Alhamdulillah
masih bisa melanjutkan tulisan, meskipun tertunda beberapa hari. Mungkin untuk
sebagian orang pasti sudah bosan jika harus membaca tulisan ini. Tapi, aku
tidak pernah bosan untuk menuliskan semua ceritaku saat di Medan. Bagiku,
pernah ke Medan adalah suatu pengalaman berharga yang tak mungkin aku lupakan
begitu saja.
Tepatnya
Kamis, 24 Mei 2012 adalah aku dan peserta lainnya kembali mengikuti materi yang
diberikan. Seperti biasanya, sebelumnya kami sarapan sebelum memulai materi.
Materi yang akan dibawakan hari adalah
materi terakhir dalam pelatihan ini. Materi dengan tema “Kiat-kiat
Penulisan Berita Konflik” yang dibawakan oleh Linda Christanty seorang penulis.
Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Jangan Tuduh Kami Teroris.
Dalam
materi yang dibawakan, Kak Linda mengatakan bahwa seorang wartawan yang sedang
meliput di daerah konflik harus punya akses. “Ketika meliput, perlu ada akses,
kita harus utamakan keselamatan kita daripada berita bagus yang akan
didapatkan,” ungkapnya. Lanjutnya, kita boleh saja menjungjung tinggi dunia
kejurnalistikan tapi tetap ingat untuk menjaga keselamatan.
Selain
itu, lanjutnya, jangan memprovokasi terjadinya suatu konflik itu sendiri.
Seorang wartawan tidak harus memicu adanya konflik, dengan kata lain jangan
memicu terjadinya konflik. Jadilah jurnalis yang damai dan tidak memihak.
Kak
Linda juga menjelaskan ada beberapa gaya penulisan (new journalisme) dalam kejurnalistikan. Dimana di dalam New Journalisme atau Jurnalisme Baru
terdapat beberapa elemen yaitu adegan (membuatsusaana lebih hidup), dialog
(lebih menguatkan karakter seseorang), detail (menentukan kelas sosial
seseorang), dan sudut pandang orang ketiga. Pertama, Literary Journalism (Jurnalis Sastrawi/Kesastraan), dimana di dalamnya terdapat beberapa elemen
yakni fakta, konflik,
karakteristik/tokoh cerita, akses, emosi, perjalanan waktu, dan originalitas (kebaruan).
Kedua, Narative Journalism, dimana
seorang wartawan bisa memberikan
pandangan terhadap sesuatu yang terpenting sesuai fakta. Adapun elemen penting
didalamnya yakni berupa fakta, suara, drama, dan unsur 5W+1H.
Itulah
sepenggal materi yang masih aku ingat dalam pelatihan kemarin. Aku tidak bisa
menuliskan semuanya. Heheh, maklum aku orangnya sedikit pelupa. Makanya aku
menulis hari ini, biar aku bisa kapan saja membaca tulisan ini. Setelah materi
usai, seperti biasanya kami berfoto dengan Kak Linda Christanty. Kami juga
berfoto lagi dengan Bang Tarmizy Harva yang merupakan pemateri fotografi yang
menyempatkan diri untuk datang lagi ke lokasi pelatihan ini.
 |
| Foro bareng Linda Christanty - Penulis |
 |
| Foto bareng Tarmizy Harva - Fotografer Reuters |
Setelah
asyik berfoto dengan pemateri, aku menyempatkan berfoto dengan teman-teman
peserta dan panitia tentunya. Karena ini
sudah hari kelima makanya kami sudah sangat akrab. Dan hanya lewat foto itulah
kami bisa kembali saling mengingat satu sama lain. Bukan hanya di ruangan, kami
melajutkan seasion foto-foto di depan Mess. Di sinilah titik paling seru
kebersamaan kami di Almamater. Semua senang, semua gembira. Ratusan foto pun
tercipta hanya dalam beberapa menit saja. Kangen dengan suasana itu lagi.
 |
| Foto bareng Ayu, Dila, Tuni, Aan, dan Rizka |
 |
| Foto bareng Aan, Tuni dan Nurie |
 |
| Foto bareng Ayu, Aan, Tuni, Nurie, dan Rizka |
 |
| Foto bareng peserta dan panitia |
 |
| Foto bareng si Ucok (Fenji) |
Ini foto-foto saat di depan Mess...
 |
| Cewek-cewek nakal (weee) |
 |
| Pilih yang mana ya???? |
Dan masih banyak foto-foto yang lainnnya.. Aku juga sempat upload di album facebook "Kegilaan di Mess"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar