Senin, 22 April 2013

Hari Kelima di Kota Medan


Alhamdulillah masih bisa melanjutkan tulisan, meskipun tertunda beberapa hari. Mungkin untuk sebagian orang pasti sudah bosan jika harus membaca tulisan ini. Tapi, aku tidak pernah bosan untuk menuliskan semua ceritaku saat di Medan. Bagiku, pernah ke Medan adalah suatu pengalaman berharga yang tak mungkin aku lupakan begitu saja.

Tepatnya Kamis, 24 Mei 2012 adalah aku dan peserta lainnya kembali mengikuti materi yang diberikan. Seperti biasanya, sebelumnya kami sarapan sebelum memulai materi. Materi yang akan dibawakan hari adalah  materi terakhir dalam pelatihan ini. Materi dengan tema “Kiat-kiat Penulisan Berita Konflik” yang dibawakan oleh Linda Christanty seorang penulis. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Jangan Tuduh Kami Teroris.

Dalam materi yang dibawakan, Kak Linda mengatakan bahwa seorang wartawan yang sedang meliput di daerah konflik harus punya akses. “Ketika meliput, perlu ada akses, kita harus utamakan keselamatan kita daripada berita bagus yang akan didapatkan,” ungkapnya. Lanjutnya, kita boleh saja menjungjung tinggi dunia kejurnalistikan tapi tetap ingat untuk menjaga keselamatan.

Selain itu, lanjutnya, jangan memprovokasi terjadinya suatu konflik itu sendiri. Seorang wartawan tidak harus memicu adanya konflik, dengan kata lain jangan memicu terjadinya konflik. Jadilah jurnalis yang damai dan tidak memihak.

Kak Linda juga menjelaskan ada beberapa gaya penulisan (new journalisme) dalam kejurnalistikan. Dimana di dalam New Journalisme atau Jurnalisme Baru terdapat beberapa elemen yaitu adegan (membuatsusaana lebih hidup), dialog (lebih menguatkan karakter seseorang), detail (menentukan kelas sosial seseorang), dan  sudut pandang orang  ketiga. Pertama, Literary Journalism (Jurnalis Sastrawi/Kesastraan),  dimana di dalamnya terdapat beberapa elemen yakni  fakta, konflik, karakteristik/tokoh cerita, akses, emosi, perjalanan waktu, dan originalitas (kebaruan). Kedua, Narative Journalism, dimana seorang wartawan bisa  memberikan pandangan terhadap sesuatu yang terpenting sesuai fakta. Adapun elemen penting didalamnya yakni berupa fakta, suara, drama, dan unsur 5W+1H.

Itulah sepenggal materi yang masih aku ingat dalam pelatihan kemarin. Aku tidak bisa menuliskan semuanya. Heheh, maklum aku orangnya sedikit pelupa. Makanya aku menulis hari ini, biar aku bisa kapan saja membaca tulisan ini. Setelah materi usai, seperti biasanya kami berfoto dengan Kak Linda Christanty. Kami juga berfoto lagi dengan Bang Tarmizy Harva yang merupakan pemateri fotografi yang menyempatkan diri untuk datang lagi ke lokasi pelatihan ini.
Foro bareng Linda Christanty - Penulis

Foto bareng Tarmizy Harva - Fotografer Reuters
Setelah asyik berfoto dengan pemateri, aku menyempatkan berfoto dengan teman-teman peserta dan  panitia tentunya. Karena ini sudah hari kelima makanya kami sudah sangat akrab. Dan hanya lewat foto itulah kami bisa kembali saling mengingat satu sama lain. Bukan hanya di ruangan, kami melajutkan seasion foto-foto di depan Mess. Di sinilah titik paling seru kebersamaan kami di Almamater. Semua senang, semua gembira. Ratusan foto pun tercipta hanya dalam beberapa menit saja. Kangen dengan suasana itu lagi.
Foto bareng Ayu, Dila, Tuni, Aan, dan Rizka
Foto bareng Aan, Tuni dan Nurie
Foto bareng Ayu, Aan, Tuni, Nurie, dan Rizka
Foto bareng peserta dan panitia
Foto bareng si Ucok (Fenji)
Ini foto-foto saat di depan Mess...












With Butet ku sayang (Isnaeni Noer)
With Beli Gila (Asykur Anam)

Cewek-cewek nakal (weee)
Pilih yang mana ya????

Dan masih banyak foto-foto yang lainnnya.. Aku juga sempat upload di album facebook "Kegilaan di Mess"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...