannya sesak di dadaku. Hingga akhirnya, air mataku tak terbendung
lagi. Aku menangis. Aku benar-benar menangis. Nenek Ida melihatku menangis. Dia
pun ikut menangis bersamaku. Air mataku beneran mengalir. Aku bahkan menangis
di depan panitia cowok itu. Ini adalah pertama kalinya aku menangis di depan
seorang cowok. Dia melihatku menangis. Aku malu sekali. Ingin rasanya aku
buru-buru balik ke Makassar.
Lalu,
aku meminta kepada cowok itu untuk berjanji padaku. Aku menyuruhnya berjanji
untuk tidak mengatakan kepada panitia dan pesertalain kalau aku menangis. Dan
dia berjanji padaku. Aku juga tidak tahu, apakah dia bisa menjaga rahasia ini.
Aku belum begitu mengenalnya. Aku baru melihatnya pagi itu di Lapangan Merdeka.
Tapi, aku berharap semoga dia benar-benar bisa dipercaya.
Akhirnya
aku pun meninggalkan nenek itu dan meuju ke tempat peserta berkumpul. Pipiku
masih basah, hingga aku memperlambat jalanku. Dan mengusap sisa air mataku,
samapi benar-benar kering. Aku masih belum bisa menyembunyikan rasa maluku pada
cowok gondrong itu.Sangat malu rasanya menagis di depan cowok yang tidak aku
kenal. Dan ini adalah pertama kalinya.
Teman-temanku
ternyata dari tadi mencariku. Mereka kira aku nyasar. Aku mencoba beraktivitas
lagi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha menyembunyikan tangisanku
tadi. Kami akhirnya menghabiskan waktu berfoto-foto di dalam stasiun. Ada yang
sibuk liputan, ada juga yang hanya foto-foto seperti aku. Karena, liputanku
sudah selesai, jadi aku bisa santai. Karena penasaran, aku mengunjungi setiap
gerbong yang ada. Aku manfaatin untuk foto-foto sepuasnya. Akhirnya, impianku
untuk berfoto di rel kereta api kesampaian juga. Namun, sayangnya aku belum
bisa benar-benar melakukan perjalanan dengan kereta api. Hikz..Hikz..
![]() |
| With Pacar hari Jumatku |
Aku
masih teringat kejadian itu, soalnya aku terus melihat cowok itu berkeliaran di
depanku. Aku masih kawatir, apakah dia bisa menjaga rahasisa atau tidak. Entah
apa yang aku pikirkan saat itu, aku merasa sesuatu yang aneh. Aku juga tidak
tahu rasa apa itu, rasa coklat atau strowberry ya? Hehhe..
Saat
itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya. Aku bahkan meminta temanku untuk
memoto kami berdua. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan (modus). Jadi malu
deh. Hehehe. aku juga menuruh cowok itu memoto aku dengan teman-temanku yang
lain. Dia seakan jadi fotografer pribadi sementara kami. Heheh.
Setelah
beberapa lama, akhirnya kami kembali ke Lapangan Merdeka. Semua peserta
berkumpul di sana. Karena hari itu hari Jumat, maka peserta dan panitia cowok
menunaikan ibadah shalat Jumat. Dan yang lainnya menunggu di lapangan. Kami
memutuskan untuk membeli es krim sembari menunggu yang lainnya datang.
Lagi-lagi kami memanfaatkannya untuk foto-foto.
![]() |
| With Kiki dan Ayu Renisya (Trio Tomboy) |
![]() |
| Makan Es Krim |
Setelah
mereka selesai shalat, kami kemudian diajak makan siang di salah satu warung. Menu makanan kita
kali ini adalah “Soto Medan”. Aku jadi ingat dengan “Coto Makassar”. Saat di
tempat makan, aku kembali memikirkan kejadian waktu di stasiun kereta. Kok jadi
kepikiran dia terus ya. Hahaha
![]() |
| Fto bareng di depan warung Soto Medan |
Awalnya
aku hanya biasa-biasa saja. Tapi, lama-kelamaan aku mulai sedikit
memikirkannya. “Jane, ada apa denganmu? Sadarlah!,” kataku dalam hati sambil
menggelengkan kepala. Aku mencoba mencari tahu tentang dia. Soalnya dia telah
berani-beraninya mengganggu pikiranku. Aku bertanya kepada panitia, dan katanya
dia crew mudah di Teropong. Pantas, dia jarang sekali kelihatan di kepanitiaan.
Dia baru kelihatan waktu tahap peliputan.
Aku
tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta? Jika memang ini cinta, maka dia
adalah cinta pertamaku. Soalnya, aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah
pacaran selama ini. Bagiku pacaran itu tidak perlu dan tidak penting. Soalnya
aku hanya ingin pacaran dengan suami nanti. Ya, pacaran setelah nikah gitu.
Hehehe..
Cinta
memang tidak harus memiliki, biarkan aku jatuh cinta pada “Bang Gondrong”. Aku tidak berharap bisa memilikinya dan bersamanya.
Aku pun masih bingung apakah ini cinta atau perasaan kagum saja. Yang pasti,
Jatuh cinta itu indah. Jangan kau takut jatuh cinta!




























Tidak ada komentar:
Posting Komentar