Aku
adalah orang yang hobby banget jalan. Tempat-tempat di Makssar sudah hampir aku
jelajahi semua. Bagiku adalah pengalaman yang paling berharga. Banyak yang bisa
aku ceritakan lewat setiap perjalananku. Dan yang paling utama dari setiap
perjalananku, banyak juga foto dan video yang bisa aku publikasikan di dunia
maya.
Namun,
dari beberapa perjalanan yang pernah kulakukan, mendaki gunung adalah
perjalanan yang belum pernah aku lakukan. Tahun lalu aku gagal melakukan
perjalanan ini, lantaran aku masih KKN di Parepare. Namun, tahun ini, aku tidak
akan melewatkan kesempatan lagi untuk mendaki gunung.
***
Pagi
itu, salah satu temanku Dhiny mengatakan dia ingin ke Ramma Jumat ini bersama
salah satu seniorku di redaksi. Dai mengajakku untuk ikutan, namun aku menolak
karena aku ingin menghadiri rapat kerja di Baru. Hingga akhirnya aku pun
termakan rayuan temanku itu. Kapan lagi coba bisa melaukan perjalanan mendaki
gunung. Aku pun berpikir, jika aku tidak pergi sekarang, aku mungkin tidak akan
punya kesempatan lagi untuk melakukannya. Aku pun memanfaatkan moment ini untuk
refreshing sebelum aku fokus pada skripsiku.
Malam
itu, Jumat (23/8) kami akhirnya berkumpul di redaksiku. Aku dan Dhiny telah
selesai packing. Salah satu dari teman kak Salam (seniorku di redaksi) memberi
pengarahan kepada kami sebelum berangkat. Namanya kak David, namun dia lebih
sering dipanggil Kak Mambo. Dai menyuruh kami membongkar semua barang-barang
kami yang ada di tas. Awalnya kami tidak mau. Namun, dia memaksa dan katanya
harus. Akhirnya, aku pun melakukannya. Membongkar semua isi tas.
![]() |
| Inilah persiapan bekal kami selama di Ramma |
Kak
Mambo tertawa melihat semua isi tas kami, “Sebenarnya kalian mau ke liburan ke rumah
nenek atau mendaki gunung sih,” katanya sambil tertawa. Ya, maklum, ini adalah
pengalaman pertama kali kami. Kami mana tahu, packing ala pendaki gunung itu
seperti apa. Dan akhirnya, kak Mambo sendirilah yang membereskan pakaian dan
semua perlangkapan kami.
Satu
lagi pengalaman berharga yang aku dapatkan bahwa semua pakaian yang kita bawa
itu, harus dipisah-pisah. Satu baju dan celana disatukan dalam kantong plastik.
Selanjutnya diremuk-remuk (penyok-penyok) hingga tidak ada udara yang tersimpan
di kantongan tersebut. Karena jika di daerah pegunungan, keadaannya bisa
membuat pakaian lembab, dan basah. Makanya harus dimasukkan di dalam kantong
plastik. Begitu pun dengan makanan, semuanya dikempeskan hingga tidak ada udara
di dalamnya.
***
Pukul
23.00 Wita, kami beranggotakan 6 orang (4 cewek dan 2 cowok) akhirnya berangkat
ke Malino. Dengan menempuh perjalanan ± 2 jam, akhirnya kami sampai di Malino. Suhu
udara yang begitu dingin dan perut keroncongan, membuat kami berhenti sejenak
sembari menikmati minuman hangat dan mengisi perut yang sejak dari tadi
kelaparan. Selanjutnya, kami pun melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit menuju
rumah tempat kami beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan keesokan
harinya.
![]() |
| Makan malam sambil ngopi di deapan Pohon Pinus Malino |
Pukul
03.00, kami pun tiba di rumah salah satu warga di desa Lembanna Kecamatan
Tinggi Moncong Malino. Kami diterima baik di keluarga itu. Kata teman kami, ini
sudah menjadi tempat langganan mereka sebelum mendaki. Mereka memanggilnya wanita
pemilik rumah itu dengan sebutan “mamak”. Aku tidak sempat menanyakan nama asli
wanita itu. Jadi, aku pun ikut-ikutan memanggilnya mamak. Mamak begitu baik kepada kami. Bukan cuma kami saja, tetapi semua pendaki diterima baik oleh beliau. dan bukan cuma keluarga mamak yang seperti itu, semua keluarga penduduk di desa Lembanna menyiapkan tempat istirahat untuk para pendaki gunung. Dan semuanya gratis, tidak dipungut biaya sepeserpun.
***
Pukul
06.00 aku terbangun dari tidurku. Suhu di Lembanna sangatlah dingin, aku sudah
mengenakan pakaian yang tebal dan berlapis-lapis, tapi masih saja serasa
menusuk-nusuk hingga ke tulang. Airnya serasa seperti es yang membuat wajah,
tangan dan kakiku terasa keram. Tapi, tidak mengurungkan niatku untuk melakukan
shalat subuh yang hampir saja aku lupa laksanakan.
Sehabis
shalat subuh, aku pun memberanikan diri untuk keluar rumah. Saat aku membuka
pintu, angin sejuk langsung menyambutku dengan kencangnya, hampir saja aku
terjatuh karenanya. Udara di sini begitu segar dan terasa nikmat. Pemandangan yang
hijau terbentang luas di sekitar rumah. Sangat berbeda dengan di Makassar yang
penuh dengan udara kotor dan panas.
***
Pukul
10.00 kami pun berangkat untuk melakukan perjalanan ke lembah Ramma. Nmaun,
sebelumnya, kami berkumpul membuat lingkaran dan berdoa, berharap perjalan kami
menyenangkan dan kami bisa sampai dan pulang dengan selamat. Dengan penuh
semangat dan senyum lebar di pipiku, aku melangkah dengan riangnya. Bukan aku
saja yang terlihar riang, kelima temanku pun seperti itu. Suasana penuh
semangat menyertai perjalanan kami.
![]() |
| berangkat ke Ramma |
![]() |
| Foto di depan gerbang/pintu masuk menuju Ramma |
Di
sepanjang perjalanan, kami banyak menjumpai lahan perkebunan. Mayoritas masyarakat
desa Lembanna adalah petani sayur. Ada banyak jenis-jenis sayuran seperti,
tomat, lombok, daun bawang, kol, dan masih banyak lagi. Bukan hanya jenis
sayur-sayuran, juga ada beberapa jenis buah-buahan seperti markisa dan
strawberry.
Suasana
di sini memang benar-benar indah dan menyegarkan. Aku bahkan tidak
bosan-bosannya melihat dan memoto setiap pemandangan yang menarik. Pohon pinus
yang menjulang tinggi begitu cantik. Namun, baru 10 menit perjalanan aku sudah
merasakan capek. Napasku tidak beraturan, aku kelelahan dan juga keringatan. Begitu
pun dengan Dhiny yang juga merupakan pendaki pemula. Jauh berbeda dengan kedua
cewek dan kedua cowok teman kami. Mereka sudah terbiasa melakukan perjalanan
seperti ini.
“Kak,
istirahat sebentar, capek,” keluhku dengan kak Salam. “Ok, kita istirahat
sebentar,” jawabnya. Sebenarnya, aku punya penyakit asma sejak kecil yang
sering kambuh jika kelelahan. Selain itu, aku juga pernah lumpuh waktu kecil,
dan sering kali kambuh ketika aku melakukan perjalanan jauh. Bahkan ke kampus
yang hanya 800 meter dari asramaku, aku terkadang merasakan sakit yang luar
biasa, apalagi melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tapi, semangatku yang
membara, tidak mengurungkan niatku untuk tetap melanjutkan perjalanan ini.
![]() |
| nikmati segarnya air pengunungan |
Kami
kembali melanjutkan perjalanan. Untuk menambah semangatku, kami memanfaatkannya
untuk berfoto-foto di setiap tempat-tempat menarik. Ya, tercipta sebagai gadis
keren dan tergabung dalam aliansi “Gifo” alias gila foto, hanya foto yang
membuatku bersemangat. Bahkan Kak Salam sering memotoku hanya untuk membuatku
semangat. Dan memang ampuh, rasa lelah perlahan hilang. Apalagi setiap ada
sungai kami selalu singgah untuk beristirahat. Jadi, rasa capeknya hilang
perlahan-lahan.
Pukul
12.30 kami akhirnya tiba di puncak Talung. Di atas sini kami bisa melihat
Lembah Ramma yang akan kami kunjungi. Selain itu, kita juga melihat air tenjun
dan danau yang ada di dekat Lembah Ramma. Di sinilah leatk keindahan
pemandangan, kita bisa melihat gunung-gungung yang mengelilingi Lembah Ramma. Makanya
kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menikmati pemandangan di Talung.
![]() |
| Tiba di puncaknya Talung |
Pukul
15.00 kami pun melanjutkan perjalanan. Karena posisi Talung adalah puncak,
untuk menuju Lembah Ramma, semuanya adalah penurunan. Aku berusaha menahan
berat badanku agar aku tidak terjatuh ke bawah. Karena kondisi tanahnya cukup
terjal dan berbahaya. Sebenarnya ada jalan yang lumayan dekat agar bisa cepat
sampai ke Lembah ramma, namun begitu terjal dan sangat berbahaya, apalagi aku
dan Dhiny yang masih pemula. Makanya kami memutuskan untuk melewati jalan yang
lain, meskipun sedikit memutar dan terbilang lebih jauh. Di sini bukan cepat
atau lambatnya kita sampai di tujuan, yang terpenting adalah keselamatan diri
kita semua.
Perjalanan
kami sudah hampir sampai. Lembah Ramma sudah di depan mata. Aku sudah tidak
sabar untuk cepat-cepat sampai. Dan akhirnya pukul 17.30 kami pun tiba di
Lembah Ramma. Senang rasanya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Meskipun belum
sepenuhnya. Masih ada perjalanan pulang nantinya. Tapi, kami bersyukur, akhirnya kami bisa tiba dengan selamat. Alhamdulillah...
![]() |
| Tiba di Lembah Ramma |
---JaneJamlu---


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar