Senin, 26 Agustus 2013

Me in “Ramma” (Part I)

Aku adalah orang yang hobby banget jalan. Tempat-tempat di Makssar sudah hampir aku jelajahi semua. Bagiku adalah pengalaman yang paling berharga. Banyak yang bisa aku ceritakan lewat setiap perjalananku. Dan yang paling utama dari setiap perjalananku, banyak juga foto dan video yang bisa aku publikasikan di dunia maya.

Namun, dari beberapa perjalanan yang pernah kulakukan, mendaki gunung adalah perjalanan yang belum pernah aku lakukan. Tahun lalu aku gagal melakukan perjalanan ini, lantaran aku masih KKN di Parepare. Namun, tahun ini, aku tidak akan melewatkan kesempatan lagi untuk mendaki gunung.

***
Pagi itu, salah satu temanku Dhiny mengatakan dia ingin ke Ramma Jumat ini bersama salah satu seniorku di redaksi. Dai mengajakku untuk ikutan, namun aku menolak karena aku ingin menghadiri rapat kerja di Baru. Hingga akhirnya aku pun termakan rayuan temanku itu. Kapan lagi coba bisa melaukan perjalanan mendaki gunung. Aku pun berpikir, jika aku tidak pergi sekarang, aku mungkin tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukannya. Aku pun memanfaatkan moment ini untuk refreshing sebelum aku fokus pada skripsiku.

Malam itu, Jumat (23/8) kami akhirnya berkumpul di redaksiku. Aku dan Dhiny telah selesai packing. Salah satu dari teman kak Salam (seniorku di redaksi) memberi pengarahan kepada kami sebelum berangkat. Namanya kak David, namun dia lebih sering dipanggil Kak Mambo. Dai menyuruh kami membongkar semua barang-barang kami yang ada di tas. Awalnya kami tidak mau. Namun, dia memaksa dan katanya harus. Akhirnya, aku pun melakukannya. Membongkar semua isi tas.
Inilah persiapan bekal kami selama di Ramma
Kak Mambo tertawa melihat semua isi tas kami, “Sebenarnya kalian mau ke liburan ke rumah nenek atau mendaki gunung sih,” katanya sambil tertawa. Ya, maklum, ini adalah pengalaman pertama kali kami. Kami mana tahu, packing ala pendaki gunung itu seperti apa. Dan akhirnya, kak Mambo sendirilah yang membereskan pakaian dan semua perlangkapan kami.

Satu lagi pengalaman berharga yang aku dapatkan bahwa semua pakaian yang kita bawa itu, harus dipisah-pisah. Satu baju dan celana disatukan dalam kantong plastik. Selanjutnya diremuk-remuk (penyok-penyok) hingga tidak ada udara yang tersimpan di kantongan tersebut. Karena jika di daerah pegunungan, keadaannya bisa membuat pakaian lembab, dan basah. Makanya harus dimasukkan di dalam kantong plastik. Begitu pun dengan makanan, semuanya dikempeskan hingga tidak ada udara di dalamnya.

*** 

Pukul 23.00 Wita, kami beranggotakan 6 orang (4 cewek dan 2 cowok) akhirnya berangkat ke Malino. Dengan menempuh perjalanan ± 2 jam, akhirnya kami sampai di Malino. Suhu udara yang begitu dingin dan perut keroncongan, membuat kami berhenti sejenak sembari menikmati minuman hangat dan mengisi perut yang sejak dari tadi kelaparan. Selanjutnya, kami pun melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit menuju rumah tempat kami beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan keesokan harinya.
Makan malam sambil ngopi di deapan Pohon Pinus Malino

Pukul 03.00, kami pun tiba di rumah salah satu warga di desa Lembanna Kecamatan Tinggi Moncong Malino. Kami diterima baik di keluarga itu. Kata teman kami, ini sudah menjadi tempat langganan mereka sebelum mendaki. Mereka memanggilnya wanita pemilik rumah itu dengan sebutan “mamak”. Aku tidak sempat menanyakan nama asli wanita itu. Jadi, aku pun ikut-ikutan memanggilnya mamak. Mamak begitu baik kepada kami. Bukan cuma kami saja, tetapi semua pendaki diterima baik oleh beliau. dan bukan cuma keluarga mamak yang seperti itu, semua keluarga penduduk di desa Lembanna menyiapkan tempat istirahat untuk para pendaki gunung. Dan semuanya gratis, tidak dipungut biaya sepeserpun.

***

Pukul 06.00 aku terbangun dari tidurku. Suhu di Lembanna sangatlah dingin, aku sudah mengenakan pakaian yang tebal dan berlapis-lapis, tapi masih saja serasa menusuk-nusuk hingga ke tulang. Airnya serasa seperti es yang membuat wajah, tangan dan kakiku terasa keram. Tapi, tidak mengurungkan niatku untuk melakukan shalat subuh yang hampir saja aku lupa laksanakan.

Sehabis shalat subuh, aku pun memberanikan diri untuk keluar rumah. Saat aku membuka pintu, angin sejuk langsung menyambutku dengan kencangnya, hampir saja aku terjatuh karenanya. Udara di sini begitu segar dan terasa nikmat. Pemandangan yang hijau terbentang luas di sekitar rumah. Sangat berbeda dengan di Makassar yang penuh dengan udara kotor dan panas.

*** 

Pukul 10.00 kami pun berangkat untuk melakukan perjalanan ke lembah Ramma. Nmaun, sebelumnya, kami berkumpul membuat lingkaran dan berdoa, berharap perjalan kami menyenangkan dan kami bisa sampai dan pulang dengan selamat. Dengan penuh semangat dan senyum lebar di pipiku, aku melangkah dengan riangnya. Bukan aku saja yang terlihar riang, kelima temanku pun seperti itu. Suasana penuh semangat menyertai perjalanan kami.
berangkat ke Ramma

Foto di depan gerbang/pintu masuk menuju Ramma

Di sepanjang perjalanan, kami banyak menjumpai lahan perkebunan. Mayoritas masyarakat desa Lembanna adalah petani sayur. Ada banyak jenis-jenis sayuran seperti, tomat, lombok, daun bawang, kol, dan masih banyak lagi. Bukan hanya jenis sayur-sayuran, juga ada beberapa jenis buah-buahan seperti markisa dan strawberry.

Suasana di sini memang benar-benar indah dan menyegarkan. Aku bahkan tidak bosan-bosannya melihat dan memoto setiap pemandangan yang menarik. Pohon pinus yang menjulang tinggi begitu cantik. Namun, baru 10 menit perjalanan aku sudah merasakan capek. Napasku tidak beraturan, aku kelelahan dan juga keringatan. Begitu pun dengan Dhiny yang juga merupakan pendaki pemula. Jauh berbeda dengan kedua cewek dan kedua cowok teman kami. Mereka sudah terbiasa melakukan perjalanan seperti ini.




“Kak, istirahat sebentar, capek,” keluhku dengan kak Salam. “Ok, kita istirahat sebentar,” jawabnya. Sebenarnya, aku punya penyakit asma sejak kecil yang sering kambuh jika kelelahan. Selain itu, aku juga pernah lumpuh waktu kecil, dan sering kali kambuh ketika aku melakukan perjalanan jauh. Bahkan ke kampus yang hanya 800 meter dari asramaku, aku terkadang merasakan sakit yang luar biasa, apalagi melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tapi, semangatku yang membara, tidak mengurungkan niatku untuk tetap melanjutkan perjalanan ini.


nikmati segarnya air pengunungan










Kami kembali melanjutkan perjalanan. Untuk menambah semangatku, kami memanfaatkannya untuk berfoto-foto di setiap tempat-tempat menarik. Ya, tercipta sebagai gadis keren dan tergabung dalam aliansi “Gifo” alias gila foto, hanya foto yang membuatku bersemangat. Bahkan Kak Salam sering memotoku hanya untuk membuatku semangat. Dan memang ampuh, rasa lelah perlahan hilang. Apalagi setiap ada sungai kami selalu singgah untuk beristirahat. Jadi, rasa capeknya hilang perlahan-lahan.

Pukul 12.30 kami akhirnya tiba di puncak Talung. Di atas sini kami bisa melihat Lembah Ramma yang akan kami kunjungi. Selain itu, kita juga melihat air tenjun dan danau yang ada di dekat Lembah Ramma. Di sinilah leatk keindahan pemandangan, kita bisa melihat gunung-gungung yang mengelilingi Lembah Ramma. Makanya kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menikmati pemandangan di Talung.
Tiba di puncaknya Talung



Pukul 15.00 kami pun melanjutkan perjalanan. Karena posisi Talung adalah puncak, untuk menuju Lembah Ramma, semuanya adalah penurunan. Aku berusaha menahan berat badanku agar aku tidak terjatuh ke bawah. Karena kondisi tanahnya cukup terjal dan berbahaya. Sebenarnya ada jalan yang lumayan dekat agar bisa cepat sampai ke Lembah ramma, namun begitu terjal dan sangat berbahaya, apalagi aku dan Dhiny yang masih pemula. Makanya kami memutuskan untuk melewati jalan yang lain, meskipun sedikit memutar dan terbilang lebih jauh. Di sini bukan cepat atau lambatnya kita sampai di tujuan, yang terpenting adalah keselamatan diri kita semua.

Perjalanan kami sudah hampir sampai. Lembah Ramma sudah di depan mata. Aku sudah tidak sabar untuk cepat-cepat sampai. Dan akhirnya pukul 17.30 kami pun tiba di Lembah Ramma. Senang rasanya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Meskipun belum sepenuhnya. Masih ada perjalanan pulang nantinya.  Tapi, kami bersyukur, akhirnya kami bisa tiba dengan selamat. Alhamdulillah...
Tiba di Lembah Ramma



To Be Continue........


*Sumber foto : Me in Ramma' - Perjalanan Pergi



---JaneJamlu---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAN Mamuju Gelar Penerimaan Rapor di Tengah Pandemi dan Pasca Gempa

Foto Bersama Kepala MAN 1 Mamuju didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaa, Wali Kelas dan P...