Minggu, 24 Maret 2013

Batas Kehidupan dengan Kematian Beda Tipis

Masih teringat jelas dalam benakku. Kejadian yang  akan sulit ku lupakan. Kejadian yang hampir membunuhku. Ya, hampir merenggut nyawaku. Sudah sembilan hari lamanya, tepatnya 16 Maret lalu dan kini aku baru sempat menuliskannya. Aku masih trauma dengan kejadian itu.  Aku sering bermimpi dan dihantui perasaan yang berusaha membuatku terkecik dalam tidurku.

Kejadian saat aku melakukan perjalan jauh menggunakan bus umum seorang diri (tanpa keluarga). Perjalanan dari  Kota Masamba (Luwu Utara) menuju Kota Pinrang. Perjalanan yang (biasanya) menempuh jarak 7 jam ini harus kami tempuh dengan waktu 12 jam lamanya. Kami (aku dan penumpang bus) mendapatkan musibah di tengah perjalanan. 

Bus tiba-tiba berhenti. Aku pikir bus berhenti untuk mengambil menumpang. Tapi,  ternyata bus berhenti karena ada sedikit masalah pada bus. Suara  ledakan kecil terdengarjelas di kupingku. Aku memang duduk paling depan saat itu, tepatnya di samping kiri pak supir. Ledakan kecil itu sontak membuat penumpang panik dan ketakutan. Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis dan ada juga yang langsung lompat seketika dari bus.

Suasana panik menyelimuti bus. Asap pun mengepul di dalam bus. Semua penumpang berlalri dengan perasaan  yang bercampur aduk. Aku yang pertama kali mendengar ledakan itu, tapi justru aku yang paling terakhir turun dari bus. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku berpikir akan mati. Aku berpikir bahwa hidupku akan berakhir dalam bus ini. Aku pun turun dengan pelan. Perasaanku campur aduk dan  sulit aku jelaskan. Jantungku berdegup kencang, paru-paruku sesak, kakiku gemetaran, hingga membuatku melangkah sangat pelan. 

Asap dalam mobil masih mengepul. Percikan api kecil sempat  terlihat tepat di samping tempat dudukku tadi.   Semua menajuh dari mobil. Begitupun aku. Pak supir mencoba menenangkan  penumpang. "Tenang, bus ini takkan meledak, cuma radiatornya saja yang bermasalah, mesin hanya perlu didinginkan" kata pak supir mencoba menenangkan kami. Meskipun demikian, para penumpang masih saja takut. Setelah dua jam lamanya, dan pak supir merasa mesinnya sudah bagus. Dan kami disuruh untuk kembali naik ke bus. tapi, mash banyak penumpang yang enggan untuk naik lantaran masih mengingat kejadian tersebut.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku memutuskan untuk pindah tempat duduk. Aku masih truma dnegan kejadian tersebut. Apalagi, ledakan itu terdengar jelas di telingaku. Saat itu, aku ikhlas menerima apa saja yang  akan terjadi padaku. Walau aku harus mati, semoga aku bisa mati degan tenang. Aku tahu, aku merasakan kebesaran Tuhan yang teramat dalam. Aku tahu Tuhan masih menginginkanku untuk hidup waktu itu. Dan akhirnya aku masih hidup hingga saat ini. I Miss You My God.

------Jane Jamlu-----



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...