“Tujuh belas Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
MERDEKA...”
Di atas adalah kutipan lagu kemerdekaan
kita, kalian masih ingat kan? Hari ini rakyat Indonesia kembali menyambut
gembira Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-68. Kita sudah lama
menikmati kemerdekaan ini. Kemerdekaan yang telah dengan susah payah didapatkan
oleh para pejuang-pejuang kita. Namun, apakah kita pernah berpikir, bahwa
selama ini apa yang telah kita berikan untuk negeri kita ini.
Sebagai anak negeri kita dituntut
untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif. Kita tidak perlu ikutan
berjuang dan melalukan peperanga seperti yang telah dilakukan oleh pahlawan
kita. Kita cukup mempertahankan kemerdekaan ini dengan senantiasa menjaga
harkat dan martabat bangsa Indonesia tercinta. Jangan merusak kemerdekaan ini
dengan berperilaku di luar batas kewajaran. Jadi, sudah sepantasanya kita
sebagai anak bangsa tetap mengukir prestasi untuk Indonesia.
***
Sejak dinyatakan lulus di SMAN 1
Duampanua sebagai siswa “terkeren” empat tahun yang lalu, saya tidak pernah
lagi mengikuti yang namamnya upacara detik-detik Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia. Rindu rasanya berpanas-panasan di tengah lapangan bersama ribuan
pelajar lainnya. Meskipun selama upacara berlangsung, kami masih saja asyik
bercerita di belakang. Ya, namanya juga pelajar SMA, pasti masih nampak sifat
nakalnya, termasuk AKU. Hehehe.
Tujuh belasan kali ini termasuk
17-an pertamaku di Kota Daeng sejak lulus SMA. Karena selama ini aku selalu
17an di kampung halamanku Pinrang tercinta. Dan ternyata, 17an di kota jauh
berbeda dengan 17an di kampung. Ini sih menurut pendapatku ya. Acara 17an di
kampung jauh lebih ramai dan seru dibanding di kota Makassar.
Kalau di kampungku, sebelum hari H,
masyarakatnya telah mengadakan acara penyambutan seminggu sebelumnya. Kegiatannya
beraneka ragam, mulai olahraga sampai kesenian. Tapi, kalau di Makassar,
kegiatannya baru dilaksanakan di hari H nya saja. Itupun tidak seramai di
kampung. Mungkin jiwa nasionalisme masyarakat kampung jauh lebih besar daripada
masyarakat kota. Ya, ini lagi-lagi menurut pendapatku. Entah mau diterima atau
tidak. Toh, saya cuma berpendapat. Namanya juga merdeka, ya kita memiliki
kebebasan, termasuk kebebasan untuk berpendapat kan.
Teman-teman, merdeka bukan berarti
kita harus tenang-tenang duduk bersantai saja di rumah. Kita masih harus
mempertahankan negeri ini. Jangan sampai kita kembali dijajah oleh bangsa lain.
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini. Yang terpenting
adalah, kita bisa melakukan hal-hal positif yang tentunya bisa mengangkat nama
baik bangsa ini dan untuk mengharumkan nama Indonesia di kanca Internasioanal. Jangan
merusak jerih payah para pejuang kita dengan perbuatan kita yang mencoreng nama
baik negeri kita ini. Jadi, tetap berkarya untuk semua anak negeri! Salam
perjuangan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar