Jumat, 01 Maret 2013

Sanggupkah Aku bertahan?

Lima puluh satu hari sejak percakapan malam itu. Sudah cukup lama rupanya. Rasanya begitu meresahkan. Kata mojjo bagi sebagian orang mungkin masih sanga asing. tapi, dia sudah mengerti benar satu kata yang aku katakan padanya. Ini adalah kali kedua aku mojjo dengannya. 

Pertama, waktu menjelang pergantian usiaku. Saat itu, aku mengatakan kecewa padanya karena dia tidak begitu suka dengan ole-ole yang aku kasih ke dia waktu temanku ke Medan beberapa waktu lalu. "Mengapa harus warna ungu," komentarnya di salah saru status di facebook. Aku bilang padanya bahwa aku kecewa karena dia tdak menyukai pemberianku. 

Dia mencoa menghubungiku lewat sms dan telepon bahkan lewat jejaring sosial. Tapi, aku tidak meresponnya. Aku justru mengabaikannya. Dia begitu putus asa. Aku juga merasa kasian padanya. Tapi, aku punya rencana di baik itu semua. Hingga akhirnya aku mengirim pesan di inbox fb nya dan mulai menapanya. Dia ampak senang sekai. Aku pun merasakan itu. Kangen rasanya becanda dengan dia lagi. Aku berhara ini yang pertama dan terakhir aku mengerjainya.

Kedua, saat percakapa malam itu tepatnya 11 Januari 2013. Aku menelponnya dan membicarakan sesuatu yang aneh dan sulit dia pahami. Aku menyuruhnya pergi dari hidupku. Aku tidak ingin dia begitu dekat. Aku takut sulit untuk melupaknnya kelak. karena aku pernah mengalami hal seperti ini. Di saat aku begitu dengan dengan sahabatku, dia jutru pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin ini terulang lagi. Sebelum aku terlalu dekat, aku memintanya untuk pergi.

Awalnya egit berat menyuruhnya pergi, tapi aku memaksanya dan mengatakan hal konyol yang pernah aku lakukan dan katakan selama ini.  Ini adaah cara satu-satunya agar dia bisa melepasku. Dia tidak percaya dengan perkataanku waktu itu. Namun aku menyakinkannya. Dan akhirnya, dia benar-benar pergi. Entah sampai kapan. Tapi, mungkin untuk watktu yang lama. Atau mungkin selamanya.

Benar-benar serasa ada yang hilang dari raaku saat kepergiaannya. Aku kehilangan teman ngobrol. Aku kehilangan teman yang unik. Aku kehilangan sosok yang selalu menenangkanku di kala aku sakit. Memang sulit melupakan sesuatu yang dulunya dekat dengan kita. Tapi, ini sudah menjadi keputusanku. Aku yakin, aku bisa berteman dengannya lagi suatu saat nanti. Itupun kalau dia mau memafkanku.

Kini aku hanya bisa bercerita dengan teman sekaligus sepupuku yang usil itu. Awalnya aku tidak mamu menceritaan ini padanya, tai dia ngotot ingin tahu. Dengan terpaksa aku bercerita padanya tentang sahabatku ini. Dia sangat menyayangkan kenaa hubungan kami harus berakhir seperti ini. "Mr.A" berjanji padaku akan mencoba mendamaikan kami lagi seperti dulu. Terserah dia mau berbuat apa. Yang jelas, saat ini aku belum bisa menyapa sahabatku itu. Aku butuh waktu. Biarkan waktu menjawabnya. 

Meski aku merasakan kesepian yang teramat dalam. Aku harus mampu menahannya. Aku masih bisa melihatnya, aku masih bisa dekat dengannya, aku masih bisa merasakan dia ada di sini, meski dengan cara yang aku pun tak mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...