BONEKA Danbo sudah
tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pelajar
dan mahasiswa. Boneka khas negeri matahari ini menjadi boneka yang populer di
zaman serba modern ini. Selain di Jepang, di Makassar juga punya boneka yang
lebih dikenal dengan nama Daengbo.
Boneka Daengbo khas Makassar ini pertama kali
diperkenalkan oleh Sabir Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri
Makassar (FPsi UNM) dan ini satu-satunya di Makassar. Mungkin bagi sebagian
sivitas akademika UNM, masih banyak yang belum mengenal sosok pria yang satu
ini. namanya yang singkat dan sederhana menggambarkan pembawaan yang santun dan
sederhana pula, seperti itulah yang tampak pada dirinya.
Mahasiswa
kelahiran Takalar, 21 April 1989 ini punya segudang hobby yakni berorganisasi,
membaca, menulis, dan lebih suka bermain musik biola. Anak dari pasangan Usman
L dan Dunga Daeng ini juga memang tergolong anak yang sangat mandiri. Terbukti,
di sela-sela kesibukan kuliahnya, dia masih meluangkan waktunya membuat usaha
kecil-kecilan membuat boneka yang sekarang membuat dirinya dikenal oleh orang
banyak. Berbicara soal prestasi, mahasiswa angkatan 2007 ini punya banyak
pengalaman organisasi seperti Ikatan
remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), mantan ketua
Maperwa Fpsi dan pengagas beridirinya Komunitas Art Kota Daeng (Karaeng) di
Fpsi.
Sabir Al Junaid
saapan akrab teman-temannya mengawali karier membuat Boneka Daengbo karena keinginannya untuk
membiayai hidup dan kuliahnya. “Saya tidak mungkin mengandalkan uang dari orang tua saya dan beasiswa PPA
yang saya dapatkan, untuk itulah saya mencari penghasilan tambahan untuk biaya
hidup dan kuliah saya di Makassar,” ucap Sabir.
Saat itu pria
asal takalar ini membuka suatu membuka facebook
dan langsung melihat boneka yang menurutnya unik dan lucu. Dari salah satu foto
profil yang dilihatnya, lantaran penasaran, Sabir kemudian mencari tahu apa
nama boneka tersebut. Dan dia pun tertarik untuk membuatnya.
“Awalnya sulit untuk membuatnya karena harus
menyesuaikan dengan ukurannya, namun lama-kelamaan ini sangat mudah dan saya
bisa menyelesaikan 5-10 boneka per hari seorang diri,” ungkapnya tersenyum. Dengan
menggunakan modal awal Tiga Ratus Ribu Rupiah untuk 1000 boneka Daengbo, Sabir memulai karirnya. Sabir memanfaatkan sisa-sisa balok
kayu dari usaha meabel yang ada di
belakang rumahnya. Dia mencoba satu persatu hingga mendapatkan ukuran yang pas.
Semuanya dikerjakan seorang diri. Dan alhasil, dia mampu menyelesaikan boneka Daengbo tersebut.
Meskipun usaha
boneka Daengbo baru berjalan sekitar
4 bulan lebih, tapi penghasilannya sudah sangat memuaskan. Banyak yang menyukai
karyanya karena unik dan juga relatif murah dari boneka Danbo buatan Jepang. Hingga kini boneka buatannya sudah terjual
sebanyak 200 buah lebih. Pemasarannya pun sudah sampai di luar Makassar yakni
di Palopo dan Kendari dengan memanfaatkan jejaring sosial facebook dan bantuan teman-temannya. Bahkan ada pembeli yang sudah
mengole-olekan boneka Daengbo buatan
Sabir hingga ke Amerika.
Tapi, di tengah
kelancaran usahanya, Sabir merasa kewalahan karena dia hanya mengerjakan usaha
ini seorang diri. Sabir sangat membutuhkan orang yang bisa membantunya membuat
boneka, namun hingga kini dia belum mendapatkan orang yang benar-benar bisa
membantunya. “Saya sangat butuh orang yang kreatif dan bisa membantu saya
membuat boneka Daengbo,” harapnya.
Mahasiswa yang ingin
memperdalam pengetahuan musik biolanya setelah menyelesaikan studinya ini,
berpesan agar para enterprenuer/pengusaha
muda yang ingin membuat usaha harus jeli melihat pasar, kreatif, memanfaatkan
keadaan, tapi jangan sampai usaha tersebut mengganggu kuliah.
“Takunjunga
bangung turuk, nakugincirik gulingku, ku alleanna tallanga na toalia, aku lebih
baik mati ditelan ombak, daripada harus mundur ke belakang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar