Setiap warga di sekitar tempat tnggalku punya giliran untuk membawakan hidangan berbuka puasa. Hari ini adalah giliran asrama putri Pinrang yang membawakan makanan untuk berbuka puasa di masjid kami. Bersama dengan seniorku, kami pun segera ke pasar untuk membeli makanan yang akan kami bawa ke masjid. Awalnya kami ingin membuat hidangan kue sendiri, tapi karena harga bahannya lumayan mahal dan waktu yang mepet, kami pun membatalkan niat kami.
Kami pun mencari jajanan kue di tempat lain. Di tengah perjalanan, seseorang dengan bertubuh tinggi, kekar dan berseragam coklat dengan rompi hijau menyala menghentikan kendaraan kami. Kami pun segera menepi untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Kami baru sadar, ternyata kami lupa pakai helm dan kami tak menyangka bakalan ada swiping sore itu. Kami memang salah, karena tidak memakai helm, lupa bawa STNK dan SIM. Hehe. Pak pilisi pun memberiku surat tilang dan katanya ini akan diselesaikan di pengadilan.
Aku teringat dengan kasus tilangku setahun yang lalu. Saat aku ditilang di perempatan di Jalan Jenderal Sudirman. Sesaat setelah aku pulang dari membeli kacamata baru. Ya, mungkin karena aku belum terbiasa dengan kacamata itu, akhirnya aku tidak melihat saat lampu merah menyala dan aku langsung menerobos. Hehe. Waktu itu, aku juga mendapat surat tilang dan katanya harus diselesaikan di pengadilan. Sempat merasa deg-degan, tapi akhirnya bisa diselesaikan dengan jalan damai. Ya, ternyata aku kena pasal 50ribu. Hehe.
Kembali ke persoalan tilangku sore ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wita. Itu artinya, tinggal sejam lebih waktu untuk berbuka puasa. tapi, kami belum membeli hidangan berbuka puasa lantaran terjebak dalam kasus tilang. Aku pun mencoba memutar otak mencari cara agar bisa dibebaskan dalam kasus tilang ini. Dengan measang tampang sok manis, aku pun mencoba merayu kedua polisi yang menilang kami. Alhasil, mereka tak termakan rayuanku. Mungkin karena aku terlalu keren jadi mereka tidak termakan rayuanku. Heheh
Aku pun mencari cara lain. Aku menuruh seniorku untuk merayunya. Kebetulan paras seniorku lebih cantik. Jadi, mungkin saja ini akan berhasil. Tapi, seniorku menolak untuk merayu kedua polisi itu. "Saya malas merayu mereka, mereka sudah tua-tua. Saya juga lagi puasa, takutnya puasanya makruh," katanya menolak. Aduh, seniorku itu memang sangat polos orangnya. Dia tidak mau merayu padahal selama ini dia jagonya.
Sesaat kemudian, pak polisi itu memanggilku untuk mengobrol. Sebenarnya, aku tahu maksud dari ajakan mereka. Ya, aku sih pura-pura tidak tahu alias bego-bego dikit. Hehe. Pak polisi itu kembali bertanya kepadaku. "Sebenarnya kalian mau kemana? kenapa tidak pakai helm?," tanyanya dengan senyum aneh. "Tadi kan saya sudah bilang pak, kami mau membeli makanan untuk berbuka puasa di masjid," jawabku. "Oww, beli kue ya. Kalau begitu kalian juga belikan kami kue untuk berbuka puasa ya," balasnya sambil memberikan kunci motor itu padaku.
Hahaha, tawaku dalam hati. Ternyata, pak polisi itu mau makanan berbuka puasa juga rupanya. Kami pun segera membelikan mereka kue dan es buah untuk berbuka puasa. dan totalnya sebesar Rp21ribu. Untung saja ini bulan Ramadhan, jadi kami bisa beramal dengan memberikan mereka hidangan berbuka puasa untuk mereka. Aku pun tidak berhenti tertawa melihat kejadian hari ini. Sore ini, aku kena tilang dengan pasal 21ribu. Aku membayar denda tilang dengan harga makana berbuka puasa senilai Rp21ribu. Hehe.
Namun, ada satu hal yang ku sesali sore ini. Kenapa, naluri kenarsisanku tidak muncul ya. Aku lupa minta foto bareng sama pak polisi. Ya, hitung-hitung nambah koleksi album foto di jejaring sosial. Kapan-kapan, kalau ditilang lagi, insya Allah, aku bakalan minta foto bareng sama pak polisi. Hehe
---Jane Jamlu---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar