Minggu, 01 September 2013

Kehilangan (lagi) & Kecewa (lagi)

Foto di depan kamar
Entah berapa kali aku harus merasakan kehilangan. Entah berapa kali lagi aku harus merasakan kekecewaan. Dan entah berapa kali lagi aku harus merasakan kesedihan. Seperti kata sahabatku, setiap pertemuan memang selalu menggandeng perpisangan. Tinggalkan luka yang mendalam bagi siapa saja yang mengalaminya. Termasuk aku yang kini merasakannya.

Di saat pikirannku telah dikacaukan oleh tugas akhir akademikku, kini aku makin terpuruk mendengar keputusanmu. Cukup sudah dua tahun yang lalu saat sahabatku Anha yang juga memutuskan untuk pergi dari tempat ini, membuatku kehilangan dan meneteskan air mata. Kali ini, hatiku kembali membuat perih, saat sekamarku Ayu, memutuskan untuk pergi juga dari tempat ini. Kau ingin pergi, kau ingin meninggalkanku. Aku tahu, cepat atau lambat semua ini pasti terjadi. Kau telah melanggar janji yang telah kita sepakati empat tahun yang lalu saat kita sama-sama diterima di tempat ini.

***
Sabtu malam, kita kembali berkumpul di tempat yang telah menjadi istana kita sejak menginjakkan kaki di kota Makassar, Asrama putri Pinrang. Malam ini adalah rapat terakhir di kepengurusanku. Itu artinya, sebagai sekretaris, ini menjadi rapat terakhir yang aku pimpin. Selain itu, malam ini kita akan membacakan laporan pertanggungjawaban (LPj) selama setahun menjabat di aspuri sekaligus memilih ketua aspuri baru untuk memimpin aspuri kedepannya.

Senyum ceria terpancar dari wajah para penghuni. Sudah lama kami tak berkumpul seperti ini. Memang hanyaagenda rapatlah yang mampu menyatukan kami. Karena memang kami telah menyepakati bersama, bahwa semua penghuni wajib datang dalam rapat aspuri. itulah yang mejadikan rapat aspuri begitu sakral meski dikemas dalam suasana santai namun terkadang cukup membuat penghuni merasa tegang.

Perasaanku campur aduk, aku ingin tersenyum bersama kalian, tapi aku juga bersedih, karena aku tahu aku akan mendengarkn kaar buruk malam ini, meskipun di antara kalian masih belum tahu apa yang menjadi kabar buruk itu.
Moment2 terakhir
Bertengkar di depan umum

Di tengah-tengah berlangsungnya rapat, kamu masih saja mengajakku bercanda, tapi aku tidak menanggapinya. Kamu bahkan masih membantuku memegang papan yang kita gunakan untuk menghitung suara pemilihan. Tapi, lagi-lagi aku tidak menanggapimu. Aku marah padamu. Aku kecewa teramat dalam. Kau melanggar janjimu. Kau pergi sebelum semuanya berakhir. Padahal kamu telah berjanji.

Seharusnya malam ini mejadi malam yang paling bahagia buat kita, tapi ternyata sebaliknya. Kau menyampaikan kepada para penghuni bahwa kamu ingin pergi dari tempat ini. Kamu ingin meninggalkan kami. Meskipun kamu masih tetap berada di kota ini, tapi kita akan sulit berkumpul seperti dulu lagi. Kini kamu akan benar-benar pergi.

Malam itu, setelah rapat selesai, para penghuni bersalam-salaman sekaligus salam perpisahan padamu. Namun, aku tak sekalipun menjabat tanganmu dan mengucapkan salam padamu. Malam itu, kita tutup rapat dengan berfoto dengan semua penghuni. Aku tidak menyangka ini menjadi foto terakhir kita  di kepengurusan ini. Coba pikir, adakah seorang sahabat yang rela mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya yang hendak meninggalkannya? Jawabannya tidak ada.

Aku tidak bisa melihatmu. Malam itu, seharusnya aku bisa menghabiskan malam terakhirku bersamamu sebelum pergi, tapi aku tidak melakukakannya. Aku memilih menghindar dan numpang tidur di kamar lain. Aku bahkan tidak membantu beres-beres saat teman-teman yang lain sibuk membantumu. Maafkan aku, tapi aku tidak sanggup melihatmu. Aku takut, aku tidak mampu menahan tangisku. Aku mencoba melakukan aktivitas lain untuk menghilangkan pikiranku tentang rencana kepergiannmu. Aku berharap ini hanyalah mimpi, dan semoga aku bisa segera bangun dari mimpi ini.

***
Pagi ini, aku sengaja bangun terlambat. Sebenarnya aku sudah bangun sejak tadi, aku hanya pura-pura tidur. Berharap aku tidak melihatmu pergi hari ini. Sudah pukul 11.30, berharap kamu sudah pergi, aku pun bangun dari tempat tidur dan segera mandi. Namun, ternyata aku menjumpaimu masih ada di kamar. Aku pikir kamu telah pergi dari tadi, ternyata tidak. Mobil yang akan membawa barang-barangmu ternyata terlambat datang lantaran terjebak macet. Hingga menunda kepergiaanmu.

Setalah mandi dan berpakaian, aku kembali menghindar darimu. Aku kembali menumpang di kamar lain. Karena aku tidak sanggup melihatmu pergi. Aku sibuk mengutak atik laptoku, menulis apa yang sebenarnya tidak begitu penting aku tulis, menelpon seseorang, online, smsan, mengulur-ngulur waktu hingga kau bear-benar pergi.

“Jane, Jane, kamu dimana? Tidak pamitan dulu sama Ayu? Ayu sudah mau pergi,” teriak salah satu penghuni. Taka ada jawaban dariku. Bahkan temanku bolak-balik kamar hanya untuk memanggilku keluar untuk pamitan dengan Ayu. Tapi, au lagi-plagi sibuk dengan mengotak-atik handphoneku. Tiba-tiba, Ayu masuk ke kamar dan menemuiku. Dia memanggil namaku dan mengulurkan tangannya sebagai salam perpisahan. “Ya”, kataku sambil menjabat tangannya tanpa menatapnya.

Aku tidak sanggup menatap wajahnya, aku ahakan tidak bangkit dari tidurku saat menjabat tangannya. Maafkan aku saudariku. Bukannya aku tidak menghargaimu. Tidakkah kau tahu, aku begitu kehilanganmu. Meski selama ini kita sering bertengkar dan terlibat masalah. Hingga kita menjadi salah satu agenda dalam rapat, tapi kita kembali disatukan dalam kebersamaan. Menjadi sekamar yang paling kompak diantara penghuni kamar yang lainnya.

Kita selalu menjadi pasangan yang paling seru dan paling ribut seantero aspuri. Bahkan kita sudah dijuluki sebagai “pasangan kekasih”. Sekarang tidak ada lagi pasangan Jane Jamlu Keren & Ayu Niestaright Manis. Tidak akan lagi acara jalan-jalan bareng ke Fly Over, tempat favorite kami makan ice cream sambil hunting cowok (sekalian). Tidak ada lagi kegiatan hunting dimana aku jadi fotografer dan dia jadi modelnya. Kangen suasana seperti itu lagi. terima kasih telah mengajarkanku menjadi gila foto selama ini. Tidak ada lagi teman setiaku begadang tiap malamnya. Tidak ada lagi teman tidurku yang kesiangan. Aku benar-benar kehilanganmu sobat.
Makan ice cream di Fly Over


Kau pernah berjanji kita akan terus bersama di tempat ini. Dan kita akan keluar bersama saat kita mendapat gelar sarjana. Tapi, apa? Kau melanggarnya. Kau mengingkarinya. Aku merasa dikecewakan oleh sahabatku sendiri. Terlau sakit dan menyiksa batin. Aku ingin menangis, dadaku sesak. Bahkan saat menulis ini, mataku berkaca-kaca. aku menahan tangisanku. Aku tidak ingin penghuni lain melihatku bersedih apalagi menangis. Meskipun mereka sudah tahu pasti aku orang pertama yang merasakan kesedihan meski aku mencoba menutupinya.

Maafkan aku sahabat, beberapa hari ini mungkin aku tidak akan meresponmu lagi. Aku mencoba melupakanmu sedikit demi sedikit. Aku pernah mengatakan padamu jauh sebelum aku tahu bahwa kamu akan pergi, “Jika kamu pergi, jangan pernah temui aku, jangan sms atau menelponku, jangan pernah memanggilku dan muncul di hadapanku. Anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain,” ancamku.





Dan karena kini kamu melanggarnya, maka semua perkataanku waktu itu, akan berlaku hari ini. Aku akan mencoba melupakanmu, menghapus ingatanku tentangmu dan semua kenangan yang pernah kita lewati bersama. Maafkan aku sobat, tapi kau telanjur menyakiti hatiku. Ini begitu sakit, bahkan sulit untuk aku lupakan begitu saja. Kau mengecewakannku. “I am sorry Niestaright”!


---JaneJamlu---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...