Hal yang kedua yang
membuatku mengatakan hari ini hari menjengkelkan adalah saat syal hijau
(Syal_Jo) ku hilang. Kejadiannya sore tadi dan sampai sekarang aku masih belum
percaya bahwa syalku hilang. Saat itu, aku menemani temanku untuk membawakan
surat undangan ke semua radio kampus di Makassar. Saat berangkat aku masih
memakainya. Dan masih terlilit erat di leherku.
Namun, saat menuju
kampus yang terakhir, aku melepasnya. Meskipun awalnya aku ragu untuk
melepasnya. Aku memberikan syal itu kepada temanku untuk dipegang sampai kami
tiba di lokasi kampus yang terkahir. Saat di perjalanan, temanku masih
memegangnya. Hingga saat kami telah usai mengantarkan undangan di kampus itu,
aku pun meminta syal itu kepada temanku. Karena, aku ingin memakainya kembali. Aku
pikir dia menyimpannya di tas miliknya. Tapi, ternyata dia tidak menyimpannya.
Dia tidak sengaja
menjatuhkannya di jalan saat perjalanan kami meuju kampus UKI PAULUS. Awalnya kami
pikir ketinggalan di sekret Radio EVB, tapi ternyata tidak. Syalku beneran
jatuh di jalan. Badanku tiba-tiba loyo dan tak bersemangat. Mungkin terlihat
lebay, tapi ak benar-benar tidak punya gairah saat tahu Syaljo hilang.
Syaljo
memang
syal yang paling aku suka dan selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Teman-temanku
sudah tahu banget dengan style ku
yang suka memakai syal. Ada juga temanku yang sering mengejekku saat memakai syal itu. Mereka mengejek syalku dan mengatakan itu bukan syal tapi taplak meja. Heheh.. Meskipun belum lama ini aku menggunakannya, tapi dia begitu berharga. Syal itu
aku pesan dari temanku di Medan. Saat itu, temanku lagi liburan di Perapat,
Danau Toba. Makanya aku memintanya untuk membelikanku syal. Sejak saat itu, aku
mulai memakainya kemana-mana.
Aku bahkan memberikan
nama untuk syalku. Namanya “Syaljo” alias Syal Ijo. Aku memang suka memberikan
nama untuk setiap barang-barang milikku. Bagiku mereka semua bermakna dan punya
perang tersendiri bagiku. Makanya perlu ada nama yang bisa membuatku mengingat mereka. Bukan hanya handphone, tetapi flashdisk, laptop, kamera,
tas, motor, sepeda, kacamata, botol air, semuanya punya nama masing-masing.
Bulan Agustus nanti, Syaljo genap berusia setahun. Belum sehari,
aku sudah kangen dengannya. Aku merindukannya. Dia selalu membuatku hangat.dia
selalu melindungiku dari panas. Dia bahkan menjadi alas ketika aku sujud
kepada-Nya. Kita sebagian orang menganggapnya syal biasa, tapi bagiku Syaljo adalah segalanya. Dia begitu berharga
bagiku. Dia sangat bermakna. Tapi, hari ini, membuatku hrus kehilangan teman
yang begitu spesial bagiku.
Aku buru-buru menyalakan
motor dan kembali melewati jalan yang aku lalui tadi. pandanganku sudah tidak
mengarah ke depan lagi. Aku memperhatikan di sepanjang jalan, tahu-tahu syalku
beneran terjatuh. Aku sangat berharap bisa menemukannya. Bagaimanapun keadaannya.
Pandanganku sibuk mencari-cari Syaljo.
Tapi, tidak ada tanda-tanda syal yang terjadi di sepanjang jalan itu.
Aku dan temanku terus
mencari. Bahkan aku sempat beberapa kali hampir menabrak kendaraan lain saat
pandanganku tak tertuju ke depan. Tubuhku lemas tak bersemangat. Tanganku tak
kuat untuk mengemudikan motor. Aku tak lagi senyum sepanjang perjalanan pulang.
Bahkan aku tak lagi memperhatikan ucapan temanku saat dia mencoba menghiburku. Aku
tak seceria sebelumnya. Kehilangan Syaljo
seperti aku kehilangan separuh nyawaku. Lebih sakit dibanding sesak dadaku pagi
tadi.
Aku terus kepikiran
dengan Syaljo. Aku berharap bisa
segera menemukannya. Semoga ada orang
baik yang menemukannya. Dan dia mengenal pemiliknya dan segera
mengembalikannya. Aku butuh dia. Aku rindu padanya. Syaljo, dimanakah dirimu? Apakah ku baik-baik saja? Maafkan aku
yang tidak menjagamu. Maafkan temanku yang telah menjatuhkanmu.
Aku berharap bisa
bertemu denganmu. Aku rindu kehangatanmu. Aku rindu bau khasmu. Aku rindu semua
tentangmu. Maafkan aku Syaljo yang
begitu ceroboh.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar